
IHSG tetap mampu menutup perdagangan di zona hijau meski tekanan jual asing datang cukup besar. Indeks Harga Saham Gabungan naik 28,83 poin atau 0,41 persen ke level 7.101, sementara investor asing membukukan aksi jual bersih Rp1,19 triliun di seluruh pasar.
Pergerakan ini memunculkan pertanyaan penting bagi pelaku pasar, apakah kenaikan IHSG menjadi sinyal kekuatan yang solid atau justru hanya pantulan sesaat di tengah arus keluar dana asing. Data perdagangan menunjukkan bahwa indeks masih punya daya tahan, tetapi komposisi transaksi juga memperlihatkan tekanan yang tidak kecil pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Tekanan asing paling berat datang dari perbankan
Saham bank besar kembali menjadi sasaran utama penjualan asing. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI mencatat net sell terbesar, yakni Rp443,79 miliar, dan sahamnya ditutup stagnan di level Rp4.430 per lembar.
Dua bank besar lain juga masuk daftar pelepasan asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dibukukan net sell Rp307,72 miliar, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI dilepas asing senilai Rp69,64 miliar.
Dominasi saham perbankan dalam daftar jual menunjukkan bahwa sektor ini masih menjadi fokus utama investor global. Meski begitu, IHSG tidak langsung terkoreksi, yang berarti tekanan di bank besar belum cukup untuk menyeret seluruh pasar ke zona merah.
Pasar juga dibebani saham tambang dan emiten besar lain
Aksi jual asing tidak berhenti di sektor keuangan. PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM turut mencatat net sell Rp67,76 miliar, disusul PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp48,5 miliar dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp32,64 miliar.
PT Astra International Tbk atau ASII juga masuk daftar pelepasan asing dengan nilai Rp27,49 miliar. Selain itu, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) juga berada dalam 10 besar saham yang paling banyak dijual asing.
Pola ini memperlihatkan bahwa pengurangan eksposur asing berjalan di beberapa sektor sekaligus. Kondisi tersebut menambah bukti bahwa pasar sedang menghadapi distribusi saham yang lebih luas, bukan hanya tekanan dari satu kelompok emiten tertentu.
Ada saham yang justru jadi incaran beli asing
Di tengah dominasi penjualan, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk atau AADI muncul sebagai saham dengan net buy terbesar. Nilai beli bersih asing pada saham ini mencapai Rp54,42 miliar.
Respons harga juga mengikuti aliran dana tersebut. Saham AADI menguat 3,67 persen dan ditutup di level Rp11.300 per saham, menandakan bahwa minat beli masih bisa memberi dorongan nyata pada emiten tertentu.
Perbedaan arah transaksi antara AADI dan saham-saham bank besar memberi gambaran bahwa investor asing tidak bergerak serempak. Mereka tampak lebih selektif, memilih masuk ke saham yang dianggap menarik sambil tetap mengurangi posisi di sejumlah saham utama.
Apa arti penguatan IHSG di tengah net sell asing
Kenaikan IHSG ke 7.101 saat asing menjual Rp1,19 triliun menunjukkan bahwa pasar domestik masih punya kemampuan menyerap tekanan. Namun, data transaksi juga menegaskan bahwa kekuatan itu belum merata karena pelepasan asing terkonsentrasi pada saham-saham yang punya bobot besar di indeks.
Kondisi ini membuat penguatan IHSG perlu dibaca secara hati-hati. Selama arus jual masih berat di bank besar dan beberapa saham besar lain, kenaikan indeks bisa saja mencerminkan ketahanan jangka pendek, bukan perubahan arah yang sepenuhnya kokoh.
Meski demikian, keberadaan saham seperti AADI yang mencatat beli bersih asing memberi sinyal bahwa pasar masih menyimpan peluang selektif. Selama minat beli terus muncul di saham-saham tertentu, IHSG tetap berpotensi bertahan, meski tekanan dari aksi jual asing masih membayangi pergerakan berikutnya.





