Eukaliptus lama dikenal sebagai pohon cepat tumbuh yang menguntungkan industri pulp dan kayu. Namun di sejumlah wilayah, terutama Eropa selatan, tanaman ini juga dipandang sebagai salah satu vegetasi yang paling berisiko memperparah kebakaran hutan.
Risiko itu muncul bukan hanya karena jumlahnya yang terus meluas, tetapi juga karena sifat alaminya. Hutan eukaliptus menyimpan minyak mudah terbakar dan kulit kayu yang dapat berubah menjadi bara, sehingga api bisa menyebar lebih cepat dan lebih jauh.
Hutan yang mengubah pola kebakaran
Para ilmuwan menilai eukaliptus bukan penyebab tunggal kebakaran besar, tetapi dapat mengubah fire regime atau pola kebakaran di sebuah kawasan. Tim Curran dari Universitas Lincoln di Selandia Baru menyebut hutan eukaliptus sebagai salah satu yang paling mudah terbakar di dunia.
Menurut Curran, penanaman eukaliptus di lingkungan baru dapat memengaruhi intensitas kebakaran, frekuensi kebakaran, seberapa panas api membakar, hingga seberapa sering peristiwa itu berulang. Ia juga mengatakan bara api dapat terbawa angin lebih dari 30 kilometer di depan garis api dan memicu titik kebakaran baru.
| Wilayah | Fakta Penting | Dampak |
|---|---|---|
| Galicia, Spanyol | Luas eukaliptus diperkirakan sekitar setengah juta hektare | Risiko kebakaran dan dominasi monokultur meningkat |
| Global | Perkebunan eukaliptus mencakup 22 juta hektare di lebih dari 90 negara | Menjadi komoditas penting, tetapi rawan kebakaran |
| Galicia, rencana 1992 | Target luas 250.000 hektare pada 2030 | Tak lagi sejalan dengan kondisi lapangan |
Dalam kondisi ekstrem, potongan kulit kayu eukaliptus dapat menyala menjadi bara yang terbang jauh. Mekanisme ini disebut ikut memicu kebakaran sekunder di lokasi lain, seperti yang pernah terjadi pada kebakaran Black Saturday di Australia pada 2009.
Galicia yang bergerak lebih cepat dari rencana
Di Galicia, Spanyol, hutan yang dulu didominasi tanaman lokal seperti ek dan kastanye kini banyak tergantikan oleh eukaliptus. Perubahan itu membuat lanskap bergeser, sekaligus meningkatkan kekhawatiran atas risiko kebakaran di kawasan tersebut.
Perkebunan eukaliptus di wilayah itu sudah ada sejak 1970-an dan tumbuh pesat dua dekade kemudian. Pada 1992, pemerintah daerah sempat memproyeksikan luasnya akan mencapai 250.000 hektare pada 2030, tetapi kenyataannya lahan tersebut meluas jauh lebih cepat.
Joam Evans Pim, pimpinan masyarakat setempat, menyebut luas eukaliptus di Galicia kini sekitar setengah juta hektare. Ia menilai pertumbuhan itu dipicu oleh perkebunan ilegal, lahan yang ditinggalkan, kebakaran hutan, dan sifat invasif spesies tersebut.
Secara global, eukaliptus kini ditanam di Brasil, Chili, California, Afrika Selatan, India, dan Indonesia. Di banyak tempat, perkebunan ini menopang ekonomi, tetapi para peneliti menegaskan pengelolaannya harus jauh lebih ketat agar risiko kebakaran tidak membesar.
Gelombang panas dan kekhawatiran baru di Eropa
Gelombang panas yang datang lebih awal di Eropa kembali memicu kekhawatiran terhadap kebakaran hutan. Tahun 2025 disebut sebagai tahun terburuk dalam sejarah kebakaran hutan, dengan lebih dari 1 juta hektare hutan terbakar dan sebagian besar terjadi di Semenanjung Iberia.
Di tengah situasi itu, pemerintah Galicia mengakui ada kegagalan pengelolaan pada masa lalu. Namun otoritas setempat tidak mengklasifikasikan eukaliptus sebagai spesies invasif dan menolak larangan menyeluruh, dengan alasan pengelolaan yang lebih baik dan keragaman spesies lebih penting.
Luisa Pineiro, direktur jenderal pengelolaan hutan Pemerintah Galicia, mengatakan pengawasan pada 1990-an belum seketat sekarang. Ia menilai yang dibutuhkan adalah rencana pengelolaan hutan, bukan sekadar larangan.
Warga yang menyingkirkan eukaliptus
Di Froxán, sekitar 40 kilometer sebelah barat Santiago de Compostela, kebakaran besar membentuk ulang cara warga memandang lanskap mereka. Setelah kebakaran 2006 dan kebakaran lain sepuluh tahun kemudian, warga membentuk De-Eucalyptus Brigades untuk menyingkirkan eukaliptus dari lahan komunitas.
Kelompok yang awalnya hanya beranggotakan 50 orang itu kini berkembang menjadi 1.500 orang di seluruh Galicia. Mereka menebang eukaliptus dan memberi ruang bagi pohon asli agar bisa kembali tumbuh.
Menurut Evans Pim, tujuan mereka adalah menciptakan sekat api hijau dan membangun lahan yang lebih tahan terhadap kebakaran, perubahan iklim, dan kekeringan berkepanjangan. Pesan serupa juga datang dari para ilmuwan dan aktivis yang menilai lahan yang tidak dikelola dengan baik tetap menjadi ancaman kebakaran terbesar di banyak negara.
Joaquim Sande Silva dari Universitas Politeknik Coimbra menegaskan eukaliptus tetap punya tempat dalam industri pulp. Namun, ia menekankan penanaman harus diatur sangat ketat, termasuk ekosistem apa yang digantikan oleh perkebunan itu.
Source: www.kompas.com






