
Kredit investasi perbankan justru menjadi yang paling cepat tumbuh di tengah ekonomi yang belum sepenuhnya memberi sinyal sehat. Pada Maret 2026, Bank Indonesia mencatat pertumbuhannya mencapai 20,85 persen secara tahunan, jauh di atas kredit modal kerja dan kredit konsumsi.
Lonjakan itu terjadi saat ketegangan konflik Timur Tengah masih membayangi sentimen global. Di saat yang sama, kredit perbankan secara keseluruhan tetap naik 9,49 persen, sedikit lebih tinggi dari Februari yang sebesar 9,37 persen.
Ekspansi yang mengarah ke aset, bukan operasional
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance, Tauhid Ahmad, menilai pola ini menunjukkan dunia usaha sedang lebih berhati-hati. Ketika kondisi ekonomi belum pasti, pelaku usaha cenderung memilih menaruh dana pada aset tetap daripada menambah modal kerja.
Menurut Tauhid, keputusan itu juga muncul karena perusahaan ingin menjaga dana agar tidak menganggur. Ia melihat investasi lebih banyak mengalir ke bangunan dan aset tetap, padahal modal kerja dibutuhkan untuk bahan baku, biaya tenaga kerja, dan bahan penolong.
Masalahnya, komposisi investasi seperti itu belum ideal bagi struktur ekonomi nasional. Tauhid menilai aliran investasi masih lebih banyak menuju sektor jasa dan ritel dibanding manufaktur.
Ia mendorong pemerintah agar lebih kuat mengarahkan kredit ke pembangunan pabrik dan industri pengolahan. Menurut dia, penguatan sektor produksi akan memberi dampak yang lebih besar bagi ketahanan ekonomi jangka panjang.
Hilirisasi ikut jadi motor pertumbuhan
Ekonom Center of Reform on Economics, Yusuf Rendy Manilet, melihat ada dorongan lain yang ikut mengangkat kredit investasi. Proyek hilirisasi nikel dan tembaga disebut membutuhkan pembiayaan besar karena sifatnya padat modal.
Yusuf menilai proyek-proyek itu menjadi motor utama pertumbuhan kredit investasi. Ia juga melihat likuiditas perbankan yang masih longgar ikut membuka ruang penyaluran kredit di tengah peluang relokasi industri dari negara lain ke Indonesia.
Namun, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan investasi belum sepenuhnya diikuti penguatan produksi riil. Kredit modal kerja hanya tumbuh 4,38 persen, yang menurutnya menunjukkan dunia usaha masih menahan ekspansi operasional.
Bagi Yusuf, kondisi tersebut menandakan sikap wait and see masih kuat. Perusahaan tampak lebih siap membangun kapasitas daripada menjalankan produksi secara agresif.
Sinyal campuran bagi ekonomi riil
Di balik pertumbuhan kredit investasi yang kencang, kredit konsumsi juga masih tumbuh 5,88 persen pada Maret 2026. Angka itu menunjukkan permintaan dari rumah tangga belum hilang, tetapi lajunya tidak sekuat pembiayaan investasi.
Yang menjadi perhatian utama tetap pada arah penyaluran dana. Jika kredit lebih banyak masuk ke aset dan proyek besar, sementara modal kerja tertahan, pemulihan ekonomi bisa bergerak tidak seimbang.
Yusuf menilai dorongan pertumbuhan kredit tidak cukup bila tidak mengalir ke aktivitas ekonomi riil. Ia menekankan pembiayaan perlu benar-benar masuk ke sektor yang mampu memperluas kesempatan kerja.
UMKM masih tertinggal dari arus pembiayaan
Di sisi lain, kredit untuk segmen UMKM masih menjadi pekerjaan rumah besar. Segmen ini dinilai tetap berisiko tinggi, meski perannya penting dalam penciptaan lapangan kerja di Indonesia.
Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit secara keseluruhan pada 2026 akan terjaga di kisaran 8 hingga 12 persen. Proyeksi itu bergantung pada dinamika permintaan domestik dan kesiapan perbankan dalam menyalurkan pembiayaan.
Di tengah angka yang terlihat kuat, pertanyaan besarnya bukan hanya seberapa cepat kredit tumbuh. Yang lebih penting adalah apakah aliran dana itu benar-benar memperkuat produksi, memperluas kerja, dan membuat ekonomi bergerak lebih sehat dalam jangka panjang.





