PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat volume angkutan barang naik 74,2 persen dalam satu dekade terakhir. Lonjakan itu terlihat dari kenaikan angkutan dari 40.060.714 ton pada 2017 menjadi 69.791.691 ton pada 2025.
Kinerja tersebut berlanjut pada triwulan I-2026 saat layanan angkutan barang KAI mencapai 14.948.442 ton. Pada periode yang sama, ketepatan waktu keberangkatan berada di level 95,97 persen dan ketepatan waktu kedatangan tercatat 91,77 persen.
Rel Makin Dipilih untuk Logistik Skala Besar
Kenaikan volume itu menunjukkan bahwa moda kereta api masih punya peran penting dalam rantai distribusi nasional. KAI menilai rel memberi kapasitas angkut besar sekaligus membantu menjaga kepastian waktu pengiriman untuk barang dalam jumlah besar.
Salah satu contoh yang disorot adalah rangkaian kereta batu bara di Sumatera bagian selatan. Satu rangkaian disebut mampu membawa 3.000 ton muatan, setara dengan 120 truk.
Bagi sistem logistik, kapasitas seperti ini memberi ruang efisiensi yang tidak selalu bisa dipenuhi moda jalan. Pergerakan barang melalui rel juga membantu mengurangi tekanan kendaraan barang di jalan raya.
Pemerataan Distribusi Jadi Fokus
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menilai pertumbuhan angkutan barang yang konsisten menandakan kebutuhan distribusi skala besar yang makin kuat. Ia menyebut tren itu sebagai indikator penting bagi pengembangan infrastruktur perkeretaapian yang lebih terintegrasi.
KAI juga menempatkan perluasan jaringan rel sebagai bagian dari upaya memperkuat pemerataan distribusi barang. Jaringan yang lebih luas dinilai bisa membantu kelancaran pasokan di berbagai wilayah.
Dampaknya tidak berhenti pada kelancaran logistik semata. Distribusi yang lebih baik juga berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di masyarakat.
Efisiensi Logistik Nasional Masih Jadi PR Besar
Penguatan angkutan barang berbasis rel menjadi relevan ketika biaya logistik nasional masih berada di kisaran 15-20 persen terhadap produk domestik bruto atau PDB. Angka itu menunjukkan ruang perbaikan masih besar, terutama jika moda rel bisa mengambil porsi lebih besar dalam distribusi nasional.
KAI menilai pengembangan infrastruktur kereta api di Pulau Jawa penting karena wilayah itu mendominasi 60 persen aktivitas logistik nasional. Fokus pada konektivitas jalur utama dianggap bisa memperbesar dampak efisiensi yang dirasakan industri sekaligus masyarakat.
Anne Purba menegaskan bahwa pengembangan tersebut dapat memperkuat konektivitas distribusi dan menekan biaya logistik. Ia juga menyampaikan bahwa layanan angkutan barang yang lebih andal ikut mendukung daya saing ekonomi Indonesia.
Kinerja Operasional Masih Menjadi Modal Utama
Di balik pertumbuhan volume, stabilitas operasional juga menjadi faktor yang menjaga kepercayaan pengguna jasa logistik. Ketepatan waktu keberangkatan yang berada di atas 95 persen memperlihatkan bahwa layanan angkutan barang KAI tetap terjaga pada level yang kuat.
Ketepatan waktu kedatangan yang menembus 91 persen juga mempertegas bahwa rel masih kompetitif untuk pengiriman barang yang membutuhkan jadwal pasti. Kombinasi kapasitas besar dan ketepatan waktu membuat kereta api tetap relevan dalam kebutuhan logistik modern.
Dalam konteks rantai pasok nasional, pertumbuhan ini menunjukkan pergeseran yang semakin jelas ke moda rel. KAI menilai penguatan infrastruktur dan layanan angkutan barang berbasis kereta api dapat terus menjadi penopang utama distribusi nasional yang lebih efisien dan merata.







