IHSG Reli Delapan Hari saat Bursa Asia Terbelah, Industri dan Energi Mengerek Indeks

Reli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berlanjut hingga delapan hari beruntun pada perdagangan Senin, 20 Juli 2026. Indeks ditutup naik 56,24 poin atau 0,91 persen ke level 6.231,78, ketika sejumlah bursa besar Asia justru bergerak tidak seragam.

Penguatan saham sektor industri, energi, dan barang baku menjadi tenaga utama kenaikan pasar domestik. Kondisi itu menunjukkan minat beli masih tersebar pada sektor-sektor besar meski sentimen regional belum sepenuhnya searah.

Transaksi Rp16,25 Triliun Dorong Reli

Aktivitas di Bursa Efek Indonesia berlangsung ramai dengan volume perdagangan mencapai 35,11 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp16,25 triliun dari 2,38 juta kali frekuensi perdagangan.

Jumlah saham yang menguat mencapai 399 emiten, jauh lebih banyak dibandingkan 210 saham yang melemah. Sebanyak 185 saham lainnya ditutup tidak berubah, sementara indeks LQ45 naik 0,94 persen menjadi 627,75.

Saham berkapitalisasi besar masih mendominasi nilai transaksi pada perdagangan tersebut. BBCA mencatat transaksi Rp1,94 triliun, disusul TPIA sebesar Rp1,61 triliun dan BBRI senilai Rp1,19 triliun.

SahamPergerakanPerubahanPenutupan
DEWATop gainer LQ45Naik 9,34%Rp398
CUANMenguatNaik 6,35%Rp670
BRPTMenguatNaik 6,19%Rp1.800
ANTMTop loser LQ45Turun 2,28%Rp3.000
UNTRMelemahTurun 1,32%Rp26.200
MAPIMelemahTurun 0,99%Rp1.505

DEWA menjadi penguat tertinggi di LQ45 setelah naik 9,34 persen ke Rp398 per saham. CUAN dan BRPT juga menguat lebih dari 6 persen, sedangkan ANTM menjadi penekan terbesar di LQ45 dengan penurunan 2,28 persen.

Di jajaran saham dengan nilai transaksi tinggi, BMRI membukukan transaksi Rp879,77 miliar. BRPT menyusul dengan nilai transaksi Rp480,62 miliar pada hari yang sama.

Industri Memimpin, Teknologi Sendiri Melemah

Hampir seluruh sektor di BEI berakhir di zona hijau. Sektor perindustrian memimpin kenaikan dengan penguatan 3,44 persen, diikuti sektor energi yang naik 2,61 persen.

Sektor barang baku bertambah 2,01 persen dan properti serta real estat naik 1,44 persen. Barang konsumen primer juga menguat 1,08 persen, menambah luasnya basis kenaikan indeks.

Sektor transportasi naik 1,00 persen, sementara infrastruktur menguat 0,73 persen. Barang konsumen nonprimer bertambah 0,52 persen, kesehatan naik 0,33 persen, dan keuangan menguat tipis 0,06 persen.

Teknologi menjadi satu-satunya sektor yang ditutup melemah dengan koreksi 0,56 persen. Data perdagangan BEI yang dikutip Kompas.com memperlihatkan saham-saham sektor besar menjadi fondasi utama reli IHSG pada hari itu.

Bursa Regional Terbelah, Rupiah Justru Tertekan

Pasar Indonesia menguat saat arah bursa Asia berbeda-beda. Shanghai Composite naik 0,85 persen ke 3.796,28, sedangkan Hang Seng Hong Kong melonjak 2,36 persen menjadi 25.143,05.

Di sisi lain, Nikkei 225 Jepang terkoreksi 4,03 persen ke 64.141,12. KOSPI Korea Selatan turun 4,46 persen ke 6.516,27, sementara Asia Dow melemah 1,04 persen.

Indeks S&P/ASX 200 Australia juga turun tipis 0,06 persen. Pergerakan yang berlawanan ini mencerminkan sentimen global masih membuat pasar saham regional bergerak tidak merata.

Di pasar valuta asing, rupiah ditutup melemah 45 poin atau 0,252 persen terhadap dollar AS ke Rp17.935. Posisi itu lebih rendah dibandingkan pembukaan yang berada di Rp17.890 per dollar AS.

Pelemahan rupiah terjadi ketika pelaku pasar mencermati perkembangan inflasi domestik serta dampak kenaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi terhadap prospek ekonomi. Sentimen tersebut membayangi pasar valas, meski IHSG mampu mempertahankan penguatan hingga akhir perdagangan.

Source: money.kompas.com
Terkait