Indonesia dan AS Geser Fokus Kemitraan ke Inovasi, Mineral Kritis Jadi Kunci Baru

Indonesia dan Amerika Serikat mulai mengarahkan kemitraan ekonominya ke level yang lebih strategis. Fokusnya kini bergeser dari sekadar perdagangan dan investasi menuju inovasi, teknologi, serta industri masa depan.

Pergeseran itu membuka ruang kerja sama baru di sektor yang makin penting dalam persaingan global, mulai dari mineral kritis, logam tanah jarang, hingga semikonduktor. Bagi Indonesia, arah ini juga sejalan dengan agenda hilirisasi dan penguatan posisi di rantai pasok dunia.

Kerja sama yang dibahas di Honolulu

Pembahasan itu berlangsung dalam pertemuan Duta Besar RI untuk AS Indroyono Soesilo dengan President East-West Center Celeste A. Connors di Honolulu, Hawaii, pada 9 Juli 2026. Keduanya menjajaki kerja sama yang lebih konkret melalui forum kebijakan, seminar strategis, riset bersama, dan program peningkatan kapasitas.

Seluruh skema tersebut diarahkan untuk membangun ekosistem industri berbasis teknologi tinggi. Indonesia melihat peluang untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha di sektor yang punya nilai tambah besar.

Pokok Kerja SamaBentuk KolaborasiTujuan
Mineral kritis, logam tanah jarang, semikonduktorForum kebijakan, seminar strategis, riset bersama, peningkatan kapasitasMendorong inovasi dan industri berbasis teknologi tinggi
Hilirisasi nasionalPenguatan ekosistem industriMemperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global

Jejaring East-West Center yang sudah lama terhubung ke Indonesia

East-West Center berdiri pada 1960 di kampus University of Hawaii at Manoa dan dikenal sebagai lembaga yang mendorong dialog kebijakan, riset, dan kerja sama antara AS, Asia, dan Pasifik. Jaringannya dengan Indonesia juga bukan hal baru.

Hingga kini, lebih dari 3.750 alumni Indonesia tercatat menjadi bagian dari jaringan East-West Center. Mereka aktif di berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, akademisi, dunia usaha, media, hingga seni.

Lembaga itu juga rutin mengkaji perkembangan Indonesia. Data yang dimilikinya menunjukkan nilai transaksi pembayaran digital Indonesia mencapai sekitar US$ 404 miliar pada 2024 atau setara 36 persen dari total transaksi digital ASEAN.

Selain itu, Indonesia memiliki 86 pusat data pada Juni 2025, terbanyak di Asia Tenggara. Pada periode yang sama, tercatat ada 443 perusahaan AS yang beroperasi di Indonesia hingga Juli 2025.

Hubungan kedua negara meluas ke masyarakat dan pendidikan

Relasi Indonesia dan AS tidak hanya berjalan lewat jalur ekonomi. Pada 2023, sekitar 418.000 wisatawan AS berkunjung ke Indonesia, sementara 8.348 mahasiswa Indonesia menempuh pendidikan di AS pada 2024.

Kerja sama East-West Center dengan Indonesia juga sudah menyentuh riset lapangan. Salah satunya lewat penelitian sosial dan lingkungan di Delta Mahakam, Kalimantan Timur, bersama Universitas Gadjah Mada.

Rangkaian kerja sama ini menunjukkan bahwa Indonesia dan AS sedang membangun kemitraan yang lebih dekat dengan kebutuhan industri masa depan. Dari Hawaii, arah pembicaraan keduanya kini bergerak ke inovasi, penguatan sumber daya manusia, dan sektor strategis yang menentukan daya saing jangka panjang.

Source: www.liputan6.com
Terkait