Jember mengambil langkah baru untuk memperluas pengaruhnya ke panggung internasional lewat kerja sama sister city dengan Kota Jinhua. Kesepakatan itu diumumkan di Pendapa Wahyawibawagraha, Jember, dan langsung diposisikan sebagai hubungan yang diarahkan untuk kepentingan masyarakat, bukan sekadar seremoni diplomatik.
Bupati Muhammad Fawait menyebut pertemuan dengan Ye Su, Konsul Jenderal Republik Rakyat Cina di Surabaya, serta Yang Jian Ming, Wakil Ketua Komite Konferensi Konsultatif Politik Kota Jinhua, sebagai momen bersejarah. Ia menegaskan Jember ingin membangun hubungan yang saling menguntungkan dan memberi dampak nyata bagi daerah.
Dari lumbung pangan ke mitra global
Dalam pertemuan itu, Gus Fawait memaparkan potensi Jember selama sekitar 18 menit di hadapan delegasi Jinhua. Ia menempatkan pertanian, perkebunan, pendidikan, dan industri kreatif sebagai fondasi utama kerja sama yang bisa dikembangkan lebih jauh.
Jember selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur. Komoditas unggulannya meliputi jagung, kopi robusta, edamame, okra, tembakau, dan cerutu yang sudah menembus pasar ekspor.
Kekuatan tersebut juga ditopang ekosistem pendidikan yang tumbuh lewat perguruan tinggi, sekolah, dan pondok pesantren. Gus Fawait bahkan mengaitkan semangat kerja sama itu dengan pesan keilmuan yang akrab di lingkungan pesantren, yaitu tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.
Kerja sama yang lebih luas dari ekonomi
Gus Fawait menegaskan sister city dengan Jinhua tidak boleh berhenti di urusan perdagangan atau investasi. Ia membuka ruang kolaborasi lain, mulai dari pendidikan, kesehatan, perdagangan, investasi, pengembangan usaha mikro kecil menengah, hingga pertukaran pengetahuan.
Ia juga menyebut kemungkinan penguatan hubungan melalui skema seperti Sister University, Sister School, dan Sister Hospital. Bentuk kerja sama itu dinilai dapat mempererat hubungan masyarakat kedua kota sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Bagi Pemkab Jember, model hubungan seperti ini menjadi jalan untuk memperluas jejaring internasional dengan pijakan yang lebih konkret. Fokusnya bukan hanya pada hubungan antarpemerintah, tetapi juga pada manfaat langsung yang bisa dirasakan warga.
Jember mulai diperhitungkan
Langkah Jember menarik perhatian akademisi dari Universitas Jember dan Universitas Brawijaya. Guru Besar Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember, Agus Trihartono, menilai pemerintah daerah kini memegang peran yang semakin besar dalam kerja sama lintas negara.
Agus menyebut hubungan Indonesia dan Tiongkok berpotensi menjadi salah satu hubungan paling penting di Asia pada abad ke-21. Ia juga memandang kerja sama seperti ini sebagai investasi kepercayaan yang hasilnya baru terasa dalam jangka panjang.
Dari Universitas Brawijaya Malang, Irfan Kharisma Putra menilai kehadiran delegasi Cina menunjukkan Jember mulai diperhitungkan. Menurut dia, Jember tidak lagi bisa dipandang sebagai daerah pinggiran yang hanya dikenal sebagai kota tembakau atau kota pendidikan.
Peluang ekonomi dan citra daerah
Irfan melihat Jember kini bisa dibaca sebagai kawasan dengan peluang ekonomi, pertanian modern, industri kreatif, pariwisata, dan sumber daya manusia yang kompetitif. Ia menilai Bupati Fawait mampu menyampaikan semua potensi itu secara artikulatif dan percaya diri saat menyambut delegasi asing.
Menurut Irfan, gestur dan bahasa tubuh Fawait menunjukkan posisi Jember sebagai mitra yang setara. Ia menilai sikap itu penting karena hubungan internasional yang sehat dibangun di atas saling menghormati, saling menguntungkan, dan saling percaya.
Irfan juga menambahkan bahwa investor maupun mitra internasional biasanya memberi perhatian pada kepemimpinan dan keberanian mengambil keputusan. Dalam pandangannya, hal itu terlihat dari cara Fawait mempresentasikan Jember sebagai daerah yang punya nilai dan siap tumbuh bersama.
