Dika Tak Pernah Merasa Cukup bagi Ibunya, Konflik Ari Irham di Film Baru

Author: Cung Media

Dika tumbuh dengan perasaan bahwa apa pun yang ia lakukan tidak pernah cukup di mata ibunya. Luka itu menjadi inti perjalanan karakter yang diperankan Ari Irham dalam Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis.

Di rumah, Dika berhadapan dengan Dini, ibu tunggal yang menerapkan aturan ketat untuk anaknya. Dika melihat aturan itu sebagai tekanan, sedangkan Dini meyakininya sebagai bentuk perlindungan dan kasih sayang.

Perbedaan cara memahami cinta membuat hubungan ibu dan anak tersebut terus berada dalam ketegangan. Perasaan yang tidak tersampaikan pun berpotensi memperlebar jarak di antara keduanya.

Kasih Sayang yang Diterjemahkan Berbeda

Dini menjalani perannya sebagai ibu tunggal dengan keinginan kuat untuk menjaga masa depan Dika. Namun, cara yang dipilihnya membuat Dika sulit merasa bebas menjadi dirinya sendiri.

Dika memandang keluarganya dari sudut yang berbeda karena ia merasa selalu kurang di hadapan sang ibu. Benturan itu memengaruhi cara keduanya memandang keluarga sekaligus arah hidup yang ingin ditempuh Dika.

Konflik tersebut tidak hanya menempatkan Dini sebagai sosok yang keras dan Dika sebagai anak yang memberontak. Cerita film ini memperlihatkan bagaimana rasa sayang dapat terasa berbeda ketika komunikasi dalam keluarga dipenuhi salah paham.

Radit Membuka Cara Pandang Baru

Di tengah persoalan di rumah, Dika bertemu Radit yang diperankan Ariyo Wahab. Kehadiran Radit memberi Dika bimbingan untuk melihat masa depan dan pilihan hidupnya dari perspektif lain.

Radit juga membantu Dika memahami keluarga dalam pengertian yang lebih luas. Dari hubungan itu, Dika mendapat dorongan untuk menatap masa depan serta berani menentukan langkahnya sendiri.

Perjalanan bersama Radit menjadi bagian penting dalam pencarian jati diri Dika. Ia mulai memiliki ruang untuk mempertimbangkan keinginannya tanpa terus terjebak pada keyakinan bahwa dirinya selalu gagal memenuhi harapan ibunya.

Mimpi Musik Bersama Sans Band

Selain menghadapi persoalan keluarga, Dika menyimpan mimpi di dunia musik. Ia mengejar keinginan itu bersama Angga, Emil, dan Marco dalam Sans Band.

Musik menjadi ruang bagi Dika untuk membangun keberanian saat konflik pribadinya belum selesai. Perjuangan bersama rekan-rekan bandnya juga memperlihatkan upayanya mencari identitas dan arah hidup sendiri.

Ari Irham menghadapi tantangan tersendiri saat membawakan lagu-lagu legendaris milik Sheila On 7 untuk film ini. Lagu-lagu tersebut sudah akrab bagi pendengar, sehingga tuntutan untuk membawakannya terasa lebih besar.

Menurut Suara.com, Ari Irham mengatakan tekanan yang ia rasakan bukan semata karena membawakan lagu untuk soundtrack film. “Pressure-nya itu bukan bawain OST filmnya, tapi masalahnya ini bawain lagu Sheila On 7,” ujarnya saat ditemui di kawasan Kuningan.

Ia menilai membawakan lagu yang telah dikenal banyak orang menjadi beban tersendiri, terutama karena dirinya bukan vokalis. “Kita bawain lagu yang orang sudah tahu. Itu lumayan cukup beban buat saya karena saya juga bukan vokalis, saya bukan Duta,” lanjut Ari Irham.

Melalui konflik Dika dan Dini, film ini menggabungkan drama keluarga, pencarian jati diri, serta perjuangan anak band dalam satu cerita. Kisah tersebut menyoroti pentingnya keberanian mengungkapkan perasaan sebelum salah paham berubah menjadi jarak yang semakin sulit dijembatani.

Source: www.suara.com
Terbaru