Lebanon Berusaha Lepas dari Tarik-Menarik Iran, Aoun Ambil Alih Kendali Keamanan

Lebanon sedang berupaya keras agar tidak terseret lebih jauh ke dalam konflik luar negeri yang terus menekan negara itu. Presiden Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam ingin rakyat Lebanon berhenti menjadi korban dari pertarungan kepentingan regional.

Di tengah ketegangan yang melibatkan Iran, Hezbollah, Israel, dan Amerika Serikat, Beirut dinilai berada pada titik rawan. Pengamat hubungan internasional Pitan Daslani menilai tekanan dari luar bisa memicu perpecahan politik jika pemerintah gagal memulihkan kendali keamanan.

Beirut Jaga Jarak dari Dinamika Iran dan Amerika Serikat

Pemerintah Lebanon disebut mencoba menjaga jarak dari proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat. Salah satu langkah yang disorot adalah pengiriman Panglima Militer Lebanon Jenderal Rudolf Haikal ke Pakistan untuk menyampaikan pesan bahwa Beirut tidak ingin dikaitkan dengan proses maupun dampak politik dari hubungan kedua negara itu.

Langkah itu muncul saat Lebanon juga masih menanggung beban konflik antara Israel dan Hezbollah. Korban jiwa dan kerusakan membuat pemerintah ingin mengembalikan urusan keamanan sepenuhnya ke tangan negara.

Joseph Aoun Dorong Otoritas Keamanan Kembali ke Negara

Pitan menjelaskan, Joseph Aoun ingin mengembalikan otoritas keamanan kepada angkatan bersenjata Lebanon. Dalam pandangan itu, urusan keamanan tidak lagi bergantung pada kelompok bersenjata seperti Hezbollah.

Namun, langkah tersebut tidak mudah karena Hezbollah dan sekutunya masih punya pengaruh kuat di parlemen Lebanon. Perbedaan sikap soal hubungan dengan Iran dapat memunculkan friksi baru di lembaga politik maupun di masyarakat.

“Ini bisa menimbulkan pergesekan di parlemen, di pemerintahan, bahkan di tengah masyarakat karena ada kelompok yang tetap ingin mempertahankan hubungan erat dengan Iran,” kata Pitan dalam tayangan Youtube Tvonenews, seperti dikutip Minggu (14/6/2026).

Diplomasi Iran dan Amerika Serikat Masih Tersendat

Di sisi lain, diplomasi Iran dan Amerika Serikat belum menunjukkan jalan yang mulus. Washington tetap menuntut pembatasan menyeluruh terhadap program nuklir Iran dan meminta Teheran menghentikan dukungannya kepada Hezbollah.

Iran justru memandang Hezbollah sebagai bagian dari kepentingan strategis dan politiknya di kawasan Timur Tengah. Perbedaan pandangan yang tajam ini membuat negosiasi berlangsung sulit dan rentan buntu.

Pitan juga menyoroti bahwa pembahasan nota kesepahaman atau memorandum of understanding tidak otomatis menyelesaikan persoalan. Ia menegaskan, MoU hanya memiliki ikatan moral, bukan ikatan hukum, sehingga keberhasilannya sangat bergantung pada itikad baik kedua pihak.

Dampak Konflik Regional Masih Membebani Lebanon

Selama serangan dan aksi balasan antara Israel dan Hezbollah masih terus terjadi, tekanan terhadap Lebanon diperkirakan belum akan mereda. Kondisi itu dapat memperpanjang konflik dan semakin mempersulit upaya perdamaian di kawasan.

Sikap politik Lebanon menjadi faktor penting dalam membaca arah stabilitas Timur Tengah. Upaya Beirut untuk tidak menjadi korban konflik luar negeri menunjukkan besarnya beban yang harus ditanggung negara itu saat tarik-menarik kepentingan regional belum juga menemukan titik temu.

Source: www.beritasatu.com

Terkait