
Infiniti QX60 kembali menyorot satu hal yang sering terlupakan pada mobil modern: pedal gas tidak lagi terhubung langsung ke mesin seperti sistem mekanis lama. Di SUV ini, kaki kanan hanya mengirim permintaan, lalu perangkat lunak yang menentukan seberapa besar throttle, respons transmisi, torsi, dan akselerasi yang keluar.
Kesan itu paling kuat muncul saat mobil dipacu pelan. Tekanan tipis pada pedal justru membuat QX60 terasa menahan diri lebih lama, sebelum respons datang lebih besar ketika input sedikit ditambah.
Respons awal yang terasa tertahan
Pengamatan di balik kemudi menunjukkan sekitar 15 hingga 20 persen awal ayunan pedal hampir tidak memberi dorongan berarti. Pada tahap ini, permintaan tenaga seolah masih diproses sebelum mobil benar-benar bergerak lebih tegas.
Begitu input melewati titik itu, respons melonjak lebih besar dari yang diminta. Mobil tidak tampak rusak atau cacat, tetapi karakter akselerasinya jelas tidak selinier mobil yang memberi umpan balik lebih langsung.
Data OBD ikut memperkuat kesan tersebut
Untuk memastikan kesan itu bukan sekadar persepsi pengemudi, sebuah data logger dipasang ke port OBDII Infiniti QX60. Alat tersebut merekam posisi throttle, posisi pedal, RPM, dan sejumlah parameter lain.
Hasil log memperlihatkan pola yang berulang. Input pedal yang kecil kerap diikuti lonjakan aktivitas throttle yang lebih besar, sementara penekanan ringan sering terasa tertahan sebelum mobil memberi respons yang lebih kuat.
Tidak ada tanda kerusakan yang jelas
Data itu tidak menunjukkan gejala kegagalan yang terang. Tidak terlihat sinyal acak, penurunan mendadak, area mati, atau perilaku yang biasa dikaitkan dengan sensor pedal akselerator maupun masalah throttle.
Pergerakan RPM juga tetap berjalan wajar. Artinya, yang terlihat bukan masalah teknis yang mudah dikenali, melainkan pola respons yang terasa kurang progresif pada sebuah SUV mewah.
Software makin menentukan rasa berkendara
Kondisi ini sejalan dengan cara kerja banyak mobil modern. Input pengemudi kini sering difilter lewat manajemen torsi, pemrograman transmisi, dan logika perangkat lunak lain yang dirancang untuk kenyamanan, efisiensi bahan bakar, dan kesan halus.
Secara teori, pendekatan itu masuk akal karena membuat mobil lebih lembut dan efisien. Namun dalam praktik, lapisan-lapisan itu bisa membuat hubungan antara kaki kanan dan mesin terasa lebih jauh, terutama pada respons awal yang seharusnya paling mudah diprediksi.
Bukan keluhan yang berdiri sendiri
Pengalaman ini juga tidak tampak muncul sendirian. Sejumlah pengulas otomotif dan komentar di forum disebut memiliki kesan serupa, terutama pada putaran bawah, bahwa QX60 menunjukkan jeda atau respons yang tertunda.
Di titik ini, pertanyaannya meluas dari satu model ke karakter SUV mewah modern secara umum. Saat sistem dibuat semakin halus, efisien, dan mudah dikendarai, batas antara refinement dan delay menjadi semakin tipis.
Infiniti QX60 pada akhirnya menggambarkan kompromi yang kini umum di kelasnya. Pedal gas memang masih ada di bawah kaki pengemudi, tetapi keputusan tentang seberapa cepat mobil menjawabnya kini lebih sering ditentukan oleh perangkat lunak daripada hubungan langsung antara kaki dan mesin.
Source: www.carscoops.com




