Teror paling mengusik dalam Juminten Edan bukan hanya sosok gaib yang memburu karakter utamanya. Film ini menyoroti kekejaman yang muncul ketika seorang perempuan dengan kondisi mental rapuh justru dihakimi dan dipasung oleh lingkungannya.
Pasung menjadi titik paling kelam dalam konflik Juminten, perempuan tunarungu dan tunawicara yang mengalami gangguan mistis setelah kembali ke desa asalnya. Ia dipisahkan dari suami serta anaknya ketika warga menganggap kondisinya sebagai ancaman yang harus dikendalikan dengan cara kejam.
Ketakutan Datang dari Penghakiman Warga
Juminten pulang ke kampung halaman bersama suaminya, Manto, untuk menjenguk Salma yang sedang sakit-sakitan. Kepulangan itu membuka kembali trauma masa kecil yang selama ini berusaha ia tinggalkan.
Alih-alih memperoleh perlindungan ketika kondisinya memburuk, Juminten malah dicap gila dan berbahaya oleh warga desa. Ketakutan bersama tersebut kemudian berubah menjadi keputusan untuk memasungnya mengikuti adat yang berlaku di lingkungan itu.
Situasi ini membuat ancaman dalam film tidak berhenti pada teror supranatural. Juminten Edan juga memperlihatkan bagaimana seseorang dapat kehilangan kuasa atas hidupnya akibat stigma, rasa takut, dan penghakiman orang-orang di sekitarnya.
Pemisahan paksa dari Manto dan putri mereka, Saskia, memberi beban emosional besar pada kisah tersebut. Nasib Juminten pun bergantung bukan hanya pada gangguan yang menghantuinya, tetapi juga pada pilihan manusia yang berada paling dekat dengannya.
Karakter di Tengah Konflik Juminten
| Pemeran | Karakter | Posisi dalam Cerita |
|---|---|---|
| Meisya Amira | Juminten | Perempuan tunarungu dan tunawicara yang dihantui trauma masa lalu |
| Dimas Aditya | Manto | Suami Juminten yang tetap mempercayai istrinya |
| Anne J Coto | Salma | Ibu Manto yang sedang sakit-sakitan |
| Sharon Jovian | Saskia | Putri Juminten dan Manto |
Masa Lalu yang Kembali Menghantui
Gangguan yang dialami Juminten berkaitan dengan sosok kakeknya, seorang dukun yang pernah tewas dibakar warga. Kakek itu disebut pernah berusaha menjadikan Juminten sebagai tumbal saat ia masih kecil.
Setelah tiba di desa, kejadian-kejadian mistis mulai mengusik Juminten dan memengaruhi kondisi mentalnya. Teror tersebut membuatnya beberapa kali kerasukan hingga kehilangan kendali atas diri sendiri.
Keadaannya mencapai titik berbahaya ketika Juminten nyaris mencelakai Salma. Peristiwa itu memperkuat kecurigaan warga, sekaligus menjadi jalan menuju tindakan pasung yang memisahkannya dari keluarga kecilnya.
Menurut Suara.com, misteri dalam film ini disimpan secara bertahap hingga mendekati klimaks. Penonton diajak mengikuti pergulatan Juminten sambil mencari jawaban atas rahasia masa lalu yang terus membayanginya.
Drama Psikologis Lebih Dominan daripada Jumpscare
Disutradarai Dedy Mercy, Juminten Edan mengambil jalur drama psikologis yang dibalut misteri. Film ini tidak semata mengandalkan kemunculan hantu atau rentetan jumpscare untuk membangun ketegangan.
Penderitaan Juminten ditempatkan sebagai pusat cerita, sehingga rasa takut tumbuh perlahan dari trauma dan situasi yang menekannya. Pendekatan tersebut membuat horor hadir melalui ancaman gaib sekaligus ketidakberdayaan manusia di hadapan lingkungan.
Meisya Amira memikul beban emosional utama lewat perubahan ekspresi takut, putus asa, dan sedih yang dialami Juminten. Perpisahan karakter itu dengan anaknya menjadi salah satu bagian yang memperkuat sisi dramatis cerita.
Dimas Aditya sebagai Manto menjadi sosok yang tetap memberi kepercayaan kepada Juminten ketika warga dan keluarganya mulai meragukan kewarasannya. Peran Manto mempertegas konflik keluarga yang berlangsung di tengah tekanan teror dan stigma desa.
Film ini masih menyisakan catatan pada sejumlah penampilan pemeran pendukung serta adegan yang dinilai kurang esensial. Namun, perpaduan misteri, trauma, dan kritik terhadap tradisi pasung membuat Juminten Edan menawarkan warna berbeda dalam horor Indonesia.
Juminten Edan dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 Juli 2026. Ceritanya mengarahkan perhatian pada ketakutan yang lahir dari masa lalu, juga dari hilangnya hak seseorang untuk menentukan hidupnya sendiri.
Source: www.suara.com






