
Angka kemiskinan ekstrem di Jawa Timur terus menurun dan kini berada di 0,29 persen pada 2025. Capaian itu membuat Jawa Timur berada di bawah rata-rata nasional yang mencapai 0,85 persen, sekaligus menandai bahwa intervensi sosial di daerah ini berjalan cukup efektif.
Namun, penurunan angka belum otomatis menutup seluruh persoalan. Pemerintah provinsi kini dihadapkan pada tantangan yang lebih penting, yaitu memastikan warga benar-benar merasakan hidup yang lebih layak melalui pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan perlindungan sosial yang tepat sasaran.
Turun lebih cepat dari laju nasional
Secara makro, kemiskinan ekstrem di Jawa Timur turun 4,26 persen poin selama periode 2020–2025. Penurunan ini lebih besar dibanding capaian nasional yang berada di 3,05 persen.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut capaian itu lahir dari sinergi dan kolaborasi berbagai pihak. Ia menilai arah pembangunan dan perlindungan sosial di Jawa Timur sudah berjalan tepat sasaran dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Tetap turun meski standar global berubah
Pada periode 2024–2025, standar garis kemiskinan ekstrem global berubah dari 1,99 dolar AS PPP menjadi 2,15 dolar AS PPP. Di tengah penyesuaian itu, Jawa Timur tetap mampu menurunkan angka kemiskinan ekstrem secara konsisten.
Khofifah mengatakan hasil tersebut tidak lepas dari upaya Pemprov Jatim mengarahkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Langkah itu juga dibarengi perluasan kesejahteraan masyarakat agar manfaat pembangunan tidak hanya terkonsentrasi di satu kelompok.
Sinyal ekonomi ikut membaik
Penurunan kemiskinan ekstrem juga terlihat dari indikator ekonomi lain yang bergerak positif. Berdasarkan rilis BPS 5 Februari 2026, persentase penduduk miskin di Jawa Timur pada September 2025 tercatat 9,30 persen, turun dari 9,50 persen pada Maret 2025.
Tren serupa muncul di pasar kerja. Berdasarkan data BPS per Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka Jawa Timur turun menjadi 3,55 persen dari 3,61 persen pada Februari 2025.
Lulusan SMK mulai lebih terserap
Perbaikan pasar kerja juga terlihat pada lulusan pendidikan vokasi. Tingkat pengangguran lulusan SMK turun menjadi 5,73 persen dari 5,87 persen pada Februari 2025.
Khofifah menyebut lulusan SMK kini tidak lagi menjadi penyumbang tertinggi TPT di Jawa Timur. Ia menilai hal itu menandakan kualitas lulusan SMK semakin meningkat dan semakin banyak terserap dunia kerja.
Struktur ekonomi masih kuat, tapi pemerataan tetap jadi ujian
Dari sisi ekonomi, Jawa Timur masih ditopang kuat oleh industri pengolahan sebesar 31,45 persen. Kontribusi berikutnya datang dari perdagangan sebesar 18,77 persen dan pertanian sebesar 10,51 persen.
Jawa Timur juga menjadi penyumbang terbesar kedua terhadap perekonomian nasional dengan kontribusi 14,40 persen. Di tengah bobot ekonomi yang besar itu, Khofifah menegaskan bahwa penanganan kemiskinan ekstrem tidak boleh berhenti pada penurunan angka semata.
Ia menekankan ukuran keberhasilan yang sebenarnya ada pada kehidupan yang lebih layak bagi warga. Akses pendidikan yang baik, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, pekerjaan yang layak, dan masa depan yang lebih sejahtera menjadi tolok ukur yang lebih konkret bagi masyarakat.
Source: www.suarasurabaya.net




