PT Zurich General Takaful Indonesia atau Zurich Syariah mencatat kontribusi bruto lebih dari Rp300 miliar hingga Mei 2026. Angka ini tumbuh 17% secara tahunan, ketika pergerakan kontribusi industri asuransi syariah sempat mengalami tekanan pada awal tahun.
Asuransi kendaraan bermotor menjadi penopang terbesar dalam portofolio perusahaan. Lini ini menunjukkan bahwa kebutuhan perlindungan terhadap aset yang digunakan sehari-hari masih menjadi pendorong penting bagi pertumbuhan bisnis Zurich Syariah.
Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah kondisi pasar yang tidak bergerak seragam. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperlihatkan kontribusi industri asuransi syariah sempat turun tajam pada Januari dan Februari 2026 sebelum kembali meningkat pada Mei.
Zurich Syariah menilai meningkatnya kebutuhan perlindungan dan membaiknya aktivitas ekonomi menjadi dua faktor yang mendukung kinerjanya. Perusahaan juga melihat ruang ekspansi masih terbuka karena penetrasi asuransi syariah di Indonesia masih rendah.
Kendaraan Menjadi Kontributor Terbesar
Perusahaan belum memerinci nilai kontribusi yang berasal dari asuransi kendaraan bermotor. Namun, lini tersebut disebut sebagai kontributor bruto terbesar hingga Mei 2026.
Presiden Direktur Zurich Syariah Hilman Simanjuntak mengatakan peluang pertumbuhan tetap tersedia hingga akhir tahun. Menurut dia, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap perlindungan asuransi dapat memperluas pasar produk berbasis syariah.
“Zurich Syariah melihat peluang pertumbuhan masih terbuka hingga akhir tahun, didukung oleh rendahnya penetrasi asuransi syariah dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan asuransi,” ujar Hilman, seperti dikutip Bisnis.com pada Rabu (22/7/2026).
Untuk menangkap peluang tersebut, Zurich Syariah akan memperkuat kerja sama distribusi guna memperluas jangkauan pasar. Perusahaan juga menyiapkan peningkatan layanan nasabah serta program literasi asuransi.
Kontribusi Industri Sempat Berfluktuasi
Pergerakan kontribusi industri asuransi syariah sepanjang 2026 menunjukkan perubahan yang cukup tajam. Januari mencatat tekanan terdalam, sedangkan nilai kontribusi pada Mei telah meningkat berdasarkan data yang tercantum dalam RDKB Juni 2026.
| Periode | Kontribusi Industri | Pertumbuhan Tahunan |
|---|---|---|
| Januari 2026 | Rp2,08 triliun | -44,77% |
| Februari 2026 | Rp3,57 triliun | -28,83% |
| Mei 2026 | Rp9,15 triliun | 18,10% |
OJK mencatat kontribusi industri asuransi syariah pada Mei 2026 sebesar Rp9,15 triliun dengan pertumbuhan 18,10% secara tahunan. Namun, keterangan data yang sama juga menyebut nilai Mei 2026 turun 18% secara tahunan dibandingkan Rp11,17 triliun pada Mei 2025.
Perbedaan keterangan pertumbuhan itu membuat pembacaan data industri perlu dilakukan secara hati-hati. Pelaku usaha tidak hanya perlu memantau nominal kontribusi, tetapi juga daya beli masyarakat dan risiko yang berkembang di pasar.
Ekonomi dan Bencana Tetap Dipantau
Zurich Syariah masih mencermati kondisi ekonomi nasional, risiko bencana alam, serta dinamika pasar global hingga akhir 2026. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi kebutuhan perlindungan sekaligus profil risiko perusahaan asuransi.
Hilman menyatakan perusahaan tetap optimistis terhadap prospek sektor ini. “Namun, kami tetap optimistis terhadap prospek asuransi syariah hingga akhir 2026, seiring besarnya potensi pasar dan meningkatnya pemahaman masyarakat akan pentingnya perlindungan keuangan berbasis syariah,” tegasnya.
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia juga memandang outlook industri hingga akhir 2026 tetap positif. Prospek tersebut bergantung pada daya beli yang terjaga, aktivitas ekonomi yang bergerak, dan ekosistem keuangan syariah yang terus berkembang.
Dengan asuransi kendaraan bermotor sebagai fondasi kontribusi terbesar, Zurich Syariah menempatkan distribusi, layanan, dan literasi sebagai fokus berikutnya. Strategi ini akan menentukan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan potensi pasar perlindungan berbasis syariah yang masih luas.
