Kanker serviks dapat berkembang tanpa keluhan yang mudah dikenali pada tahap awal. Perubahan sel di leher rahim bahkan bisa berlangsung perlahan selama bertahun-tahun sebelum menjadi masalah yang lebih serius.
Situasi ini membuat pencegahan tidak ideal bila baru dimulai setelah gejala muncul. Vaksin HPV dan skrining kanker serviks menjadi dua langkah yang saling melengkapi untuk menekan risiko sejak dini.
HPV Menjadi Penyebab Utama
Human Papillomavirus atau HPV berkaitan dengan lebih dari 99 persen kasus kanker serviks secara global. Tipe HPV berisiko tinggi, terutama HPV 16 dan HPV 18, menjadi penyebab mayoritas kasus penyakit tersebut.
Infeksi HPV yang menetap dapat memicu perubahan pada sel serviks. Karena proses ini sering tidak menimbulkan tanda awal, pemeriksaan berkala penting dilakukan sebelum perubahan sel berkembang lebih jauh.
CNN Indonesia melaporkan tingkat skrining kanker serviks di Indonesia masih tergolong rendah. Pemahaman masyarakat mengenai manfaat vaksin HPV juga belum merata, padahal perlindungan terbaik dinilai diperoleh sebelum paparan virus terjadi.
Vaksin dan Skrining Memiliki Peran Berbeda
Vaksin HPV merangsang sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan tipe HPV tertentu. Vaksin ini ditujukan untuk mencegah infeksi baru, bukan mengobati infeksi HPV yang sudah terjadi.
Sementara itu, skrining bertujuan menemukan perubahan sel serviks sedini mungkin. Dengan deteksi lebih awal, penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi tersebut berkembang menjadi kanker.
| Langkah Pencegahan | Peran Utama | Hal Penting |
|---|---|---|
| Vaksin HPV | Mencegah infeksi baru dari tipe HPV tertentu | Paling efektif sebelum aktif secara seksual |
| Skrining Kanker Serviks | Mendeteksi perubahan sel sejak dini | Tetap diperlukan meski sudah divaksinasi |
Usia Vaksinasi dan Perlindungan yang Diharapkan
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO merekomendasikan vaksinasi HPV bagi anak perempuan berusia 9 hingga 14 tahun sebagai jadwal utama. Manfaat vaksin dipandang paling tinggi apabila diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual.
Perempuan dewasa yang belum pernah menerima vaksin masih dapat memperoleh manfaat dari vaksinasi. Namun, jenis vaksin dan jadwal pemberian perlu dibicarakan dengan tenaga medis sesuai usia serta riwayat vaksinasi sebelumnya.
Jenis vaksin HPV yang tersedia tidak selalu memiliki cakupan perlindungan yang sama. Salah satu pilihan yang disebutkan adalah Gardasil 9, yang memberikan perlindungan terhadap sembilan tipe HPV.
Gardasil 9 mencakup HPV 16 dan HPV 18, serta tipe lain yang berkaitan dengan kutil kelamin dan beberapa jenis kanker. Cakupan yang lebih luas dapat memberi perlindungan terhadap lebih banyak tipe, tetapi pemilihannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang.
Efek Samping Umumnya Ringan dan Sementara
Vaksin HPV telah melalui tahapan uji klinis sebelum memperoleh izin penggunaan. WHO juga merekomendasikannya sebagai bagian dari program imunisasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Efek samping yang paling sering dilaporkan umumnya bersifat ringan dan sementara, seperti nyeri atau kemerahan di lokasi suntikan serta rasa lelah. Reaksi serius sangat jarang dilaporkan, dan vaksin ini tidak menyebabkan infeksi karena tidak mengandung virus hidup.
Pemeriksaan Tetap Tidak Boleh Ditinggalkan
Vaksinasi tidak menggantikan kebutuhan untuk menjalani pap smear maupun tes HPV secara berkala. Pemeriksaan tersebut tetap dianjurkan, terutama bagi perempuan yang sudah aktif secara seksual.
Bagi yang belum pernah divaksinasi, konsultasi dengan dokter dapat menjadi langkah awal untuk menentukan pilihan vaksin dan jadwal yang sesuai. Pencegahan dapat dilakukan dengan memahami risiko HPV, mempertimbangkan vaksinasi, serta menjalani pemeriksaan sesuai anjuran tenaga medis.
Source: www.cnnindonesia.com






