Istana Bahas Darurat Rupiah Tembus Rp18.020, DPR Dan BI Turun Tangan

Istana bergerak cepat merespons pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp18.020 per dolar AS. Pemerintah membahas situasi itu secara intens bersama otoritas fiskal, moneter, dan pelaku ekonomi di tengah tekanan pasar yang masih berlanjut.

Istana juga menegaskan Presiden Prabowo Subianto memantau kondisi mata uang nasional secara aktif. Sikap ini sekaligus menepis anggapan bahwa pemerintah abai terhadap gejolak kurs yang sedang berlangsung.

Koordinasi darurat di pusat kebijakan

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa rapat dan pertemuan antarotoritas ekonomi berlangsung intens. Ia mengatakan komunikasi pemerintah dengan otoritas fiskal dan moneter tetap berjalan baik meski rupiah terus tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.

Prasetyo menekankan bahwa pelemahan rupiah tidak bisa dibaca sebagai persoalan tunggal. Menurut dia, kekuatan mata uang juga dipengaruhi faktor fundamental seperti kemandirian ekonomi dan ketergantungan pada impor.

Pernyataan itu menempatkan stabilitas rupiah sebagai bagian dari persoalan ekonomi yang lebih luas. Pemerintah tidak hanya menatap intervensi pasar, tetapi juga penguatan struktur ekonomi domestik.

Di sisi lain, pemerintah mendorong kerja sama yang lebih kuat antara otoritas fiskal dan moneter. Koordinasi itu dinilai penting agar respons kebijakan bisa lebih selaras saat tekanan pasar meningkat.

DPR ikut turun tangan

Pada hari yang sama, DPR juga mengumpulkan jajaran otoritas keuangan untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi terkini. Pertemuan tersebut melibatkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyebut agenda itu sebagai bentuk koordinasi kebijakan. Ia menegaskan kebijakan fiskal dan moneter harus saling mendukung demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Langkah DPR menunjukkan perhatian terhadap rupiah tidak hanya berhenti di eksekutif. Pembahasan melebar ke parlemen ketika tekanan nilai tukar mulai memunculkan risiko yang lebih besar bagi perekonomian.

Tekanan di pasar mulai meluas

Di pasar, rupiah masih berada di bawah tekanan dan sempat menyentuh level Rp18.020 per dolar AS hingga perdagangan hari ini. Kondisi itu ikut menekan sentimen pasar modal dan menambah perhatian pelaku ekonomi terhadap arah kebijakan berikutnya.

Dampaknya terlihat pada Indeks Harga Saham Gabungan yang melorot 1,7 persen ke level 5.839 pada perdagangan kemarin. Pergerakan ini menunjukkan pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan ikut memengaruhi pasar keuangan secara lebih luas.

Kondisi tersebut membuat pembahasan di lingkar kebijakan menjadi semakin mendesak. Stabilitas nilai tukar kini menjadi titik tekan utama agar gejolak kurs tidak merambat lebih jauh ke pasar dan aktivitas ekonomi domestik.

Fokus menjaga stabilitas

Dengan koordinasi yang terus diperkuat antara Istana, otoritas fiskal, Bank Indonesia, dan DPR, pemerintah berupaya menjaga ruang kebijakan tetap seimbang. Tekanan rupiah membuat respons ekonomi harus bergerak cepat tanpa mengabaikan faktor fundamental yang ikut memengaruhi nilai tukar.

Pemerintah melihat pelemahan rupiah sebagai sinyal bahwa pembahasan tidak cukup berhenti pada pasar valuta asing. Karena itu, arah koordinasi kini tertuju pada upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional secara lebih luas.

Baca Juga

Back to top button