Poco X8 Pro Max langsung mencuri perhatian di kelas harga Rp6 jutaan karena membawa kombinasi yang jarang muncul sekaligus: skor AnTuTu di kisaran 2,7 hingga 2,8 juta poin, dukungan eSIM, dan sensor sidik jari ultrasonik. Di atas kertas, paket ini membuatnya tampak lebih agresif dari banyak lawan sekelas.
Dalam penggunaan harian, perangkat ini disebut terasa sangat kencang dan lebih adem dibanding Poco X8 Pro reguler, bahkan dibanding Poco F7. Di rentang harga tersebut, posisinya praktis berada di jalur HP paling ngebut kedua di Indonesia setelah iQOO 15R, meski dengan kapasitas RAM yang jauh lebih besar.
Performa yang benar-benar menekan rival
Varian 12/512 GB yang diuji menunjukkan karakter performa kelas atas untuk aktivitas harian dan gaming berat. Genshin Impact bisa dijalankan rata kanan dengan sangat lancar di 58-60 FPS.
Tekanan suhu mulai terasa ketika Wuthering Waves dipaksa berjalan pada setelan High 60 FPS. Suhu perangkat sempat menyentuh 49 derajat Celsius, sehingga fan cooler tambahan atau penurunan grafis ke Medium tetap disarankan untuk sesi push rank yang panjang.
HyperOS terbaru dengan dukungan panjang
Poco X8 Pro Max hadir dengan HyperOS berbasis Android 16. Salah satu nilai tambahnya ada pada interkoneksi yang lebih matang, termasuk kemampuan berkirim file dengan mulus ke ekosistem Apple seperti iPhone 17.
Antarmuka juga terasa lebih segar berkat Hyper Island. Poco menjanjikan 4 tahun pembaruan Android dan 6 tahun security patch, sehingga usia pakainya terlihat cukup panjang.
Namun, ada satu catatan yang masih mengganggu sebagian pengguna. Iklan dan rekomendasi di aplikasi bawaan masih muncul, sehingga pengguna perlu mematikan fitur “Show Ads” dan “Recommendation” secara manual di menu pengaturan.
Baterai besar jadi senjata utama
Poco membekali perangkat ini dengan baterai 8.500 mAh. Dalam penggunaan normal, daya tahannya diklaim bisa mencapai Screen on Time sekitar 8-9 jam dan bertahan hingga 1,5 hari.
Dalam pengujian yang lebih optimal, baterainya bahkan berpotensi tembus 10 jam SOT dengan sisa baterai sekitar 50 persen pada malam hari. Hasil itu dicapai dengan mematikan RAM Extension, membatasi aplikasi latar belakang, dan memakai Dark Mode.
Kapasitas sebesar itu membuat waktu pengisian tidak bisa terlalu singkat. Pengisian daya membutuhkan waktu sedikit di atas 1 jam.
Desain bongsor, fitur premium terasa nyata
Secara fisik, Poco X8 Pro Max tergolong besar dengan layar AMOLED 120Hz berukuran 6,83 inci dan bobot 220 gram. Bingkainya memakai metal solid, sedangkan bagian belakang menggunakan fiber glass.
Di modul kamera, ada lampu RGB estetik yang berfungsi sebagai indikator notifikasi. Versi Max juga mendapat fitur yang tidak ada di varian reguler, seperti Game Turbo dengan Smart Frame Rate dan Super Resolution.
Dari sisi keamanan dan konektivitas, perangkat ini unggul lewat fingerprint ultrasonik yang cepat dan akurat serta dukungan eSIM. Namun, wireless charging belum tersedia dan port USB-C yang dipakai masih versi 2.0.
Kamera bukan fokus utama, tapi tetap layak
Poco X8 Pro Max mengandalkan konfigurasi kamera ganda, yaitu kamera utama dan ultra-wide. Hasil fotonya tergolong tajam untuk perangkat yang menekankan performa.
Fitur videonya juga cukup kaya, termasuk Lock Video, mode Pro Video, serta portrait dengan tiga pilihan focal length. Pengguna juga bisa berpindah ke kamera depan saat perekaman video sedang berlangsung.
Meski begitu, stabilisasi video masih menjadi titik lemah. Saat dipakai berjalan cepat atau berlari, rekaman bisa terasa sedikit patah-patah atau jitter.
Di kelas harga Rp6 jutaan, Poco X8 Pro Max menawarkan value for money yang sangat kuat. Performanya buas, baterainya awet, dan fitur premiumnya terasa nyata, meski calon pembeli tetap perlu mempertimbangkan iklan bawaan dan kemampuan video yang belum sepenuhnya matang.







