
Di tengah perang dan serangan yang mengguncang infrastruktur, Iran menggeser perhatian ekonominya ke kebutuhan paling mendasar. Pemerintah kini berupaya menjaga pasokan pangan, obat-obatan, dan barang strategis lain saat warga semakin berhitung dalam belanja harian.
Tanda pemulihan aktivitas memang terlihat di Teheran, dengan pasar, kafe, dan toko yang kembali buka. Namun, suasana itu belum menghapus rasa cemas, karena banyak konsumen tetap menahan pengeluaran akibat bayang-bayang harga yang tidak stabil.
Belanja warga makin fokus ke kebutuhan dasar
Perubahan perilaku belanja terlihat jelas di lapangan. Seorang warga muda di Teheran barat mengatakan banyak orang kini hanya membeli hal yang benar-benar penting, bukan lagi barang yang bersifat tambahan.
Pola itu menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi telah mengubah cara rumah tangga mengelola uang. Di tengah perang dan inflasi pangan, keputusan belanja bergeser dari kebutuhan sekunder ke kebutuhan dasar yang sulit ditunda.
Pemerintah kembali memakai kurs preferensial
Untuk menjaga ketersediaan barang penting, kabinet menambahkan klausul dalam pedoman pelaksanaan anggaran tahunan. Kebijakan itu membuka jalan bagi penggunaan kembali nilai tukar preferensial untuk impor gandum, obat-obatan, perlengkapan medis, dan susu formula bayi.
Pemerintah juga berencana menyalurkan hingga $3,5 miliar dari pendapatan minyak dan gas melalui jaringan wali amanat untuk mendatangkan barang kebutuhan pokok. Impor tersebut akan dibeli dengan kurs resmi 285.000 rial per dolar AS, lebih rendah dari kurs pasar terbuka 1,55 juta rial per dolar dan juga di bawah kurs anggaran 1,23 juta rial per dolar, menurut media pemerintah.
Kebijakan ini menandai penyesuaian dari rancangan anggaran yang diajukan pada akhir Desember. Saat itu, pemerintah sempat berupaya menghapus kurs valuta asing termurah karena sistem subsidi dinilai memunculkan ketidaktransparanan dan korupsi tanpa benar-benar menekan harga bagi masyarakat.
Harga pangan naik dan bantuan masih terbatas
Di sisi lain, pejabat Kementerian Koperasi, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Sosial menilai penghapusan kurs murah memberi dampak besar pada harga barang kebutuhan pokok. Yaghoub Andayesh mengatakan kementerian telah menyampaikan berbagai skenario untuk menjamin keamanan pangan bagi 11 kategori barang esensial yang mengalami kenaikan harga tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Pemerintah juga mempertimbangkan kenaikan bantuan bulanan dan kupon elektronik untuk warga. Langkah itu ditujukan untuk meredam salah satu tingkat inflasi pangan tertinggi di dunia, sementara saat ini setiap orang hanya menerima bantuan setara kurang dari $10 per bulan.
Dalam waktu yang sama, otoritas mulai menarik dana dari National Development Fund of Iran untuk membeli kebutuhan pokok. Media pemerintah melaporkan hingga $1 miliar akan dipakai untuk gula, beras, jelai, jagung, bungkil kedelai, daging merah, dan daging ayam sebagai cadangan strategis.
Distribusi dipercepat, sektor medis ikut diprioritaskan
Pemerintah juga memperluas kewenangan para gubernur di provinsi perbatasan agar impor barang penting bisa berlangsung lebih cepat dan dengan birokrasi yang lebih ringan. Presiden Pezeshkian menyampaikan bahwa perluasan kewenangan itu sudah resmi disampaikan, sekaligus menekankan perlunya inisiatif dari para gubernur selama perang.
Di sektor kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Iran mengumumkan bahwa distribusi terpusat barang strategis akan dimulai dalam dua hari. Tujuannya adalah memastikan fasilitas kesehatan memperoleh akses ke cadangan strategis secara adil dan tepat waktu.
Kekhawatiran pasokan belum hilang
Meski sejumlah kebijakan telah digerakkan, kekhawatiran kelangkaan masih terasa di masyarakat. Sebagian warga disebut mulai menimbun makanan kaleng dan menyimpan air, sementara yang lain memangkas pengeluaran dengan membatalkan perjalanan, berhenti makan di restoran, dan mengurangi pesanan makanan daring.
Keluhan publik juga muncul di media sosial, termasuk soal harga makan yang melonjak jauh dibandingkan sebelumnya. Situasi ini memperlihatkan betapa cepat biaya hidup berubah ketika tekanan ekonomi dan perang berlangsung bersamaan.
Media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi, Tasnim News Agency, mengakui adanya kekhawatiran soal keamanan pangan setelah perang yang diluncurkan AS dan Israel. Namun, media itu menilai Iran tidak akan mengalami kelaparan karena memiliki perbatasan luas dengan negara tetangga seperti Iraq, Turkiye, dan Pakistan yang dapat membantu jalur impor.
Pembatasan internet nasional yang hampir total juga ikut menekan aktivitas ekonomi. Jutaan pekerjaan tertahan dan banyak pekerja dilaporkan dirumahkan atau dipecat akibat pemutusan akses internet, sementara pemboman terhadap infrastruktur sipil dan ekonomi memperburuk tekanan di lapangan.
Dalam kondisi seperti itu, prioritas ekonomi Iran tampak semakin jelas mengarah ke pengamanan stok pangan, obat-obatan, dan distribusi kebutuhan pokok. Fokus itu menunjukkan bahwa pemerintah kini lebih menekankan ketahanan pasokan daripada pemulihan ekonomi yang lebih luas di tengah perang dan inflasi yang belum mereda.





