
Hyundai kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan tiga recall baru yang mencakup hampir 425.000 kendaraan. Dua di antaranya menyangkut risiko yang paling sensitif bagi pengemudi, yakni pengereman yang bisa aktif sendiri dan komponen keselamatan yang berpotensi memicu cedera serius.
Yang paling mengkhawatirkan adalah kombinasi antara skala penarikan dan jenis masalah yang ditemukan. Satu kasus berkaitan dengan airbag yang bisa pecah, sementara dua lainnya menyangkut sistem kendali kendaraan yang dapat bereaksi di luar dugaan.
Airbag Elantra berisiko pecah
Recall paling serius menyasar 3.493 unit Hyundai Elantra model 2015 dan 2016. Mobil ini diduga memakai inflator airbag yang dapat pecah dan melontarkan serpihan ke arah pengemudi.
Kondisi itu mengingatkan pada skandal airbag Takata, meski komponen yang dipakai bukan buatan Takata. Dalam kasus ini, inflator diproduksi ARC Automotive, dan NHTSA menyebut propelan di dalamnya “mungkin mengandung propellant outside of density specifications”.
NHTSA menjelaskan kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan internal inflator. Saat airbag mengembang, tekanan itu berpotensi memicu pecahnya inflator.
Hyundai menyatakan belum mengetahui adanya inflator yang benar-benar pecah. Meski begitu, perusahaan tetap mengambil langkah recall sebagai tindakan kehati-hatian.
Pemilik kendaraan akan mendapat pemberitahuan pada Juli. Setelah itu, mobil harus dibawa ke diler untuk inspeksi, dan inflator akan diganti bila diperlukan.
Sistem rem bisa aktif tanpa perintah
Recall terbesar justru terkait sistem forward collision avoidance yang bisa mengerem sendiri pada 421.078 kendaraan. Model yang terdampak mencakup Santa Cruz, Tucson, Tucson Hybrid, dan Tucson Plug-In Hybrid model 2025-2026.
Masalahnya berasal dari perangkat lunak yang membuat sistem terlalu sensitif terhadap objek di depan mobil. Akibatnya, fitur keselamatan itu bisa bereaksi lebih cepat dari seharusnya dan mengaktifkan rem secara tak terduga.
Hyundai mulai menyelidiki persoalan ini sejak awal tahun lalu. Selama proses itu, perusahaan menerima 376 laporan yang berkaitan dengan sistem tersebut.
Dari jumlah itu, empat laporan berujung pada kecelakaan. Dalam empat insiden itu, Hyundai disebut ditabrak dari belakang oleh kendaraan lain dan menghasilkan empat korban luka.
Untuk memperbaiki masalah, diler akan memperbarui perangkat lunak kamera depan. Pemberitahuan kepada pemilik dijadwalkan keluar pada pertengahan Juli.
Masalah suspensi pada dua EV
Recall ketiga menyasar Ioniq 5 model 2025 dan Ioniq 9 model 2026. Pada dua EV ini, baut dan mur suspensi belakang diduga tidak dikencangkan dengan torsi yang tepat.
Jika komponen itu longgar, getaran bisa membuat baut dan mur makin kendur. Dalam kondisi ekstrem, hal tersebut dapat memicu hilangnya kendali atas kendaraan.
Hyundai mengetahui potensi masalah itu setelah menerima keluhan pada 2025. Keluhan tersebut menyebut ada suara aneh dari suspensi belakang sebuah Ioniq 5.
Pemeriksaan internal kemudian menemukan hanya ada dua kejadian yang diketahui. Recall ini mencakup 172 kendaraan, tetapi hanya 1% di antaranya yang diyakini benar-benar memiliki komponen suspensi yang dikencangkan tidak sesuai spesifikasi.
Sebagai solusi, diler akan memeriksa dan mengganti fastener suspensi belakang. Setelah itu, diler juga akan melakukan penyelarasan ulang roda belakang untuk memastikan mobil kembali sesuai kondisi semula.
Tiga recall ini menunjukkan Hyundai sedang menghadapi masalah dari beberapa sisi sekaligus. Satu menyangkut keselamatan penumpang secara langsung, sementara dua lainnya berkaitan dengan pengereman tak terduga dan potensi gangguan kendali kendaraan.
Source: www.carscoops.com




