Limbah kelapa di Pantai Lampuuk, Aceh, yang dulu menumpuk dan dibakar, kini berubah menjadi pakan ternak yang langsung menekan biaya produksi peternak. Program ini juga membantu mengurangi emisi dari pembakaran sampah organik yang sebelumnya terjadi di kawasan wisata tersebut.
PT Solusi Bangun Andalas memproses sekitar 60 ton limbah kelapa per bulan lewat inovasi sosial bernama Sakeladera. Hasil olahan sabut kelapa itu kemudian dijadikan cocopeat, lalu dimanfaatkan sebagai campuran pakan unggas.
Dari sampah pesisir menjadi bahan bernilai
Masalah awalnya sederhana tetapi berulang, yaitu sisa kelapa dari aktivitas pariwisata yang dibiarkan membusuk atau dibakar. Kondisi itu memicu persoalan lingkungan sekaligus menghasilkan emisi karbon yang disebut mencapai 34,8 ton CO2 per bulan.
Corporate Secretary Semen Indonesia Vita Mahreyni menjelaskan, pembakaran limbah tersebut mendorong perusahaan mencari cara agar sampah yang menumpuk bisa diubah menjadi sumber daya bernilai. Dari proses itu, manfaatnya tidak hanya terlihat pada kebersihan pantai, tetapi juga pada efisiensi biaya pakan.
Pemanfaatan cocopeat sebagai campuran pakan unggas mampu memangkas biaya pakan peternak lokal hingga 60 persen. Dampak ini terasa langsung di Lhoknga, Aceh, tempat peternak unggas selama ini bergantung pada suplai bahan baku dari luar daerah.
Peternak memangkas pengeluaran bulanan
Sebelum ada pakan alternatif dari olahan sabut kelapa, biaya pakan para peternak mencapai Rp 48 juta per bulan. Dengan skema baru ini, kelompok peternak unggas di Lhoknga bisa menghemat biaya produksi hingga Rp 28,2 juta setiap bulan.
Muhammad Ikhsan, peternak yang tergabung dalam Kelompok Usaha Puyuh Andalas, mengatakan sampah kelapa kini tidak lagi terbuang percuma karena bisa diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Skema ini sekaligus mengurangi ketergantungan peternak pada pasokan bahan baku dari luar daerah.
Kolaborasi warga, komunitas, dan perusahaan
Sakeladera mulai dijalankan PT Solusi Bangun Andalas sejak 2024 bersama Bank Sampah Generasi Milenial atau Basagemil sebagai mitra lokal. Kolaborasi itu memperkuat program pemberdayaan pesisir Sobat Si Abes yang sudah terbangun sejak 2022.
Perusahaan tidak hanya menyediakan mesin pengolah sampah kelapa menjadi cocopeat berkualitas. Mereka juga memberi edukasi, pendampingan, dan sosialisasi agar program diterima oleh masyarakat setempat.
Warga lokal terlibat di banyak tahap, mulai dari mengumpulkan limbah di area pantai, memilah, menggiling cocopeat, hingga menyalurkan hasil olahan ke pengguna. Rantai ini membuat sampah yang semula menjadi beban justru menciptakan aktivitas ekonomi baru di sekitar pantai.
Dampak lingkungan dan sosial yang terukur
Volume timbulan sampah kelapa di kawasan pantai turun dari 60 ton menjadi 20 hingga 24 ton per bulan. Pada saat yang sama, program ini menyerap 28 warga lokal sebagai pekerja produktif.
Hasil olahan juga dinyatakan aman setelah lolos pengujian laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri terkait kalsium dan protein. Dari sisi dampak sosial, program ini mencatat rasio Social Return on Investment atau SROI sebesar 2,5.
Artinya, setiap Rp 1 investasi menghasilkan Rp 2,5 manfaat bagi masyarakat. Vita Mahreyni menyebut Sakeladera sebagai bukti kepedulian perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat di Aceh, sekaligus bagian dari Sustainability Roadmap SIG 2030 yang menekankan perlindungan lingkungan dan penciptaan nilai untuk komunitas.







