Minat terhadap mobil LCGC di Indonesia masih besar, tetapi pembeli ternyata tidak selalu memilih varian paling murah. Data distribusi menunjukkan dua model dengan harga mendekati Rp 200 juta justru menjadi yang paling banyak diburu pada Januari-Mei 2026.
Di tengah pasar yang melemah, Toyota Calya 1.2 G M/T dan Honda Brio Satya E CVT sama-sama menembus distribusi di atas 8.000 unit. Pola ini memperlihatkan bahwa faktor harga murah bukan satu-satunya penentu di segmen mobil murah ramah lingkungan.
Duet Terlaris Bukan yang Paling Murah
Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo, Toyota Calya 1.2 G M/T menjadi model LCGC dengan distribusi tertinggi. Angkanya mencapai 8.828 unit sepanjang Januari-Mei 2026.
Posisi berikutnya ditempati Honda Brio Satya E CVT dengan 8.732 unit. Varian ini hanya terpaut tipis dari Calya, meski harganya menjadi yang paling tinggi di antara seluruh mobil LCGC yang dipasarkan di Indonesia.
| Model | Distribusi Januari-Mei 2026 | Harga |
|---|---|---|
| Toyota Calya 1.2 G M/T | 8.828 unit | Rp 178,8 juta |
| Honda Brio Satya E CVT | 8.732 unit | Rp 206,7 juta |
Fakta itu menunjukkan konsumen LCGC tidak hanya mengejar banderol terendah. Selama model dianggap sesuai kebutuhan, varian dengan harga yang lebih tinggi tetap bisa menjadi pilihan utama.
Pasar LCGC Masih Besar, Tetapi Menurun
Saat ini ada lima model yang bersaing di pasar LCGC Indonesia, yaitu Daihatsu Ayla, Daihatsu Sigra, Toyota Calya, Toyota Agya, dan Honda Brio Satya. Segmen ini masih banyak dibidik pembeli mobil pertama karena dianggap lebih terjangkau dibanding kelas lain.
Meski begitu, total penjualan lima model LCGC pada Januari-Mei 2026 tercatat 46.055 unit. Angka itu turun dari 59.737 unit pada periode yang sama sebelumnya, atau sekitar 23 persen.
Gambaran serupa terlihat dari retail sales. Penjualan retail LCGC pada Januari-Mei 2026 mencapai 48.754 unit, turun dari 58.506 unit pada Januari-Mei 2025.
Penurunan retail itu setara sekitar 17 persen. Artinya, pelemahan terjadi bukan hanya pada distribusi dari pabrikan ke dealer, tetapi juga pada penjualan langsung ke konsumen.
Mobil Listrik Di Bawah Rp 200 Juta Mulai Mengganggu
Pasar LCGC kini juga menghadapi tekanan baru dari mobil listrik yang harganya berada di bawah Rp 200 juta. Kehadiran produk di rentang ini membuat konsumen punya alternatif lain yang sebelumnya sangat identik dengan LCGC.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menilai masyarakat kini semakin selektif memilih kendaraan sesuai kebutuhan. Menurut dia, mobil listrik di bawah Rp 200 juta beririsan langsung dengan pasar LCGC, tetapi menawarkan kelebihan tertentu.
Salah satu keunggulan yang disorot adalah bebas aturan ganjil genap. Faktor ini dinilai menarik, terutama bagi masyarakat perkotaan seperti di Jakarta, karena memberi manfaat praktis dalam penggunaan harian.
Di tengah persaingan yang makin padat, data Januari-Mei 2026 menunjukkan LCGC belum kehilangan daya tarik. Toyota Calya 1.2 G M/T dan Honda Brio Satya E CVT tetap membuktikan bahwa konsumen Indonesia masih aktif memburu mobil murah ramah lingkungan, meski pilihannya tidak lagi berhenti pada varian paling murah.
