Kredit Bank Melonjak ke Rp8.918 Triliun, UMKM Mulai Bergerak Lagi

Penyaluran kredit perbankan kembali menguat pada Mei 2026, dengan pertumbuhan 11,51% secara tahunan menjadi Rp8.918 triliun. Laju ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 9,98% pada April 2026, menandakan intermediasi bank masih berjalan positif di tengah kebutuhan pembiayaan yang terus bergerak.

Data tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam Konferensi Pers RDK Bulanan Juni 2026, Selasa (7/7/2026). OJK melihat penguatan ini sebagai sinyal bahwa aliran dana ke dunia usaha dan rumah tangga tetap terjaga.

Kredit investasi memimpin pertumbuhan

Dari jenis pembiayaan, kredit investasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan paling tinggi, yakni 21,95% YoY. Kenaikan ini menunjukkan kebutuhan pendanaan untuk ekspansi usaha dan pengadaan aset masih kuat.

Di sisi lain, kredit konsumsi tumbuh 5,89% YoY dan kredit modal kerja naik 8,09% YoY. Pola pertumbuhan ini memperlihatkan kenaikan kredit terjadi cukup merata di sejumlah segmen pembiayaan.

Jenis KreditPertumbuhan YoYCatatan
Kredit Investasi21,95%Menjadi pertumbuhan tertinggi
Kredit Modal Kerja8,09%Masih tumbuh positif
Kredit Konsumsi5,89%Tetap menguat

Korporasi lebih cepat, UMKM mulai membaik

Berdasarkan kelompok debitur, kredit korporasi tumbuh paling ekspansif dengan laju 18,39% YoY. Sementara itu, kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM mulai menunjukkan perbaikan.

Kredit UMKM tumbuh 0,60% YoY, lebih tinggi dibandingkan 0,16% pada bulan sebelumnya. Meski masih tipis, OJK menilai pergerakan ini memberi sinyal awal pemulihan pada segmen yang selama ini menjadi fokus penting pembiayaan perbankan.

Kelompok DebiturPertumbuhan YoYPerkembangan
Korporasi18,39%Paling ekspansif
UMKM0,60%Membaik dari 0,16% pada bulan sebelumnya

Bank BUMN masih dominan

Jika dilihat dari kelompok bank, kredit yang disalurkan bank BUMN tumbuh paling tinggi, yaitu 15,98% YoY. Peran bank milik negara itu masih besar dalam mendorong pembiayaan ke sektor riil.

Momentum ini ikut memperkuat kenaikan kredit industri perbankan secara keseluruhan. OJK menilai kondisi tersebut penting untuk menjaga arus pembiayaan ke pelaku usaha dan rumah tangga.

Dana pihak ketiga ikut menguat

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga atau DPK tumbuh 13,49% YoY menjadi Rp10.294 triliun. Pertumbuhan ini ditopang giro yang naik 20,53% YoY, deposito 10,17% YoY, dan tabungan 10,21% YoY.

Pendanaan yang menguat memberi ruang lebih besar bagi bank untuk menyalurkan kredit. Dengan likuiditas yang terjaga, kemampuan perbankan untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan juga tetap kuat.

Komponen DPKPertumbuhan YoYNilai
DPK Total13,49%Rp10.294 triliun
Giro20,53%Tertinggi di antara komponen DPK
Deposito10,17%Menopang pertumbuhan dana
Tabungan10,21%Menambah likuiditas bank

Likuiditas, kualitas aset, dan modal masih solid

OJK menyebut kondisi likuiditas industri perbankan masih memadai. Rasio alat likuid terhadap non-core deposit atau AL/NCD berada di level 108,20%, sedangkan AL/DPK tercatat 24,78%.

Kedua rasio itu masih jauh di atas ambang batas masing-masing 50% dan 10%. Selain itu, Liquidity Coverage Ratio atau LCR juga berada di level 186,54%, yang menunjukkan bantalan likuiditas perbankan masih kuat.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan gross tercatat 2,17%, sementara NPL net berada di 0,84%. Rasio loan at risk juga membaik menjadi 8,72%.

Profitabilitas industri perbankan pun masih terjaga. Return on assets atau ROA berada di level 2,43%, sedangkan capital adequacy ratio atau CAR tercatat 23,74%.

Dengan kredit yang tumbuh lebih cepat, dana pihak ketiga yang menguat, serta likuiditas dan permodalan yang tetap solid, perbankan nasional masih berada dalam posisi aman untuk melanjutkan ekspansi pembiayaan. Kondisi ini menjadi modal penting bagi bank dalam menjaga pertumbuhan usaha dan merespons kebutuhan kredit di berbagai segmen debitur.

Source: finansial.bisnis.com
Terkait