Heimdall Ringan 6,4 Kg, Deteksi Shahed Dari 5 Km Tanpa Membuka Posisi Pasukan

Author: Cung Media

Ancaman drone di garis depan kini tidak hanya soal siapa yang lebih cepat melihat target, tetapi juga siapa yang bisa mendeteksi tanpa ketahuan. Di tengah kebutuhan itu, Heimdall dari Ribri Acoustics & Optics menawarkan pendekatan pasif yang tidak memancarkan radar, pulse jamming, atau sinyal elektronik lain.

Sistem seberat 6,4 kilogram ini dirancang sebagai sensor portabel untuk infanteri yang bergerak turun dari kendaraan. Fungsinya memberi peringatan awal, arah kedatangan ancaman, dan konfirmasi visual sebelum kontak langsung terjadi.

Dua sensor untuk satu alur deteksi

Heimdall mengambil nama dari dewa Nordik penjaga ambang Asgard, dan konsepnya mengikuti peran itu. Paketnya menggabungkan dua node, yaitu HUGIN untuk akustik dan MUNIN untuk elektro-optik serta inframerah.

Skema itu membuat deteksi, klasifikasi, pelacakan, dan konfirmasi bisa berjalan sebelum respons kinetik atau elektronik dimulai. Dalam lingkungan tempur yang bising, pendekatan seperti ini penting karena tidak semua ancaman drone memancarkan sinyal radio yang mudah ditangkap.

HUGIN mengandalkan suara, bukan radar

Pada tahap awal, HUGIN menangkap suara rotor, tanda mesin, dan pola akustik amunisi loitering. Node ini memakai array 48 sel mikrofon MEMS dan pemrosesan edge-AI untuk mendeteksi, mengklasifikasi, dan melacak drone sayap putar, mesin pembakaran, serta munisi loitering.

Secara praktis, sistem ini mengubah suara menjadi petunjuk arah sebelum operator melihat target. Kemampuan itu juga berguna untuk drone FPV yang terbang rendah, bergerak cepat, dan tidak memancarkan transmisi radio sebelum serangan.

Jangkauan yang menyasar target sulit dideteksi

Ribri menyebut HUGIN mampu mendeteksi drone FPV atau Class 3 hingga 600 meter. Untuk target tipe Shahed-136, jaraknya disebut melampaui 5.000 meter, atau sekitar 16.400 kaki.

Jangkauan tersebut membuat Heimdall relevan untuk ancaman udara yang sering lolos dari pendekatan konvensional. Sistem ini juga menyasar drone FPV bertenaga fiber-optik, yang semakin menyulitkan deteksi berbasis frekuensi radio karena tidak memancarkan sinyal RF.

MUNIN memberi konfirmasi visual

Setelah HUGIN memberi bearing cue, MUNIN mengambil alih untuk verifikasi. Node ini memakai arsitektur kamera tri-mode elektro-optik dan inframerah untuk memberikan konfirmasi visual serta memperhalus lintasan target.

Pendekatan itu memungkinkan operator mengidentifikasi kontak udara tanpa menyalakan radar. Bagi satuan yang beroperasi di area yang diawasi, kemampuan ini penting karena sensor aktif justru bisa menjadi petunjuk keberadaan pasukan.

Dirancang untuk medan tempur yang keras

Heimdall juga dirancang untuk bekerja lewat TCP/IP dan jaringan seluler dalam rumah perangkat yang memenuhi standar MIL-STD-810G. Kombinasi ini memungkinkan pengawasan perimeter yang tahan perang elektronik, sementara data bearing, klasifikasi, dan konfirmasi optik diteruskan ke jaringan komando yang lebih luas.

Klaim ketahanan MIL-STD-810G menempatkan sistem ini untuk menghadapi suhu ekstrem, kelembapan, getaran, dan guncangan di lingkungan garis depan. Dengan bobot yang masih setara perlengkapan regu, Heimdall bisa dibawa tanpa transportasi kendaraan khusus.

Peran utamanya tetap jelas, yakni deteksi dan peringatan, bukan penghancuran. Posisi itu membuat Heimdall menjadi lapisan sensor yang memberi data ke pencegat kinetik dan sistem peperangan elektronik di tahap berikutnya, bukan pengganti keduanya.

Terbaru