Jepang sedang mendorong tepung beras naik kelas, bukan lagi sekadar bahan alternatif, melainkan bahan yang bisa masuk ke banyak jenis makanan modern. Langkah ini diambil di tengah konsumsi beras yang terus menurun dan kebutuhan untuk membuka pasar baru bagi komoditas tersebut.
Pemerintah Jepang kini mengajak masyarakat memakai tepung beras untuk kue, makanan penutup, hingga olahan bergaya Barat. Di kantor Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan pada awal Juli 2026, puluhan produsen memamerkan berbagai produk berbahan dasar beras.
22 Produsen Tunjukkan Ragam Olahan
Dalam kegiatan itu, 22 produsen memperlihatkan bagaimana tepung beras bisa dipakai di banyak kategori makanan. Variasinya tidak berhenti pada pangan tradisional, tetapi juga menyasar dessert modern yang akrab di pasar yang lebih luas.
| Jenis Produk | Contoh | Komposisi Tepung Beras |
|---|---|---|
| Kue kering | Snack dan sajian ringan | 10% hingga 100% |
| Cake | Kue bergaya Barat | 10% hingga 100% |
| Baumkuchen | Kue lapis khas Eropa | 10% hingga 100% |
| Brownies | Dessert populer | 10% hingga 100% |
| Hidangan penutup lain | Beragam dessert berbahan tepung beras | 10% hingga 100% |
Rentang komposisinya dibuat fleksibel, dari 10 persen sampai 100 persen tepung beras. Pola ini menunjukkan bahan tersebut bisa digunakan dalam banyak resep tanpa membatasi karakter akhir produk.
Polvoron Dapat Sentuhan Jepang
Salah satu peserta, Edelweiss Co. dari Amagasaki, Prefektur Hyogo, memperkenalkan polvoron, makanan penutup tradisional asal Spanyol, yang dibuat dengan tepung beras. Biasanya polvoron memakai tepung terigu panggang, tetapi versi ini menawarkan karakter berbeda.
Perusahaan itu menyebut penggunaan tepung beras membuat proses produksi lebih sederhana karena tahap memanggang tepung bisa dilewati. Juru bicara perusahaan mengatakan, “Dengan menggunakan tepung beras, kita dapat melewati proses pemanggangan dan memberikan sentuhan Jepang pada kue-kue ini.”
Pasar Bebas Gluten Jadi Pendorong Tambahan
Minat terhadap tepung beras tidak hanya datang dari dalam Jepang. Permintaan global ikut menguat karena produk ini bebas gluten dan menjadi pilihan bagi orang yang alergi gandum maupun menjalani pola makan bebas gluten.
Dalam acara itu, koki profesional dan pelaku industri penggilingan tepung juga berdiskusi soal edukasi publik. Mereka menyoroti manfaat kesehatan tepung beras dan perbedaannya dari tepung terigu agar masyarakat lebih paham cara memakainya.
Pemerintah Jepang menempatkan edukasi sebagai bagian penting dari strategi ini. Harapannya, tepung beras tidak lagi dianggap sebagai bahan cadangan, tetapi sebagai bahan yang akrab dipakai sehari-hari.
Target Naik Dua Kali Lipat pada 2030
Menteri Pertanian Jepang, Norikazu Suzuki, hadir dalam kegiatan tersebut dan mematok target yang cukup ambisius. Pemerintah menargetkan permintaan tepung beras naik dua kali lipat dari capaian 2025 menjadi 130.000 ton pada 2030.
Suzuki juga mendorong masyarakat melihat produk berbahan tepung beras sebagai pilihan yang tetap enak dan tidak kalah dari olahan tepung terigu. Di saat yang sama, pemerintah ingin memperluas pemanfaatan beras melalui diversifikasi produk pangan.
Dorongan itu muncul karena konsumsi beras di Jepang terus turun. Berdasarkan data Organisasi Pendukung Pasokan Beras Stabil, konsumsi rata-rata per kapita per bulan turun 6,1 persen dan hanya mencapai 4.435 gram pada periode yang berakhir Maret 2026, level terendah dalam tujuh tahun terakhir.
Tekanan tersebut membuat pemerintah mengambil langkah tambahan. Pada Juni 2026, DPR Jepang mengesahkan revisi undang-undang mengenai pasokan dan penetapan harga pangan pokok yang stabil untuk mencegah kelebihan produksi beras di tengah permintaan yang melemah.
Sejalan dengan kebijakan itu, pemerintah tetap mendorong peningkatan permintaan tepung beras dan produk berbasis beras. Strategi ini diharapkan menjaga keberlanjutan sektor pangan nasional sekaligus membuka peluang baru bagi industri olahan beras di pasar domestik maupun internasional.
Source: www.viva.co.id






