HP Sony Tak Dijual Resmi Di Indonesia, Justru Masih Pertahankan Fitur Kuno Yang Dicari Banyak Orang

Sony memang masih besar sebagai nama di industri elektronik, tetapi di pasar HP posisinya jauh lebih kecil. Di Indonesia, HP Sony tidak dijual secara resmi, sehingga calon pembeli biasanya harus mencari lewat luar negeri atau jasa titip.

Kondisi itu membuat Xperia jadi produk yang terasa eksklusif sekaligus sulit dijangkau. Di saat banyak merek lain berebut pasar massal, Sony justru memilih jalur yang lebih sempit dan mempertahankan ciri khas yang sekarang makin langka.

Pasar yang sempit sejak awal

Sony tidak bermain di banyak segmen seperti produsen HP lain. Perusahaan asal Jepang itu hanya fokus pada dua lini utama, yakni Xperia 1 untuk kelas flagship dan Xperia 10 untuk kelas mid-range.

Strategi tersebut membuat opsi konsumen menjadi terbatas. Sony tidak menyediakan HP entry level, gaming phone, flagship murah, foldable, atau model khusus untuk kegunaan tertentu.

Dari sisi harga, Xperia 1 dibanderol sekitar Rp30 jutaan. Sementara itu, Xperia 10 dijual sekitar Rp9 jutaan.

Alasan tak resmi masuk Indonesia

Keputusan Sony tidak menjual HP secara resmi di Indonesia tidak muncul tanpa sebab. Salah satu pemicunya adalah perangkat Sony yang tidak memenuhi TKDN, ditambah harga yang tinggi dan dinilai kurang cocok dengan pasar Indonesia.

Persaingan yang berat juga ikut mempersempit ruang gerak Sony. Ada pula anggapan bahwa pasar Indonesia kurang menguntungkan bagi perusahaan tersebut.

Kombinasi faktor itu membuat Sony lebih banyak hadir sebagai merek yang dicari oleh kalangan tertentu. Bagi sebagian konsumen, produk ini lebih terasa sebagai pilihan spesifik ketimbang HP untuk pasar luas.

Fitur kuno yang justru masih dicari

Di tengah tren ponsel modern yang meninggalkan fitur lama, Sony justru mempertahankannya. Sejumlah model baru masih membawa jack audio 3,5 mm dan slot MicroSD.

PhoneArena menyebut Xperia 1 VIII masih hadir dengan dua fitur tersebut. Bahkan, Xperia 1 VII yang dirilis pada 2025 masih memakai side mounted fingerprint, saat banyak flagship lain sudah beralih ke in-display fingerprint.

Bagi sebagian orang, langkah itu mungkin terlihat tertinggal. Namun bagi pengguna yang masih membutuhkan kabel audio, kartu memori, dan sensor sidik jari di sisi bodi, fitur seperti ini justru bernilai lebih.

Desain layar yang berbeda dari arus utama

Salah satu pembeda paling kuat pada HP Sony ada pada layarnya. Menurut NoteBookCheck dan Mashable, Sony tidak memakai notch di bagian atas layar seperti banyak HP modern lain.

Sebagai gantinya, Sony memakai layar penuh dengan bezel tebal di bagian atas dan bawah. Area bezel atas dipakai untuk kamera depan, speaker, dan sejumlah sensor.

Pilihan desain ini membuat tampilannya berbeda dari tren pasar. Di sisi lain, bentuk tersebut bisa terasa aneh bagi pengguna yang sudah terbiasa dengan layar berponi atau punch hole.

Bodi panjang, ramping, dan khas Sony

Sony juga dikenal lewat rasio layar 21:9 yang membuat bodi ponselnya terlihat panjang dan ramping. GSMArena mencatat format itu hadir pada flagship seperti Sony Xperia 1 VI dan Xperia 1 V.

Bentuk tersebut membuat HP terasa nyaman digenggam dengan satu tangan. Namun, layar yang memanjang juga punya konsekuensi karena jari pengguna lebih sulit menjangkau bagian ujung atau atas layar.

Karakter fisik ini ikut memperkuat identitas Sony di tengah pasar yang seragam. Bagi penggemarnya, justru sisi itulah yang membuat Xperia terasa berbeda dari Samsung, Apple, atau Xiaomi.

Kuat di identitas, tidak selalu cocok untuk semua orang

Kombinasi desain, fitur, dan format layar membuat HP Sony punya ciri yang jelas. Di mata penggemar, karakter itu menjadi daya tarik utama karena menawarkan sesuatu yang tidak mudah ditemukan di ponsel lain.

Namun, keunikan tersebut tidak selalu diterima semua orang. Banyak konsumen tetap memilih HP mainstream karena lebih familiar dan terasa lebih praktis untuk kebutuhan harian.

Source: www.idntimes.com
Terkait