Harga rumah dan biaya sewa di pusat kota yang terus meningkat mengubah cara keluarga muda menentukan tempat tinggal. Hunian pinggiran kini tidak lagi sekadar pilihan karena lebih murah, melainkan alternatif untuk mendapatkan ruang hidup yang lebih sesuai dengan kebutuhan keluarga.
Perubahan prioritas ini terutama terlihat pada milenial yang memasuki fase membangun keluarga. Mereka mencari rumah yang lebih luas, lingkungan yang nyaman bagi anak, serta akses yang memadai ke sekolah, layanan kesehatan, dan ruang publik.
Ruang Lebih Luas Jadi Pertimbangan Utama
Di kawasan inti kota, pilihan rumah berukuran keluarga semakin terbatas ketika harga properti terus naik. Kondisi tersebut membuat banyak calon penghuni mempertimbangkan hunian pinggiran yang menawarkan ruang tinggal lebih lega dengan nilai yang dinilai lebih masuk akal untuk jangka panjang.
Studi Harvard Joint Center for Housing Studies mencatat semakin banyak milenial berpindah ke kawasan suburban dalam satu dekade terakhir. Pergeseran itu paling menonjol di kota-kota yang memiliki harga properti tinggi dan pasokan rumah keluarga yang terbatas.
Kebutuhan rumah berubah ketika keluarga memiliki anak dan rutinitas harian semakin padat. Area bermain, lingkungan yang ramah anak, serta kedekatan dengan fasilitas umum menjadi faktor yang sulit diabaikan saat memilih tempat tinggal.
Biaya pendidikan dan pengasuhan anak juga ikut memengaruhi keputusan tersebut. Tinggal lebih dekat dengan keluarga besar di wilayah pinggiran dapat memberi dukungan untuk aktivitas sehari-hari sekaligus membantu keluarga mengelola beban pengeluaran.
Bukan Sekadar Pindah Lebih Jauh dari Kota
Memilih pinggiran kota bukan berarti penghuni ingin meninggalkan kemudahan hidup urban. Kawasan suburban kini dituntut berkembang sebagai kota mandiri yang mampu memenuhi kebutuhan harian tanpa membuat warga harus selalu bepergian ke pusat kota.
Menurut Cushman & Wakefield, pola ini berkaitan dengan fenomena urban expansion, yakni pertumbuhan kota yang meluas dari pusat menuju wilayah penyangga. Perluasan tersebut mendorong pengembangan kawasan yang menyatukan hunian, area komersial, pendidikan, kesehatan, dan ruang publik.
Pusat kuliner, pasar modern, ruang komunitas, serta layanan kesehatan menjadi fasilitas yang semakin penting dalam kawasan baru. Kehadiran layanan tersebut dapat mengurangi kebutuhan penghuni menempuh perjalanan jauh hanya untuk menjalankan aktivitas rutin.
Sistem kerja hybrid dan jam kerja yang lebih fleksibel turut mengubah cara masyarakat menilai jarak rumah dari kantor. Ketika kehadiran di tempat kerja tidak diperlukan setiap hari, lokasi rumah yang lebih jauh dari pusat bisnis dapat menjadi pilihan yang lebih mudah diterima.
Akses Tetap Menentukan Nilai Kawasan
Meski fasilitas lokal berkembang, konektivitas menuju pusat kota tetap menjadi penentu utama bagi calon pembeli rumah. Jalan tol dan transportasi umum dipandang penting karena berperan memangkas waktu tempuh menuju pusat bisnis maupun kawasan strategis lain.
Pengembangan Paramount Petals menempatkan akses tol langsung sebagai salah satu bagian dari konektivitas kawasan. Direktur Project Management Paramount Land, Cok Putra Tri Utama, menyatakan konstruksi akses tersebut telah mencapai 100 persen dan memasuki tahap Pra Uji Laik Fungsi serta Uji Laik Operasi.
“Kami memastikan seluruh proses konstruksi dan persiapan operasional memenuhi standar sehingga dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat,” ujar Cok Putra Tri Utama. Selain akses tol, kawasan ini juga mengembangkan area komersial, layanan kesehatan, ruang komunitas, pusat kuliner, dan pasar modern.
Perkembangan kawasan pinggiran memperluas makna lokasi strategis bagi keluarga urban. Dekat dengan pusat kota tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran, karena harga yang lebih terjangkau, lingkungan nyaman, fasilitas lengkap, dan akses perjalanan yang layak kini sama-sama menjadi pertimbangan.
