Inggris memasuki laga 32 besar Piala Dunia 2026 dengan satu pertanyaan besar: apakah Thomas Tuchel akan mengubah pendekatan timnya saat menghadapi RD Kongo di Atlanta. Setelah fase grup yang tidak sepenuhnya meyakinkan di area serang, tekanan kini mengarah ke pemilihan komposisi lini tengah dan efektivitas penyelesaian akhir.
RD Kongo bukan lawan yang datang hanya untuk menjadi pelengkap. Tim peringkat 60 FIFA itu sudah memberi tanda bahaya sejak fase grup, termasuk saat menahan imbang Portugal pada laga pembuka.
Inggris Diharapkan Lebih Berani di Depan
Inggris lolos sebagai juara Grup L dengan tujuh poin, tetapi catatan itu tetap menyisakan pekerjaan rumah di sektor ofensif. The Three Lions menang 4-2 atas Kroasia, bermain imbang 0-0 melawan Ghana, lalu menutup fase grup dengan kemenangan 2-0 atas Panama.
Hasil itu memperlihatkan Inggris tetap efektif meraih poin, namun belum konsisten dalam membongkar pertahanan lawan yang rapat. Situasi tersebut membuat pendekatan yang terlalu hati-hati ikut dipertanyakan menjelang duel sistem gugur pertama mereka.
Paul Scholes menjadi salah satu sosok yang secara terbuka mendorong perubahan. Mantan gelandang Inggris itu menilai Tuchel sebaiknya tidak memakai dua gelandang bertahan sekaligus jika ingin timnya lebih agresif melawan RD Kongo.
Scholes bahkan menyebut Inggris perlu memasukkan sebanyak mungkin penyerang untuk pertandingan seperti ini. Ia juga menyoroti duel posisi di lini tengah, dengan Declan Rice dan Elliot Anderson sebagai opsi yang sama-sama layak dipertimbangkan.
“Inggris tidak perlu memainkan dua gelandang bertahan di pertandingan berikutnya. Tanpa bermaksud meremehkan Kongo, tetapi dalam pertandingan seperti itu, Anda memainkan sebanyak mungkin penyerang. Saya pikir itu harus menjadi duel langsung antara Declan Rice dan Elliot Anderson, dan saya pikir saya akan memilih Anderson,” ujar Scholes.
Ancaman RD Kongo Tidak Bisa Diremehkan
RD Kongo membawa modal yang membuat Inggris tetap harus waspada. Mereka memiliki pemain-pemain yang berpengalaman di Liga Primer, termasuk Aaron Wan-Bissaka, Noah Sadiki, dan Yoane Wissa.
Wissa menjadi nama yang paling menonjol sejauh ini karena sudah mencetak dua gol. Kecepatan dan kontribusinya dapat menjadi sumber masalah bagi lini belakang Inggris bila ruang di area transisi terbuka.
Dengan karakter permainan yang berbeda dari Inggris, RD Kongo punya peluang memanfaatkan duel yang berlangsung ketat sejak menit awal. Kejutan yang mereka ciptakan di fase grup menjadi alasan mengapa pertandingan ini diprediksi tidak akan berjalan satu arah.
Nama-Nama Kunci yang Menentukan
| Tim | Pemain Kunci | Catatan |
|---|---|---|
| Inggris | Harry Kane | Sudah mencetak 3 gol |
| Inggris | Jude Bellingham | Menyumbang 2 gol dan 1 assist |
| RD Kongo | Yoane Wissa | Sudah mencetak 2 gol |
| RD Kongo | Aaron Wan-Bissaka, Noah Sadiki | Bagian dari skuad yang tampil di Liga Primer |
Harry Kane tetap menjadi tumpuan utama Inggris setelah mencetak tiga gol. Jude Bellingham juga memberi ancaman tambahan lewat dua gol dan satu assist, sehingga The Three Lions masih punya kualitas untuk menekan lawan bila skema serangan mereka lebih hidup.
Di sisi lain, RD Kongo tidak kekurangan senjata untuk memanfaatkan momen. Selain Wissa, keberadaan pemain-pemain yang terbiasa bermain di Inggris membuat mereka punya pengalaman menghadapi tempo tinggi dan duel fisik.
Pemenang laga di Atlanta akan melangkah ke 16 besar dan menantang salah satu tuan rumah bersama, Meksiko atau Ekuador. Pertemuan berikutnya dijadwalkan berlangsung di Stadion Kota Meksiko pada 5 Juli.
Dengan tiket fase gugur yang dipertaruhkan, Inggris berada di bawah sorotan terbesar untuk membuktikan apakah mereka bisa tampil lebih tajam saat menghadapi lawan yang tidak memberi banyak ruang. RD Kongo, sebaliknya, datang dengan kepercayaan diri tinggi untuk kembali membuat kejutan di Piala Dunia 2026.







