Akses modal yang lebih ringan kembali ditekan sebagai kebutuhan mendesak bagi pelaku usaha kecil di Jawa Tengah. Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, mendorong perluasan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dengan bunga terjangkau agar UMKM bisa berkembang tanpa terbebani biaya pembiayaan yang tinggi.
Di tengah keterbatasan modal yang masih menjadi hambatan utama, skema pembiayaan ringan dinilai bisa membuka ruang tumbuh yang lebih besar. Dorongan ini juga menempatkan UMKM sebagai sektor yang perlu dijaga karena perannya disebut sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
Modal Jadi Penghalang Utama
Menurut Saleh, banyak pelaku UMKM masih kesulitan meningkatkan kapasitas produksi, memperluas pasar, dan mengembangkan usaha karena modal yang terbatas. Kondisi itu membuat akses pembiayaan yang lebih mudah dijangkau menjadi salah satu kunci agar usaha kecil tidak berhenti di skala yang sama.
Ia menilai KUR berbunga rendah perlu terus diperkuat karena memberi peluang bagi pelaku usaha untuk tumbuh tanpa tekanan cicilan yang terlalu berat. Dalam pandangannya, perbankan juga perlu terus memperbesar dukungan melalui program pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.
UMKM Dituntut Punya Peluang Naik Kelas
Saleh, yang juga Ketua DPD Golkar Jateng, menegaskan bahwa penguatan akses pembiayaan bukan hanya soal menjaga usaha tetap berjalan. Jika modal makin terbuka, UMKM dinilai punya peluang lebih besar untuk naik kelas dan meningkatkan daya saing.
Ia juga menilai kontribusi UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi daerah akan semakin besar bila dukungan permodalan berjalan lebih luas. Karena itu, dorongan perluasan akses KUR disebut bukan sekadar bantuan pembiayaan, tetapi bagian dari upaya memperkuat struktur ekonomi daerah secara lebih luas.
Dengan dukungan kredit yang lebih terjangkau, pelaku UMKM di Jawa Tengah diharapkan dapat lebih leluasa mengembangkan usaha dan memperbesar skala bisnisnya. Pada saat yang sama, langkah ini juga dipandang memberi efek berantai pada daya saing dan kontribusi ekonomi di tingkat daerah.
