Kenaikan permukaan laut kini menjadi ancaman baru bagi mangrove, ekosistem pesisir yang selama ini diandalkan sebagai pelindung alami sekaligus penyerap karbon. Temuan terbaru menunjukkan bahwa dalam kondisi tertentu, kemampuan mangrove menyimpan karbon bisa melemah dan bahkan berbalik menjadi sumber emisi.
Ancaman ini penting bagi Indonesia karena negara ini memiliki mangrove terbesar di dunia. Data Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup yang mengacu pada SK Nomor 3438 Tahun 2025 tentang Peta Mangrove Nasional mencatat luas mangrove Indonesia mencapai 3.455.628 hektare.
Jumlah itu setara sekitar 20–25 persen dari total luas mangrove dunia. Dengan porsi sebesar itu, Indonesia memikul kepentingan besar untuk menjaga fungsi mangrove sebagai penyimpan karbon alami di kawasan pesisir.
Dari penyerap karbon menjadi rentan tenggelam
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Earth’s Future menegaskan bahwa hubungan antara kenaikan permukaan laut dan penyimpanan karbon mangrove tidak sesederhana yang selama ini diperkirakan. Sejumlah riset lapangan memang pernah menemukan peningkatan penyimpanan karbon di lokasi tertentu ketika muka air laut naik.
Namun, Dr. Arya Iwantoro menjelaskan bahwa temuan berbasis lokasi tidak otomatis mewakili kondisi ekosistem mangrove secara keseluruhan. Menurut dia, penelitian sebelumnya cenderung membaca perubahan di titik-titik tertentu, sehingga dampak jangka panjang pada skala lanskap belum terlihat utuh.
Untuk menjawab celah itu, tim peneliti membangun model yang memasukkan dinamika air dan sedimen, pertumbuhan serta kematian mangrove, hingga proses penyimpanan karbon di tanah. Model ini dipakai untuk memproyeksikan bagaimana mangrove merespons kenaikan permukaan laut dalam jangka panjang.
Genangan yang awalnya membantu bisa berbalik merugikan
Hasil pemodelan menunjukkan bahwa pada tahap awal, kenaikan permukaan laut memang bisa mendorong penyerapan karbon di sejumlah lokasi. Tetapi ketika kenaikannya terus berlanjut, manfaat itu menurun dan kemampuan mangrove menyimpan karbon bisa melemah secara keseluruhan.
Luisa Fernanda Gómez Vargas dari Universitas Exeter menyebut kondisi ini dapat memicu drowning atau tenggelam secara bertahap. Saat mangrove tidak lagi mampu mengikuti laju naiknya air laut, pohon bisa mati dan karbon yang tersimpan di tanah berpotensi kembali lepas ke atmosfer.
Luisa juga menegaskan bahwa mangrove adalah tumbuhan yang sangat terspesialisasi. Ia menjelaskan bahwa tanaman ini membutuhkan durasi genangan air tertentu setiap kali pasang, sehingga perubahan pola air yang terlalu ekstrem dapat mengganggu kelangsungan hidupnya.
Implikasi untuk perlindungan pesisir
Temuan itu memberi pesan bahwa perlindungan mangrove tidak cukup hanya berhenti pada penanaman. Ekosistem ini juga perlu diberi ruang untuk bertahan dari perubahan muka air laut yang berjalan perlahan tetapi terus menekan struktur hutan.
Bagi Indonesia, risikonya besar karena mangrove bukan hanya penahan abrasi dan gelombang badai, tetapi juga bagian penting dari strategi penyimpanan karbon alami. Jika perlindungan dan restorasi tidak dilakukan memadai, salah satu penyerap karbon paling efektif di wilayah pesisir bisa melemah seiring naiknya permukaan laut.
Karena itu, menjaga mangrove berarti menjaga dua fungsi sekaligus, yaitu perlindungan pesisir dan penyimpanan karbon. Di tengah tekanan iklim yang makin nyata, kemampuan ekosistem ini untuk tetap bertahan akan sangat menentukan apakah mangrove tetap menjadi penyerap karbon atau justru berubah menjadi sumber emisi.
Source: www.suara.com