
Huawei Pura X Max memicu perubahan arah di pasar ponsel lipat karena membawa format layar yang jauh lebih lebar dari kebanyakan model foldable saat ini. Perangkat ini dinilai tidak lagi mengejar bentuk lipat semata, tetapi mencoba menghadirkan pengalaman pakai yang lebih mirip tablet mini.
Pergeseran itu penting karena banyak ponsel lipat sebelumnya masih menyisakan kompromi besar pada sisi kenyamanan. Layar luar kerap terasa sempit saat perangkat tertutup, sementara layar utama saat dibuka belum selalu memberi ruang yang benar-benar lega untuk aktivitas harian.
Huawei dorong format layar yang lebih masuk akal
Huawei Pura X Max diluncurkan pada 20 April 2026 dan hadir dengan rasio layar sekitar 16:11. Format ini membuat bodi perangkat terlihat lebih lebar dibandingkan model lipat yang selama ini umum di pasar, termasuk Galaxy Z Fold 7 yang disebut memiliki rasio sekitar 1,11:1.
Dari sisi penggunaan, pendekatan tersebut memberi keuntungan yang langsung terasa. Aktivitas seperti menonton video, bermain gim, dan membuka banyak aplikasi sekaligus bisa berjalan lebih nyaman karena bidang pandang yang tersedia lebih luas.
Analis teknologi Ben Khalesi menilai desain ini menjawab keluhan lama terhadap foldable yang kerap dianggap belum matang secara fungsi. Ia menyebut perubahan rasio layar bisa mengubah cara pengguna merasakan perangkat lipat dalam pemakaian sehari-hari.
“Desain ini langsung terasa lebih natural, tidak lagi seperti tablet canggung yang dipaksakan,” kata Khalesi, dikutip dari Android Police.
Kompromi yang selama ini membatasi foldable mulai dikikis
Selama ini, ponsel lipat sering berada di tengah dua kebutuhan yang sulit dipadukan. Pengguna ingin perangkat yang ringkas saat dibawa, tetapi juga menginginkan layar yang luas dan nyaman saat dipakai bekerja atau menikmati konten.
Masalahnya, banyak desain foldable lama masih condong pada bentuk yang unik, bukan pada kenyamanan nyata. Akibatnya, perangkat terlihat menarik di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya memuaskan saat dipakai untuk kebutuhan harian yang terus menuntut efisiensi.
Huawei mencoba mematahkan pola itu dengan menghadirkan layar yang tetap nyaman saat tertutup. Proporsi yang lebih seimbang membuat perangkat ini lebih fleksibel untuk membaca pesan, berpindah aplikasi, hingga memakai layar utama tanpa kesan sempit.
Khalesi juga menilai pergeseran ini menunjukkan bahwa konsumen mulai menuntut foldable yang lebih fungsional. Menurutnya, pengguna tidak lagi cukup dengan desain yang hanya tampak berbeda, tetapi juga harus benar-benar relevan untuk rutinitas mobile.
Samsung dan Apple ikut terdorong mengikuti arah baru
Dampak keputusan desain Huawei disebut ikut memengaruhi langkah pemain besar lain di industri. Samsung dilaporkan menyiapkan Galaxy Z Fold 8 Wide dengan rasio layar 4:3 dan ukuran 7,6 inci, sementara Apple disebut tengah menyiapkan iPhone Fold dengan pendekatan layar yang juga lebih lebar.
Untuk Apple, informasi yang beredar masih terbatas. Namun, bocoran dari The Verge menunjukkan perusahaan itu tidak akan meniru pola foldable yang sudah ada secara mentah, melainkan memilih jalur desain berbeda yang tetap mengarah pada layar lebih luas dan lebih fungsional.
Khalesi menilai langkah Apple yang tidak terburu-buru justru bisa membuat kehadirannya berdampak besar saat masuk ke pasar foldable. Kehadiran Apple hampir pasti menarik perhatian luas dan berpotensi menggeser arah kompetisi di segmen ini.
Desain layar lebar mulai menantang patokan lama
Sorotan besar pada Huawei Pura X Max menunjukkan bahwa foldable kini mulai dinilai bukan dari sisi kebaruan bentuk saja. Pasar tampak bergerak ke arah perangkat yang lebih nyaman digenggam, lebih natural saat dibuka, dan lebih cocok untuk multitasking modern.
Jika Samsung dan Apple benar-benar mengikuti arah yang sama, desain layar lebar bisa berubah dari eksperimen menjadi acuan baru di industri. Persaingan kemudian akan bergeser ke pertanyaan yang lebih penting bagi pengguna, yaitu siapa yang paling berhasil memadukan fungsi, kenyamanan, dan pengalaman layar dalam satu perangkat lipat.





