
Keributan di jalan bisa meledak hanya karena bunyi klakson. Kasus viral di Jalan Alternatif Cibubur-Cileungsi, Gunungputri, Kabupaten Bogor, menunjukkan bagaimana alat keselamatan yang sederhana dapat berubah jadi pemicu konflik saat emosi mengambil alih.
Dalam rekaman yang beredar, seorang pria tampak mengamuk di pinggir jalan, memaki sopir yang tetap berada di kursi pengemudi, lalu berujung pada dugaan pemukulan, ancaman, dan perusakan mobil. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa respons di jalan sering kali lebih menentukan daripada sumber masalah awalnya.
Polisi sudah membenarkan kejadian tersebut. Kapolsek Gunung Putri Kompol Aulia Robby Kartika Putra menyebut korban dalam video itu telah membuat laporan polisi, sementara pelaku masih dalam penyelidikan.
Menurut keterangan polisi, insiden terjadi di Jalan Alternatif Cibubur, Desa Nagrak, Kecamatan Gunung Putri, pada Minggu sekitar pukul 00.33 WIB. Pelaku disebut turun dari kendaraannya seorang diri lalu langsung melakukan penganiayaan dan perusakan terhadap mobil korban.
Robby menjelaskan pelapor dipukul menggunakan tangan kanan mengepal sebanyak dua kali ke arah bibir. Setelah itu, pelaku kembali memukul ke arah rahang sebelah kanan korban sebanyak dua kali.
Tidak berhenti di situ, kerusakan juga dilaporkan terjadi pada kendaraan korban. Spion kanan dipukul tiga kali, wiper depan sebelah kanan dipatahkan, pintu depan sebelah kanan ditendang satu kali, dan bumper belakang juga ditendang satu kali.
Dalam video viral, pria di luar mobil juga terdengar terus berteriak. Ia bahkan sempat mengatakan akan menembak sopir sebelum rekaman berakhir saat sopir meninggalkan lokasi dan melanjutkan perjalanan.
Klakson dan fungsi dasarnya di jalan
Kasus ini menyoroti satu hal penting yang kerap dilupakan pengemudi, yaitu klakson bukan alat untuk menekan, menantang, atau meluapkan kekesalan. Fungsinya justru mendasar dalam keselamatan berkendara, yakni sebagai alat komunikasi untuk memberi tahu pengguna jalan lain tentang potensi bahaya atau perubahan manuver.
Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia, Sony Susmana, menegaskan bahwa fungsi utama klakson adalah berkomunikasi. Komunikasi itu ditujukan untuk memperingatkan adanya bahaya atau memberi isyarat ketika pengemudi akan mengubah aktivitas berkendara.
Sony mencontohkan perubahan aktivitas itu bisa terjadi saat kendaraan dari posisi berhenti mulai berjalan. Dalam konteks ini, klakson dipakai untuk meminimalkan risiko di jalan, bukan untuk menunjukkan kemarahan kepada pengendara lain.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan klakson memiliki etika. Pengemudi tidak seharusnya membunyikan klakson sedikit-sedikit, meski klakson tetap boleh digunakan ketika tujuannya jelas untuk memberi peringatan adanya bahaya.
Pandangan serupa juga dijelaskan dalam laman defensive driving. Klakson disebut sebagai alat komunikasi antarpengendara yang bertujuan untuk keselamatan, bukan sarana meluapkan emosi, terutama saat lalu lintas padat dan pengemudi sedang terburu-buru.
Saat klakson memang diperlukan
Penggunaan klakson secara bijak tetap diperlukan dalam situasi tertentu. Salah satunya ketika ada pengendara lain yang hendak memotong jalur atau mengambil lajur dalam posisi membahayakan.
Dalam keadaan seperti itu, bunyi klakson berfungsi sebagai isyarat darurat untuk memberi tahu posisi kendaraan. Tujuannya sederhana, yakni menghindari benturan yang bisa terjadi dalam hitungan detik.
Klakson juga dibenarkan saat kendaraan memasuki area titik buta atau blind spot. Contohnya ketika melewati tikungan tajam atau ruas jalan dengan pandangan yang tertutup pohon maupun bangunan.
Di lokasi seperti itu, klakson dipakai sebagai penanda bagi kendaraan dari arah berlawanan yang tidak terlihat. Isyarat singkat ini bisa menjadi peringatan awal sebelum kedua kendaraan saling mendekat.
Situasi lain adalah saat pengemudi hendak menyalip kendaraan di depan. Klakson dapat digunakan sebagai tanda, tetapi tidak boleh dibunyikan terus-menerus karena mudah memancing emosi pengguna jalan lain.
Klakson juga bisa dipakai untuk memperingatkan pejalan kaki yang menghalangi jalan atau berjalan terlalu dekat dengan mobil. Namun cara membunyikannya harus tetap hati-hati, cukup sekali dengan nada singkat dan pelan agar tidak membuat orang kaget atau merasa diintimidasi.
Pelajaran dari emosi yang meledak di jalan
Keributan di Gunungputri menunjukkan bahwa persoalan kecil di jalan dapat berubah menjadi tindak kekerasan. Saat emosi memuncak, klakson yang seharusnya bersifat fungsional justru bisa ditafsirkan sebagai tantangan.
Karena itu, etika penggunaan klakson menjadi bagian penting dari budaya berkendara aman. Klakson perlu dipakai seperlunya, pada momen yang tepat, dan hanya untuk tujuan keselamatan.
Di sisi lain, respons terhadap bunyi klakson juga perlu ditempatkan secara proporsional. Bunyi klakson pada dasarnya adalah sinyal peringatan di ruang lalu lintas, bukan alasan untuk turun dari kendaraan, menyerang orang lain, atau merusak properti di jalan umum.
Source: oto.detik.com




