Dolar AS Menguat, Emas Terkoreksi dari Puncak Dua Pekan

Author: Cung Media

Penguatan dolar AS kembali menekan emas dunia pada perdagangan Senin, meski penurunannya kali ini tidak sedalam yang sempat diperkirakan pasar. Di saat yang sama, data tenaga kerja AS mulai memberi sinyal perlambatan sehingga investor belum sepenuhnya meninggalkan emas sebagai aset lindung nilai.

Harga emas spot turun 0,3 persen menjadi 4.163,64 dollar AS per ons setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni. Namun, kontrak emas berjangka AS pengiriman Agustus justru naik 1 persen ke 4.167,50 dollar AS per ons.

Dolar yang lebih kuat menahan laju emas

Indeks dollar AS yang naik sekitar 0,1 persen menjadi tekanan utama bagi logam mulia itu. Jim Wyckoff, Analis Pasar American Gold Exchange, mengatakan indeks dollar AS yang sedikit lebih tinggi menjadi faktor negatif bagi emas dalam perdagangan harian.

Kenaikan greenback juga membuat emas lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat. Dampaknya, minat beli di pasar logam mulia ikut tertekan pada sesi perdagangan tersebut.

Meski begitu, koreksi emas tidak melebar karena pasar membaca data ekonomi terbaru AS sebagai tanda pelambatan. Ekspansi lapangan kerja Juni dilaporkan melambat tajam, disertai revisi penurunan angka dua bulan sebelumnya.

Pasar menunggu petunjuk baru dari The Fed

Perlambatan pasar tenaga kerja itu membuat pelaku pasar memangkas proyeksi kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Dalam kondisi seperti itu, emas masih mendapat sokongan karena investor menilai tekanan suku bunga agresif belum sepenuhnya menguat.

Emas biasanya diuntungkan saat inflasi atau ketidakpastian meningkat, tetapi kebijakan pengetatan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik aset tanpa imbal hasil. Karena itu, arah kebijakan moneter tetap menjadi faktor kunci bagi pergerakan harga emas.

Fokus pasar kini tertuju pada risalah pertemuan kebijakan moneter bank sentral yang dijadwalkan terbit pada Rabu. Wyckoff menilai pelaku pasar akan mencari petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan moneter AS, dan setiap kejutan dari risalah itu berpotensi menggerakkan pasar.

Indikator CME FedWatch Tool menunjukkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan pada bulan September berada di sekitar 57 persen. Angka itu memperlihatkan investor masih melihat peluang pengetatan lanjutan, meski tidak sekuat sebelumnya.

Reli emas masih punya ruang, tapi tidak tanpa batas

Di tengah volatilitas jangka pendek, proyeksi menengah untuk emas masih memberi ruang kenaikan. J.P. Morgan memperkirakan serapan pasar dari sektor-sektor utama kemungkinan tidak akan sekuat perkiraan awal.

Bank investasi itu menilai skenario tersebut akan membatasi reli harga emas tahun ini di kisaran 4.300 dollar AS per ons pada kuartal III dan 4.500 dollar AS per ons pada kuartal IV. Artinya, emas masih punya peluang naik, tetapi tetap dibayangi tekanan dolar dan arah suku bunga.

Aset Pergerakan Harga
Emas spot Turun 0,3 persen 4.163,64 dollar AS per ons
Emas berjangka AS Agustus Naik 1 persen 4.167,50 dollar AS per ons
Perak spot Turun 0,3 persen 62,17 dollar AS per ons
Platinum spot Turun 0,4 persen 1.630,86 dollar AS per ons
Palladium spot Naik 0,1 persen 1.275,43 dollar AS per ons

Tekanan serupa juga terasa pada logam mulia lain. Perak spot turun 0,3 persen ke 62,17 dollar AS per ons setelah sempat mencapai level tertinggi sejak 23 Juni, sementara platinum spot terkoreksi 0,4 persen menjadi 1.630,86 dollar AS per ons dan palladium naik tipis 0,1 persen ke 1.275,43 dollar AS per ons.

Pergerakan campuran itu menunjukkan pasar logam mulia masih bergerak dalam bayang-bayang penguatan dolar dan arah kebijakan moneter AS. Selama dua faktor tersebut belum memberi sinyal yang lebih jelas, harga emas berpotensi tetap bergerak naik-turun dalam rentang yang ketat.

Terbaru