Kebutuhan sedikitnya 156 rangkaian Kereta Rel Listrik hingga 2040 membuka pasar besar bagi industri perkeretaapian nasional. Proyeksi ini menjadi taruhan penting bagi integrasi bisnis antara PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Industri Kereta Api (Persero).
Angka tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan sarana untuk mendukung layanan kereta komuter pada masa mendatang. Namun, peluang itu baru dapat diwujudkan bila kebutuhan operator, kapasitas pabrik, teknologi, dan standar mutu berjalan dalam satu arah.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebut kebutuhan KRL sebagai salah satu potensi pasar terbesar yang bisa dikembangkan bersama INKA. Proyeksi 156 rangkaian itu juga belum mencakup kebutuhan kereta rel diesel, kereta jarak jauh, lokomotif, serta sarana angkutan barang.
Artinya, ruang kerja sama KAI dan INKA tidak berhenti pada pengadaan KRL. Integrasi diharapkan dapat membentuk perencanaan sarana yang lebih terukur untuk beragam kebutuhan layanan kereta api.
Permintaan Besar Harus Bertemu Kesiapan Pabrik
KAI memegang peran sebagai operator yang memetakan kebutuhan sarana dan layanan perkeretaapian. Di sisi lain, INKA bertugas menyiapkan produksi, teknologi, serta kualitas produk yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
| Pihak | Peran Utama | Fokus Integrasi |
|---|---|---|
| KAI | Operator kereta api | Memetakan kebutuhan sarana dan layanan |
| INKA | Produsen kereta api | Menyiapkan produksi, teknologi, dan kualitas produk |
Bobby menilai hubungan antara kebutuhan operasional dan kemampuan manufaktur perlu dibuat semakin selaras. Proyeksi kebutuhan jangka panjang, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi rencana produksi yang jelas sejak awal.
“Kebutuhan sekitar 156 rangkaian KRL hingga 2040 memberikan gambaran besarnya peluang industri ini,” ujar Bobby dalam keterangan resmi. Ia menegaskan bahwa kebutuhan tersebut hanya menjadi satu bagian dari kebutuhan sarana kereta api yang jauh lebih luas.
Perencanaan pengadaan tidak hanya menyangkut jumlah rangkaian yang akan dibutuhkan. KAI dan INKA juga perlu menyelaraskan desain, kapasitas produksi, tahapan pengujian, hingga proses penyerahan produk kepada operator.
Kapasitas dan Teknologi Menjadi Penentu
KAI menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas produksi secara bertahap untuk menangkap peluang kebutuhan sarana tersebut. Penguasaan teknologi dan kepastian kualitas juga dipandang penting agar produksi nasional mampu menjawab kebutuhan dalam jangka panjang.
Integrasi bisnis diharapkan mencegah proses pemesanan dan penyediaan kereta berjalan sendiri-sendiri. Operator dapat menerjemahkan proyeksi layanan ke dalam kebutuhan sarana, sementara produsen dapat menyesuaikan kesiapan manufaktur secara lebih presisi.
“Integrasi KAI dan INKA merupakan langkah besar untuk membangun ekosistem industri kereta api nasional yang semakin kuat,” kata Bobby. KAI menyatakan dukungannya karena hasil integrasi dinilai berkaitan langsung dengan mutu layanan transportasi pada masa depan.
Bagi pengguna kereta, penyelarasan ini berkaitan dengan ketersediaan sarana yang aman, andal, dan nyaman. Rantai perencanaan hingga produksi yang lebih kuat diharapkan membantu kebutuhan layanan diterjemahkan menjadi kesiapan rangkaian kereta.
Penyatuan Visi dari Pimpinan hingga Produksi
Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management, Desty Arlaini, menilai penyatuan visi harus menjadi langkah awal dalam integrasi. Keselarasan tersebut perlu dibangun dari jajaran pimpinan sampai seluruh insan di kedua perusahaan.
Desty meminta KAI dan INKA membangun nilai bersama dengan kebutuhan pelanggan sebagai orientasi utama. Kedua perusahaan juga didorong untuk bekerja sebagai satu tim dengan tetap menghormati kompetensi masing-masing.
Direktur Utama PT INKA Bambang Jatmika menyebut KAI dan INKA memiliki peran yang saling melengkapi. KAI memetakan kebutuhan sarana, sedangkan INKA menerjemahkan kebutuhan itu ke dalam proses produksi.
Koordinasi yang lebih erat diharapkan menyelaraskan jadwal pengujian dan proses serah terima produk. Kedua perusahaan juga menargetkan pengembangan teknologi serta peningkatan kualitas produk secara berkesinambungan.
Keberhasilan integrasi akan bergantung pada kemampuan mengubah proyeksi kebutuhan 156 rangkaian KRL menjadi kesiapan produksi yang nyata. Penyelarasan antara operator dan produsen menjadi kunci agar industri dalam negeri dapat mendukung kebutuhan sarana perkeretaapian nasional hingga 2040.
