Jepang Buka Lagi Jalur Minyak Rusia, Sakhalin-2 Kembali Mengalir ke Taiyo Oil

Jepang kembali membuka jalur impor minyak Rusia melalui proyek Sakhalin-2, dan Taiyo Oil menjadi penerimanya. Langkah ini menandai pasokan pertama dari proyek tersebut sejak Jepang menghentikan pembelian rutin minyak Rusia pada 2022.

Keputusan itu muncul di tengah upaya Tokyo menjaga keamanan energi tanpa melanggar pembatasan internasional. Pemerintah Jepang juga disebut berkoordinasi dengan Amerika Serikat agar pengiriman dari Sakhalin-2 tidak memunculkan risiko sanksi.

Pasokan spot dari Sakhalin-2

Nikkei melaporkan bahwa pengiriman itu merupakan pembelian spot minyak yang diproduksi dalam proyek Sakhalin-2. Kargo yang dikirim adalah Sakhalin Blend, minyak mentah ringan yang dipakai sebagai bahan baku diesel dan nafta.

Taiyo Oil menyatakan pihaknya menerima pemberitahuan bahwa kapal tanker yang digunakan tidak terkena sanksi. Juru bicara perusahaan mengatakan kepada Sankei Shimbun bahwa permintaan itu diterima “seperti yang kami lakukan tahun lalu”.

Pertimbangan keamanan energi

Badan Sumber Daya Alam dan Energi Jepang menilai pasokan dari Rusia masih penting meski volumenya terbatas. Pejabat badan itu menyoroti memburuknya situasi di Timur Tengah sebagai salah satu alasan perlunya menjaga suplai tetap stabil.

Pemerintah Jepang memandang minyak dari Sakhalin-2 masih relevan untuk kepentingan energi nasional. Meski jumlahnya kecil, pasokan itu membantu memberi ruang bagi Jepang saat pasar energi global menghadapi tekanan.

Impor yang tidak sepenuhnya berhenti

Jepang memang menghentikan pembelian rutin minyak Rusia setelah situasi di Ukraina memanas. Namun, impor dalam jumlah sangat kecil dari Sakhalin-2 masih sesekali terjadi karena proyek tersebut dinilai strategis bagi kebutuhan energi Jepang.

Musim panas lalu, kilang Taiyo Oil juga sempat mengimpor 600.000 barel Sakhalin Blend untuk pertama kalinya sejak 2023. Peristiwa itu menunjukkan jalur pasokan dari Sakhalin-2 masih tetap terbuka, meski hubungan energi Jepang dan Rusia semakin menyempit.

Bagi Tokyo, langkah ini memperlihatkan pilihan yang hati-hati di tengah tekanan geopolitik. Jepang berusaha menjaga pasokan energi domestik tetap aman, sambil tetap mengelola risiko sanksi dan sensitivitas hubungan dengan negara-negara Barat.

Source: mediaindonesia.com

Terkait