Jaksa AS Hentikan Penyelidikan The Fed, Powell Masih Bisa Bertahan dan Menghambat Rencana Trump

Jaksa Distrik Amerika Serikat Jeanine Pirro menghentikan penyelidikan pidana terhadap Federal Reserve, dan langkah itu langsung mengubah peta tekanan terhadap Jerome Powell. Keputusan tersebut tidak membuat Ketua The Fed otomatis keluar, tetapi justru membuka ruang baru bagi Powell untuk tetap bertahan di bank sentral di tengah dorongan politik yang datang dari pemerintahan Donald Trump.

Pirro memindahkan penanganan kasus ke Kantor Inspektur Jenderal The Fed. Meski begitu, ia menegaskan pihaknya “tidak akan ragu untuk memulai kembali penyelidikan pidana jika fakta mengharuskannya,” sehingga bayang-bayang kasus renovasi gedung The Fed belum sepenuhnya hilang.

Powell belum keluar dari persaingan

Secara formal, keputusan ini memberi napas tambahan bagi Powell. Sebelumnya, Powell menyebut akan tetap bertahan sampai penyelidikan Departemen Kehakiman mengenai biaya renovasi gedung benar-benar berakhir, dan kondisi terbaru membuat posisinya di dewan gubernur masih terbuka.

Kemungkinan itu penting karena Powell bisa memilih tetap duduk sebagai gubernur hingga masa jabatannya berakhir pada 2028. Jika skenario itu terjadi, maka pengaruhnya di The Fed tidak langsung hilang meski masa jabatan sebagai ketua mendekati akhir.

Rencana suksesi Trump ikut terdampak

Situasi ini juga menyentuh agenda Donald Trump dalam menata ulang kepemimpinan bank sentral. Nama Kevin Warsh muncul sebagai calon pengganti Powell, namun langkah menuju kursi itu belum sepenuhnya mulus meskipun ia sudah menjalani sidang konfirmasi di Senat.

Hambatan politik masih membayangi proses tersebut. Senator Republik Thom Tillis disebut berjanji akan memblokir konfirmasi selama penyelidikan DOJ belum benar-benar dihentikan, sehingga pergantian pimpinan The Fed tetap berada dalam ketidakpastian.

Pasar menunggu kepastian, bukan sekadar jeda

Ekonom senior Deutsche Bank Brett Ryan menilai keputusan Pirro belum bisa dibaca sebagai akhir dari persoalan. Ia mengatakan, “Saya tidak akan mengatakan ini sudah pasti saat ini,” dan menyoroti bahwa ruang untuk membuka kembali kasus masih ada jika fakta baru muncul.

Pandangan itu membuat langkah Powell berikutnya tetap jadi perhatian. Jika penyelidikan dapat dihidupkan lagi, Powell mungkin menimbang ulang apakah ia perlu meninggalkan kursinya di dewan atau justru bertahan untuk menjaga posisinya di tubuh The Fed.

Risiko dua pusat pengaruh di bank sentral

Ketidakjelasan ini memunculkan pertanyaan lain yang lebih besar, yaitu apakah The Fed bisa menghadapi dua pusat pengaruh sekaligus. Jika Powell tetap menjadi gubernur sementara pemimpin baru masuk, dinamika internal bank sentral berpotensi menjadi lebih rumit.

Bagi lembaga seperti The Fed, kondisi semacam itu bisa menambah ketegangan di saat arah kebijakan moneter masih sangat penting. Independensi lembaga juga bisa kembali menjadi sorotan, terutama ketika keputusan personal bercampur dengan kalkulasi politik.

Tekanan kebijakan belum mereda

Di luar urusan jabatan, The Fed masih berhadapan dengan tekanan inflasi. Situasi makin sensitif karena ketegangan geopolitik akibat perang Iran ikut mendorong harga minyak, sehingga ruang gerak bank sentral menjadi semakin sempit dan penuh kehati-hatian.

Warsh sendiri dikenal mendorong perubahan besar dalam kebijakan moneter dan bahkan menggunakan istilah “perubahan rezim” untuk menggambarkan arah yang ia inginkan. Sejumlah pengamat dari Evercore ISI menilai nada itu cukup provokatif karena menandakan pergeseran tajam dalam wacana di sekitar The Fed.

Stephen Stanley, kepala ekonom AS di Santander US Capital Markets LLC, melihat dinamika ini sebagai cerminan politik Washington yang sering dipenuhi negosiasi dan pergeseran koalisi. Namun, ia menilai pola seperti itu sangat tidak biasa bagi The Fed dan dapat mengganggu independensi lembaga.

Krishna Guha dari Evercore ISI memperkirakan Powell masih akan menjabat sebagai gubernur biasa selama beberapa bulan. Menurutnya, langkah itu dapat membantu menghindari kesan adanya pengunduran diri karena tekanan politik, sementara pasar terus mencermati arah kepemimpinan The Fed berikutnya.

Baca Juga

Back to top button