Iran memilih tetap siaga meski sudah mencapai memorandum kesepakatan dengan Amerika Serikat. Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tidak akan mengendurkan kewaspadaan dan siap menghadapi semua skenario selama proses diplomatik masih berjalan.
Sikap itu menunjukkan bahwa kesepakatan yang sudah disiapkan bukan dipandang sebagai akhir dari ketegangan. Bagi Teheran, dokumen tersebut masih menjadi langkah awal untuk meredakan konflik, bukan penutup dari seluruh pembahasan dengan Washington.
Kesepakatan awal, bukan akhir negosiasi
Pezeshkian menyampaikan pernyataannya melalui akun media sosial X setelah Iran dan AS mengonfirmasi penyelesaian naskah memorandum. Dokumen itu dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Menurut Pezeshkian, setelah penandatanganan dilakukan, kedua negara masih harus melanjutkan negosiasi. Sejumlah isu besar tetap menunggu pembahasan, termasuk program nuklir Iran dan sanksi Amerika Serikat terhadap Teheran.
Ia menegaskan bahwa memorandum tersebut hanya membuka pintu menuju dialog yang lebih luas. Dengan kata lain, proses menuju kesepakatan yang lebih komprehensif masih panjang dan belum selesai.
Teheran tetap menyiapkan langkah antisipatif
Meski ada ruang untuk meredakan konflik, pemerintah Iran tidak menggantungkan seluruh harapan pada hasil perundingan. Pezeshkian mengatakan pelayanan kepada masyarakat dan stabilitas negara tetap menjadi prioritas utama, apa pun hasil akhirnya.
Ia juga menyebut pemerintah sudah menyiapkan langkah antisipatif untuk menghadapi berbagai dinamika yang mungkin muncul setelah memorandum diteken. Sikap ini memperlihatkan bahwa Iran ingin tetap punya ruang manuver di tengah proses diplomatik yang masih bergerak.
Dalam pandangan Pezeshkian, kesiapan menghadapi semua opsi merupakan bagian dari tanggung jawab negara. Karena itu, roda pemerintahan dan kebutuhan rakyat harus tetap berjalan walau negosiasi dengan AS belum benar-benar tuntas.
Peran kepemimpinan tertinggi Iran
Pezeshkian juga menyoroti peran Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei dalam penyusunan memorandum dengan Amerika Serikat. Ia menyebut arahan Khamenei menjadi faktor penting yang membuka jalan bagi tercapainya kesepakatan awal.
Presiden Iran itu mengatakan sejumlah klausul dalam memorandum dirancang untuk melindungi kepentingan nasional Iran di setiap tahap kesepakatan. Ia pun menyampaikan apresiasi atas peran kepemimpinan tertinggi dalam proses tersebut.
“Komando Pemimpin Tertinggi yang terhormat memiliki peran terbesar dalam memasukkan klausul untuk melindungi kepentingan nasional Iran dan kami berterima kasih kepadanya,” ujar Pezeshkian.
Pernyataan itu menegaskan bahwa jalur diplomasi Iran dengan Washington tetap berada dalam kerangka kebijakan strategis negara. Kesepakatan awal tidak berdiri sendiri, melainkan berada di bawah kendali arah politik nasional yang lebih besar.
Menunggu penandatanganan di Swiss
Iran dan AS sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa naskah memorandum selesai disusun pada Senin malam, 15 Juni 2026. Dokumen itu dijadwalkan ditandatangani dalam pertemuan resmi di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026.
Berdasarkan informasi dari pihak Iran, isi memorandum mencakup penghentian aksi militer di seluruh lini yang terkait konflik, termasuk situasi yang berkembang di Lebanon. Kesepakatan itu dipandang sebagai langkah awal untuk menciptakan stabilitas yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga telah menyampaikan bahwa memorandum antara Washington dan Teheran pada dasarnya sudah mencapai tahap final dan siap diberlakukan. Namun, pernyataan Pezeshkian menunjukkan Iran tetap memilih sikap hati-hati sambil menunggu hasil dari tahap negosiasi berikutnya.
Dengan posisi itu, Iran berusaha menjaga dua hal sekaligus: membuka ruang bagi meredanya konflik dan tetap siap menghadapi kemungkinan terburuk. Di tengah proses yang belum selesai, Teheran tampak ingin memastikan bahwa kepentingan nasionalnya tetap terlindungi sampai kesepakatan akhir benar-benar terbentuk.
