Jawa Tengah Dapat 7.000 Pompa Air, Taruhan Produksi Padi di Tengah Ancaman Kemarau

Jawa Tengah akan menerima total 7.000 unit pompa air dari Kementerian Pertanian untuk membantu petani menghadapi musim kemarau. Bantuan ini menjadi penopang pengairan sawah saat ketersediaan air menurun dan produksi pangan perlu tetap dijaga.

Pompa air menjadi salah satu instrumen penting bagi daerah yang selama ini berperan besar dalam pasokan beras nasional. Pemerintah juga menyiapkan irigasi perpompaan, benih, serta alat dan mesin pertanian untuk memperkuat kegiatan budidaya di lapangan.

Tambahan 5.000 Pompa untuk Sawah

Kementerian Pertanian sebelumnya telah menyalurkan 2.000 pompa air ke Jawa Tengah. Setelah adanya permohonan bantuan dari Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, pemerintah pusat menyiapkan tambahan 5.000 unit.

Dengan penambahan itu, total bantuan pompa air yang disiapkan bagi petani di Jawa Tengah mencapai 7.000 unit. Dukungan tersebut diarahkan untuk membantu pengairan pertanian, terutama ketika sawah membutuhkan pasokan air pada periode kering.

Program DukunganJumlah/KeteranganTujuan
Pompa yang telah disalurkan2.000 unitMendukung pengairan pertanian
Tambahan pompa5.000 unitAntisipasi dampak kemarau
Total pompa air7.000 unitMenjaga produktivitas petani
Dukungan lainBenih dan alsintanMemperkuat budidaya

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan tambahan bantuan itu saat menghadiri groundbreaking Peternakan Sapi Perah Terpadu di Kecamatan Larangan, Brebes, Senin (20/7). Dalam kesempatan tersebut, Amran menilai peran Jawa Tengah penting bagi ketahanan pangan Indonesia.

“Pak Gubernur Ahmad Luthfi ini hebat, penopang pangan Indonesia. Beliau itu rajin sekali. Saya lihat kerja beliau itu, Jawa Tengah penghasil beras nomor dua sekarang,” ujar Amran.

Produksi Padi Ditargetkan Naik

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menempatkan pengamanan produksi padi sebagai agenda utama di tengah ancaman kekeringan. Pada 2025, produksi padi Jawa Tengah tercatat mencapai 9,7 juta ton atau berkontribusi 15,6% terhadap kebutuhan nasional.

Untuk 2026, pemerintah provinsi menargetkan produksi padi meningkat menjadi 10,5 juta ton. Target tersebut membuat ketersediaan air bagi sawah menjadi salah satu perhatian utama selama musim kemarau.

Indikator Pangan Jawa TengahDataPeriode
Produksi padi9,7 juta ton2025
Kontribusi terhadap kebutuhan nasional15,6%2025
Target produksi padi10,5 juta ton2026

Ahmad Luthfi menegaskan keberlanjutan sektor pangan tidak hanya bergantung pada dukungan sarana produksi. Perlindungan lahan pertanian juga diperlukan agar area sawah tetap tersedia untuk menopang produksi.

“Jawa Tengah merupakan lumbung pangan nasional, sehingga lahan pertaniannya harus kita pertahankan,” tegas Luthfi. Pemprov Jawa Tengah terus berkoordinasi dengan Kementerian ATR/BPN untuk menjaga Lahan Sawah Dilindungi di seluruh kabupaten dan kota.

Siaga Kekeringan di Sejumlah Wilayah

Ancaman kemarau juga mendorong Pemprov Jawa Tengah menerbitkan Surat Edaran Gubernur pada 9 Juni 2026 sebagai pedoman kesiapsiagaan bencana kekeringan. Data BPBD Jawa Tengah menunjukkan belasan daerah telah menetapkan status siaga, termasuk Brebes, Demak, dan Sukoharjo.

Langkah kesiapsiagaan tidak hanya menyasar kebutuhan pertanian, tetapi juga kebutuhan air warga terdampak. Sejak awal Juni hingga pertengahan Juli 2026, distribusi air bersih mencapai 3,2 juta liter untuk lebih dari 81 ribu jiwa di 15 kabupaten.

Penyaluran air bersih dilakukan melalui kolaborasi pemerintah daerah dan program CSR BUMD. Di tengah kondisi kering, bantuan air bagi warga dan penyediaan pompa untuk petani berjalan bersamaan sebagai respons terhadap risiko kekeringan di Jawa Tengah.

Source: mediaindonesia.com
Terkait