
Pelemahan rupiah mulai terasa di dapur pedagang tahu dan tempe. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui biaya produksi ikut naik karena bahan baku kedelai masih banyak bergantung pada impor.
Dampaknya tidak berhenti di pelaku usaha kecil. Purbaya menilai tekanan nilai tukar membuat sebagian pedagang terpaksa menaikkan harga jual, sementara keuntungan mereka makin tergerus.
Beban biaya makin berat
Purbaya menjelaskan, rupiah yang melemah membuat bahan baku impor menjadi lebih mahal. Kondisi itu langsung mendorong ongkos produksi tahu dan tempe ke level yang lebih tinggi.
Menurut dia, situasi tersebut membuat ruang laba pelaku usaha semakin sempit. Dalam keterangannya di DPR RI, Senayan, Jakarta, ia menyebut para penjual tahu dan tempe sudah tergerus keuntungannya atau harus menyesuaikan harga.
“Para penjual tahu, tempe, sudah tergerus keuntungannya atau terpaksa menaikkan harga karena bahan bakunya impor sehingga menaikkan biaya produksi mereka,” kata Purbaya.
Efeknya sampai ke rumah tangga
Purbaya menilai tekanan pada rupiah bukan hanya soal angka di pasar keuangan. Ia melihat dampaknya juga dirasakan pedagang kecil hingga rumah tangga yang membeli kebutuhan harian.
Ia menekankan bahwa stabilitas nilai tukar sangat penting agar harga kebutuhan berbahan impor tetap terkendali. Jika tekanan rupiah berlanjut, beban biaya bisa terus turun ke tingkat pedagang dan konsumen.
Pemerintah siapkan respons
Di tengah kondisi itu, Purbaya memastikan otoritas fiskal dan moneter sedang menyiapkan langkah untuk menjaga stabilitas rupiah. Ia menekankan perlunya sinkronisasi kebijakan antara pemerintah dan bank sentral.
Menurut dia, koordinasi yang lebih erat dapat membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar. Sinergi itu juga ditujukan agar stabilitas rupiah kembali terjaga dan mendukung pertumbuhan ekonomi, baik di level makro maupun mikro.
Purbaya menyebut kebijakan yang menyatu akan memberi dampak yang lebih signifikan ke perekonomian. Ia juga menegaskan bahwa upaya tersebut diharapkan ikut menjaga harga kebutuhan sehari-hari.
Kepercayaan pasar jadi kunci
Purbaya menilai penguatan koordinasi fiskal dan moneter bisa membantu memulihkan kepercayaan pasar terhadap rupiah. Dalam pandangannya, kepercayaan yang kembali menguat akan memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik.
“Kit akan mendukung Bank Sentral memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron, supaya dampak kebijakan antara moneter dan fiskal lebih signifikan ke perekonomian,” ujarnya.
Ia menambahkan, sinergi penuh diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan pasar dan mendorong rupiah menguat lebih signifikan. Jika itu terjadi, harga pangan berbahan impor juga diharapkan lebih stabil.
Tekanan di pasar berimbas ke pelaku kecil
Purbaya menegaskan penguatan rupiah penting bukan hanya untuk sistem keuangan, tetapi juga bagi pelaku usaha kecil. Menurut dia, stabilitas nilai tukar akan membantu pedagang tahu-tempe, produsen kecil, dan ibu rumah tangga mendapatkan harga yang lebih baik.
Pernyataan itu menunjukkan rantai dampak pelemahan rupiah tidak berhenti di level kebijakan. Saat bahan baku masih bergantung pada impor, setiap pelemahan mata uang berpotensi menambah beban produksi dan memicu penyesuaian harga di lapangan.
Source: www.viva.co.id




