Permintaan Ukraina atas sistem penandaan laser untuk drone berukuran kecil memicu gelombang produk baru dari perusahaan pertahanan Eropa. Di tengah perang yang makin bergantung pada drone mini, industri kini mengejar solusi yang lebih ringkas, lebih ringan, dan tetap presisi untuk kebutuhan tempur taktis.
Kebutuhan itu muncul karena sistem laser militer yang ada masih didominasi perangkat berat dan mahal. Celah itulah yang ingin diisi oleh produsen baru, terutama untuk mendukung operasi di medan perang yang semakin ditentukan oleh platform udara nirawak kecil.
Perangkat makin kecil, fungsi tetap dipertahankan
Salah satu pemain yang paling agresif memperluas produksi adalah Aktyvus Photonics dari Lithuania. Perusahaan ini menyebut akan melipatgandakan produksi sistem penunjuk laser UAV ultra-kompak tahun ini dan menggunakan laba 2025 untuk memperluas operasi.
Menurut perusahaan, perangkat buatannya bisa muat di tangan dan berbobot 200 gram. Ukuran itu dirancang agar cocok dengan drone kecil tanpa mengorbankan fungsi penandaan laser.
CEO Aktyvus Photonics, Laurynas Šatas, mengatakan komponen laser perusahaan dipasok ke integrator dan kontraktor pertahanan di seluruh Eropa yang menjadi sekutu NATO. Ia juga menegaskan bahwa teknologi mereka sudah ada di Ukraina dan telah diuji dalam kondisi nyata di medan perang.
Baltik dan Ukraina menjadi titik dorong
Šatas menyebut posisi Lithuania di sayap timur NATO membuat kawasan Baltik menjadi fokus alami bagi perusahaan, baik secara geografis maupun strategis. Bagi industri pertahanan, faktor keamanan regional ikut menentukan arah pengembangan produk yang lebih kecil dan mudah dibawa.
Threod Systems dari Estonia juga memperluas portofolio peluncur drone dan UAV yang dipakai dalam perang melawan invasi Rusia. Di Eurosatory, Paris, perusahaan itu memperkenalkan Eos D ISTAR, drone VTOL kecil generasi baru.
Produk tersebut menggabungkan pesawat ringan dengan sistem sensor berkapabilitas tinggi untuk membawa kemampuan penandaan laser dan pengintaian ke dalam satu sistem UAV ringan. Threod mengatakan pendekatan ini ditujukan agar unit taktis bisa mengoperasikan kemampuan itu dengan jauh lebih mudah.
Dari fungsi presisi ke platform yang lebih ringkas
CEO Threod Systems, Arno Vaik, mengatakan penandaan laser bukan kemampuan baru. Namun, menurut dia, fungsi dukungan presisi tidak seharusnya terbatas pada sistem yang lebih besar atau platform nirawak yang berat.
Threod juga memanfaatkan masukan dari operator di Ukraina, tempat perusahaan menjalankan pusat pelatihan. Umpan balik dari lapangan itu dipakai untuk memperbaiki algoritma perangkat lunak dan prosedur pengoperasian craft mereka.
Pengalaman tempur tersebut ikut membantu ekspor Threod ke 27 negara, termasuk 14 anggota NATO, menurut data perusahaan. Dalam konteks ini, Ukraina bukan hanya menjadi pasar pengguna, tetapi juga medan uji yang membentuk desain dan kesiapan produk baru.
Gelombang produk yang muncul menunjukkan satu arah yang sama: ukuran kecil, bobot ringan, dan fungsi laser yang cukup presisi untuk operasi drone taktis. Di saat yang sama, perusahaan Eropa melihat peluang strategis yang lebih luas karena kemampuan ini juga ditawarkan ke jaringan pertahanan NATO di Eropa.
