Baghdad dan Washington bersiap membuka babak baru dalam kerja sama energi saat kunjungan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi ke Amerika Serikat. Fokus utamanya bukan hanya menaikkan produksi minyak, tetapi juga mencari jalur ekspor yang lebih aman di tengah kawasan yang masih rentan konflik.
Langkah ini muncul ketika Irak harus menyeimbangkan hubungannya dengan Iran dan Amerika Serikat. Di saat yang sama, pemerintah Irak ingin memperkuat sektor migas agar tidak terlalu bergantung pada Selat Hormuz yang kerap menjadi titik rawan saat ketegangan memanas.
Nota Kesepahaman Migas Jadi Pusat Pembahasan
Juru bicara pemerintah Irak, Haider al-Aboudi, mengatakan kesepakatan yang sedang disiapkan mencakup sejumlah nota kesepahaman di sektor minyak dan gas. Salah satu tujuannya adalah memperluas keterlibatan perusahaan asal AS dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi minyak Irak.
Selain itu, perjanjian yang dibahas juga diarahkan untuk membuka jalur ekspor alternatif. Opsi ini dianggap penting karena gangguan di Selat Hormuz dapat langsung menekan pendapatan minyak Irak, seperti yang pernah terjadi saat konflik antara AS dan Iran memanas.
| Agenda Utama | Fokus | Tujuan |
|---|---|---|
| Nota kesepahaman migas | Minyak dan gas | Memperluas kerja sama energi dengan AS |
| Keterlibatan perusahaan AS | Produksi minyak | Meningkatkan kapasitas produksi Irak |
| Jalur ekspor alternatif | Logistik energi | Mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz |
| Penguatan militer | Keamanan | Menjadi bagian dari pembahasan di Washington |
Energi dan Keamanan Sama-Sama Masuk Meja Negosiasi
Kerja sama yang dibahas di Washington tidak berhenti pada urusan energi. Penguatan angkatan bersenjata Irak juga masuk dalam agenda, menunjukkan bahwa hubungan kedua negara mencakup dimensi ekonomi sekaligus keamanan.
Hubungan Baghdad dan Washington selama ini memang tidak sederhana. Isu keberadaan pasukan AS di Irak, kedekatan pemerintah Irak dengan Iran, serta tekanan Washington terhadap pengaruh kelompok bersenjata yang didukung Iran masih menjadi latar yang membayangi pembicaraan.
Di tengah situasi itu, kunjungan Ali al-Zaidi menjadi sinyal bahwa Irak tetap ingin menjaga komunikasi dengan Amerika Serikat. Sejak ditunjuk sebagai perdana menteri pada April 2026, ia juga sempat menerima ucapan selamat dari Presiden AS Donald Trump.
Trump dalam pesannya menyatakan harapan agar kerja sama Baghdad dan Washington bisa semakin erat. Harapan itu kini diuji lewat pembahasan konkret yang menyentuh produksi minyak, jalur ekspor energi, dan penguatan keamanan Irak.
Bagi Irak, agenda ini bisa ikut menentukan arah peta energi Baghdad ke depan. Jika pembahasan berjalan sesuai rencana, kerja sama migas dengan AS berpotensi mengubah cara Irak mengelola produksi sekaligus mengekspor minyaknya di tengah situasi kawasan yang masih rapuh.
