Sektor keuangan muncul sebagai penyerapan terbesar bagi alumni Magang Nasional atau MagangHub. Data evaluasi Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bidang ini paling banyak memberi tawaran kerja setelah peserta menyelesaikan masa magang.
Temuan itu memperlihatkan bahwa program magang bukan hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga jalur masuk ke pekerjaan nyata. Di antara sektor yang tercatat, keuangan berada di posisi teratas, melampaui perdagangan grosir, manufaktur, kesehatan, dan akomodasi.
Keuangan unggul atas sektor lain
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menyampaikan data tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di kompleks parlemen Senayan, Jakarta. Ia menjelaskan bahwa penawaran kerja kepada alumni magang tersebar di beberapa sektor utama, tetapi kontribusi terbesar datang dari keuangan.
Berdasarkan catatan Kemenaker, sektor keuangan menyerap 23,4% alumni Magang Nasional 2025. Angka itu menempatkannya di atas perdagangan grosir yang menyerap 17,9% peserta dan manufaktur dengan 16,5%.
| Sektor | Persentase Penyerapan | Keterangan |
|---|---|---|
| Keuangan | 23,4% | Terbesar |
| Perdagangan Grosir | 17,9% | Posisi berikutnya |
| Manufaktur | 16,5% | Masuk tiga besar |
| Kesehatan | 10,3% | Kontributor tambahan |
| Akomodasi | 5,2% | Kontributor tambahan |
Peluang kerja tidak berhenti di satu industri
Selain tiga sektor terbesar itu, kesehatan juga tercatat menyerap 10,3% alumni, sedangkan akomodasi memberi kontribusi 5,2%. Pola tersebut menunjukkan penyerapan terjadi lintas industri, meski keuangan tetap menjadi tujuan paling kuat bagi peserta yang mendapat tawaran kerja.
Afriansyah menyebut sekitar 30% peserta Magang Nasional langsung diterima bekerja di perusahaan tempat mereka menjalani magang selama enam bulan. Ia mengatakan, “anak-anak magang yang kita siapkan, itu rata-rata 30 persen setelah magang, diterima di perusahaan tempat mereka bekerja.”
Sebagian masih menunggu proses rekrutmen
Kemenaker juga mencatat 34% alumni belum menerima tawaran kerja langsung, tetapi sudah mendapat sinyal akan direkrut. Sementara itu, 36% peserta lainnya belum memperoleh penawaran kerja setelah program berakhir.
Data tersebut menunjukkan hasil yang tidak seragam di semua peserta, namun jalur transisi dari magang ke kerja tetap terlihat jelas. Bagi banyak peserta, program ini membuka kesempatan untuk masuk ke perusahaan yang sama atau setidaknya mendapat peluang rekrutmen lanjutan.
Arah Magang Nasional berikutnya
Untuk penyelenggaraan Magang Nasional 2026 atau angkatan kedua, Kemenaker menargetkan 150.000 peserta yang dibagi dalam tiga gelombang. Pemerintah juga menyebut akan memperluas pemerataan wilayah dan bidang magang agar akses peserta lebih seimbang.
Selain itu, Kemenaker menyiapkan sertifikasi bagi seluruh peserta dan memperkuat sistem pemantauan serta evaluasi program. Perbaikan dilakukan sejak awal pelaksanaan hingga pelacakan hasil pascaprogram agar kualitas penyelenggaraan dan mentor dapat terus dipantau.
Dengan komposisi itu, program magang nasional tetap diposisikan sebagai pintu masuk kerja yang konkret, terutama di sektor keuangan yang paling banyak menyerap alumni. Hasil evaluasi Kemenaker juga memberi gambaran bahwa peluang kerja setelah magang tidak hanya bergantung pada satu industri, tetapi pada kesiapan peserta dan kebutuhan perusahaan di berbagai bidang.
