Korban Diduga Dicabuli Ayah Kandung di Batang Hilang Saat Hendak Visum

Kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan remaja putri berinisial NSN, 17, di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menyisakan persoalan baru. Korban dilaporkan hilang tepat saat hendak menjalani pemeriksaan visum di RSUD Kalisari Batang.

Situasi ini membuat proses penanganan perkara ikut tersendat karena keberadaan korban dinilai penting untuk penguatan pembuktian. Polisi kini masih melakukan pencarian sambil menunggu hasil pemeriksaan medis yang dibutuhkan dalam penyidikan.

Pencarian korban masih berlangsung

Kepala Satuan Reskrim Polres Batang AKP Sudaryono mengatakan pihaknya sudah menerima laporan hilangnya korban. Menurut dia, penyidik tetap melanjutkan penanganan kasus dugaan pelecehan seksual itu dan menunggu hasil visum dari rumah sakit.

Dalam perkara seperti ini, visum menjadi salah satu unsur penting untuk melengkapi laporan dan memperjelas dugaan tindak pidana yang terjadi. Karena itu, hilangnya korban saat proses medis akan dijalani membuat aparat harus mengutamakan pencarian terlebih dahulu.

Laporan keluarga dan kronologi awal

Ibu korban, TN, menyebut anaknya kabur dari rumah dan datang menemuinya karena sudah tidak tahan diduga dicabuli oleh ayah kandungnya sendiri, ZA. TN kemudian pulang ke Batang dan membuat laporan pada 30 Mei 2026 serta 8 Juni 2026.

TN juga mengatakan bahwa ia kembali melaporkan hilangnya anaknya ke polisi. Langkah itu dilakukan karena keberadaan NSN dianggap sangat penting untuk melanjutkan penanganan perkara yang sedang berjalan.

Pendamping hukum soroti dampak hilangnya korban

Kuasa hukum korban, Zaenudin dan Didik Pramono, menilai hilangnya NSN menjadi perhatian serius karena bisa menghambat proses hukum. Mereka meminta polisi segera menemukan korban agar perkara tidak berhenti di tengah jalan.

Zaenudin menegaskan bahwa keterangan korban sangat penting dalam pembuktian kasus ini. Dalam dugaan kekerasan seksual, pernyataan korban dan hasil pemeriksaan medis kerap saling menguatkan dalam proses penyidikan.

Kenapa visum krusial dalam kasus ini

Visum biasanya dipakai untuk membantu penyidik menguatkan temuan awal dalam dugaan kekerasan seksual. Jika korban tidak hadir saat pemeriksaan medis, proses pembuktian tentu menjadi lebih sulit dan membuat pencarian korban menjadi prioritas.

Kasus ini memperlihatkan kerentanan korban kekerasan seksual di lingkup keluarga, terutama ketika pelaku diduga berasal dari orang terdekat. Dalam situasi seperti ini, pendampingan keluarga, kuasa hukum, dan kepolisian menjadi sangat penting agar korban tetap terlindungi dan proses hukum tetap berjalan sesuai prosedur.

Source: mediaindonesia.com

Terkait