Investasi sejak usia muda semakin dipandang sebagai cara yang lebih sehat untuk mengejar keuntungan daripada terjebak pada judi online. Selain berpotensi membangun kekayaan lebih cepat, langkah ini juga membantu menjaga daya beli saat nilai uang terus tergerus inflasi.
Gagasan itu menguat dalam diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa bertajuk Menangkap Peluang Investasi Saham, Kripto, dan Komoditas yang digelar Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo di Jakarta, Rabu (6/7/2026). Sejumlah praktisi dan pelaku industri menekankan bahwa investasi legal memberi kepemilikan aset produktif, bukan sekadar spekulasi seperti judol.
Waktu Jadi Aset Paling Berharga
Praktisi pasar modal global Vier Abdul Jamal menegaskan bahwa semakin cepat seseorang mulai berinvestasi, semakin besar pula efek pertumbuhan yang bisa dirasakan di masa depan. Ia menilai waktu adalah aset paling berharga dalam investasi karena memberi ruang bagi compounding bekerja lebih lama.
Vier menjelaskan, memulai investasi sejak muda memberi peluang mencapai kebebasan finansial lebih cepat, meski modal awal kecil. Kebiasaan ini juga dinilai membentuk pola pikir yang lebih disiplin, tidak konsumtif, dan lebih siap memahami risiko.
| Instrumen | Contoh Fakta di Artikel | Gambaran Imbal Hasil |
|---|---|---|
| BBCA | IPO pada 2000 sebesar Rp 1.400 per saham | Capital gain sekitar 3.989% setelah stock split 2001 dan 2021 |
| BREN | Melantai di bursa pada 2023 | Capital gain sekitar 29% atau rata-rata 98% per tahun |
| Bitcoin | Harga pada 2010 sekitar Rp73 | Kini mencapai sekitar Rp 1,1 miliar per koin |
Vier juga membandingkan budaya investasi di Indonesia dengan negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa. Di sana, investasi dipandang sebagai kebutuhan hidup dan dijalankan dengan prinsip compounding, reinvestasi dividen, dollar cost averaging, serta diversifikasi aset.
Menurut dia, target utamanya adalah kaya secara perlahan namun pasti. Sebaliknya, di Indonesia masih banyak orang yang menganggap investasi hanya untuk kalangan tertentu dan mudah panik saat harga aset terkoreksi.
Kripto dan Komoditas Kian Mudah Diakses
Presiden Direktur Pintu Andy Putra menilai prospek aset kripto masih menarik bagi generasi muda. Ia mencontohkan Bitcoin yang pada 2010 hanya sekitar Rp73 dan kini telah mencapai sekitar Rp 1,1 miliar, sehingga pemegang jangka panjang berpotensi menikmati keuntungan besar.
Andy menjelaskan bahwa sejak 2025 aset kripto berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan. Ia juga menyebut pembelian aset kripto kini tidak lagi dikenakan PPN, sementara penjualannya dikenakan PPN final.
Menurut Andy, sekitar 60 persen investor kripto di Indonesia berusia 18-34 tahun. Pasar yang aktif 24 jam dan modal mulai sekitar Rp 11.000 membuat instrumen ini semakin mudah dijangkau generasi muda.
Selain kripto, investasi komoditas seperti XAUUSD juga disebut punya peluang besar bagi investor yang memahami mekanisme transaksi dan mampu mengelola risiko dengan baik. Andy menambahkan, perkembangan teknologi blockchain membuka peluang tokenisasi aset, termasuk proyek properti.
Menjaga Daya Beli di Tengah Inflasi
Komisaris PT Aldicitra Sekuritas Hari Mantoro mengingatkan bahwa uang tunai akan terus tergerus inflasi jika hanya disimpan. Ia mencontohkan harga Toyota Kijang Super Chassis pada 1991 yang sekitar Rp24,5 juta, sedangkan penerusnya, Innova Zenix, kini mencapai sekitar Rp 438 juta.
Perbandingan itu, menurut Hari, menunjukkan pentingnya beralih dari budaya menabung ke budaya berinvestasi. Ia menilai investasi pada perusahaan dengan fundamental kuat telah terbukti lebih mampu menghasilkan imbal hasil yang baik dalam jangka panjang.
Direktur Utama SAS Odang Supriatna juga menyoroti perlunya peningkatan kapasitas generasi muda di industri keuangan digital. Visi perusahaannya adalah memberi inspirasi bagi mahasiswa yang ingin menjadi coder, programmer EA & AI Trading, influencer keuangan, day trading professional, dan smart investor.
Literasi Keuangan Jadi Benteng Terakhir
Dukungan terhadap literasi keuangan juga datang dari dunia usaha. President Director PT ITSEC Asia Tbk Patrick Dannacher menegaskan komitmen membangun ekosistem investasi digital yang aman melalui layanan keamanan siber bagi sektor keuangan.
Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI terus memperkuat edukasi keuangan. Direktur Human Capital & Compliance BNI Mucharom mengatakan peningkatan literasi keuangan menjadi fondasi penting agar masyarakat lebih bijak memanfaatkan layanan keuangan.
Ia mengingatkan bahwa indeks literasi keuangan Indonesia memang terus naik, tetapi hasil survei OJK masih menunjukkan angkanya di bawah 50 persen. Karena itu, edukasi perlu diperluas agar investasi legal menjadi pilihan utama generasi muda dan praktik judi online makin mudah dihindari.
Kombinasi akses yang semakin mudah, contoh keuntungan jangka panjang, dan dorongan literasi membuat investasi legal diposisikan sebagai opsi yang lebih masuk akal bagi anak muda. Di saat yang sama, pesan utamanya tetap sama: membangun aset sejak dini jauh lebih produktif daripada mencari untung cepat di judol.
