Peran imam masjid sedang didorong naik kelas. Dari ruang salat, mereka kini disiapkan menjadi penggerak harmoni sosial, penjaga moderasi beragama, hingga ujung tombak diplomasi perdamaian lintas negara.
Gagasan itu mengemuka dalam pertemuan ratusan imam masjid, tokoh agama, akademisi, dan pemangku kebijakan di Masjid Al-Markaz Al-Islami, Makassar. Forum tersebut menjadi bagian dari konsolidasi menuju International Grand Imams Conference on Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace 2026 di Jakarta.
Masjid didorong menjawab tantangan zaman
Ketua panitia Abdul Gaffar menilai tugas imam kini tidak bisa dibatasi pada memimpin ibadah ritual. Menurut dia, persoalan seperti radikalisme, intoleransi, perubahan iklim, degradasi moral, disinformasi, dan ketidakadilan sosial menuntut kehadiran imam yang lebih aktif di tengah masyarakat.
Ia menekankan bahwa imam harus tampil sebagai pemimpin moral, pendidik masyarakat, penjaga harmoni sosial, dan juru damai di tengah keberagaman. Pandangan ini menempatkan masjid sebagai ruang yang tetap relevan dengan kebutuhan sosial umat saat ini.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama RI, Abu Rokhmad, menyampaikan penekanan serupa. Ia mengatakan masjid perlu membimbing jamaah agar tumbuh dalam sikap toleran, inklusif, dan moderat.
“Masjid bukan hanya memfasilitasi ibadah mahdhah, tetapi juga ruang menumbuhkan sikap toleran dan inklusif di tengah masyarakat,” kata Abu Rokhmad.
Peran masjid meluas ke lingkungan dan ekonomi
Pembahasan di Makassar juga menyoroti perluasan fungsi masjid di luar isu perdamaian. Direktur Bina KUA dan Keluarga Sakinah Kemenag RI, H. Ahmad Zayadi, mengajak masjid menjadi garda terdepan dalam gerakan ekoteologi.
Ia menegaskan bahwa nilai agama bisa mendorong kesadaran menjaga lingkungan hidup. “Dari masjid kita bisa memulai ibadah ekologis,” ujarnya.
Baznas juga melihat masjid punya potensi besar dalam pemberdayaan ekonomi umat. Lembaga itu menilai masjid dapat berkembang menjadi pusat layanan keuangan mikro dan wadah kolaborasi pemberdayaan masyarakat.
Arah pembicaraan tersebut menunjukkan bahwa masjid diposisikan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga simpul sosial yang bisa merespons kebutuhan ekonomi dan lingkungan secara bersamaan.
Menuju konferensi internasional di Jakarta
Konferensi bertema Masjid Harmony, Religious Diplomacy and Global Peace akan berlangsung dari Februari hingga Oktober 2026. Puncak kegiatan dijadwalkan digelar di Masjid Istiqlal dan Hotel Borobudur, Jakarta.
Sebelum agenda puncak, panitia menyiapkan program Bridging to Conference berupa workshop, seminar, istighosah, dan tabligh akbar di enam wilayah. Daerah yang menjadi lokasi kegiatan meliputi Kalimantan Timur, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
Target akhirnya adalah lahirnya dokumen Istiqlal Understanding of International Imams sebagai pedoman bersama. Forum ini juga diarahkan untuk membentuk wadah persatuan imam dari berbagai negara.
Kolaborasi lintas lembaga semakin menguat
Kegiatan di Makassar melibatkan Kementerian Agama RI, Masjid Istiqlal, IPIM, Kementerian Luar Negeri, serta sejumlah kedutaan besar negara sahabat. Pesertanya terdiri dari imam masjid, pimpinan organisasi keagamaan nasional dan internasional, akademisi, peneliti, hingga perwakilan lembaga pemerintah dan non-pemerintah.
Sejumlah narasumber hadir dalam forum itu, antara lain Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad, Wakil Rektor IV UMI H. Muhammad Ishaq Shamad, Direktur Bina KUA H. Ahmad Zayadi, Wakil Kepala Bidang Peribadatan BPIM Jakarta K.H. Mas’ud Halimin, dan Direktur Perlindungan BNPT RI Irfan Idris.
Kehadiran berbagai lembaga tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi perdamaian melalui masjid mulai diposisikan sebagai agenda bersama. Dalam skema itu, imam masjid diharapkan menjadi penghubung antara nilai keagamaan, harmoni sosial, dan kepentingan kemanusiaan yang lebih luas.
Source: mediaindonesia.com






