Libur Panjang Bukan Waktunya Nekat, Defensive Driving Bisa Cegah Petaka di Jalan

Libur panjang sering membuat volume lalu lintas melonjak dan kondisi jalan jadi lebih menantang. Di situasi seperti ini, defensive driving menjadi cara penting untuk membantu pengendara menekan risiko kecelakaan.

PT Suzuki Indomobil Sales menilai keselamatan di jalan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan mengemudi. Pengendara juga perlu disiplin menjalankan perilaku berkendara yang antisipatif agar bisa mengenali dan merespons potensi bahaya lebih awal.

Waspada sejak sebelum berangkat

Hariadi, Asst. to Aftersales Department Head of Service PT Suzuki Indomobil Sales, mengatakan defensive driving perlu menjadi kesadaran bersama. Ia menilai potensi risiko selalu ada, termasuk ketika lalu lintas meningkat pada periode libur panjang.

Menurut dia, pendekatan ini membantu semua pengguna jalan meminimalkan risiko secara bersama-sama. Pengemudi dituntut selalu waspada dan mampu memprediksi kemungkinan bahaya sebelum insiden terjadi.

Langkah dasar defensive driving bahkan dimulai sebelum kendaraan bergerak. Pengendara perlu memeriksa kondisi kendaraan secara menyeluruh agar perjalanan tidak terganggu masalah teknis yang sebenarnya bisa dicegah.

Rem, ban, dan lampu menjadi komponen yang wajib dipastikan prima. Ketiganya berperan langsung dalam pengereman, kestabilan kendaraan, dan visibilitas di jalan.

Kesiapan kendaraan menjadi fondasi penting karena pengemudi tidak bisa hanya mengandalkan refleks saat situasi darurat muncul. Kendaraan yang terawat memberi ruang lebih besar untuk mengambil keputusan dengan aman.

Kebiasaan aman di tengah lalu lintas padat

Setelah perjalanan dimulai, jarak aman dengan kendaraan lain harus dijaga. Jarak yang cukup memberi waktu lebih banyak untuk bereaksi ketika kendaraan di depan mengerem mendadak atau lalu lintas berubah cepat.

Disiplin menggunakan lampu sein saat berpindah lajur juga masuk dalam perilaku berkendara antisipatif. Sinyal yang jelas membantu pengguna jalan lain memahami arah pergerakan kendaraan dan mengurangi risiko salah antisipasi.

Pengendara juga perlu mengelola emosi selama perjalanan. Lalu lintas padat pada masa libur panjang bisa memicu stres, sementara keputusan saat emosi tidak stabil berpotensi meningkatkan bahaya.

Istirahat saat lelah menjadi bagian lain dari defensive driving. Langkah ini menjaga konsentrasi tetap baik, terutama saat menempuh perjalanan jauh atau menghadapi kondisi lalu lintas yang beragam.

Teknologi membantu, tetapi bukan pengganti kewaspadaan

Untuk mendukung keselamatan, Suzuki menyematkan fitur Smart e-Mirror pada New XL7 Alpha Hybrid. Teknologi ini dirancang meningkatkan visibilitas ke belakang dan membantu mengurangi potensi blind spot.

Smart e-Mirror menampilkan pandangan belakang yang lebih luas melalui kamera di pintu bagasi. Visual yang ditampilkan disebut tetap stabil meski kabin penuh penumpang atau barang bawaan.

Fitur ini relevan dalam perjalanan keluarga atau rute antarkota. Dalam kondisi seperti itu, barang bawaan dan penumpang sering membatasi pandangan melalui kaca spion biasa.

Hariadi menyebut teknologi tersebut penting bagi konsumen yang membutuhkan tambahan visibilitas. Manfaatnya terasa saat berkendara bersama keluarga, membawa barang, atau melintasi jalur dengan kondisi lalu lintas yang beragam.

Meski begitu, teknologi tidak ditempatkan sebagai solusi tunggal. Kesigapan pengemudi tetap menjadi faktor utama yang menentukan aman tidaknya sebuah perjalanan.

Hariadi menegaskan teknologi memang dapat membantu perjalanan menjadi lebih aman, tetapi perilaku berkendara antisipatif tetap menjadi penentu. Karena itu, defensive driving perlu dijaga sejak sebelum berangkat hingga tiba di tujuan.

Source: www.suara.com

Terkait