Pilihan HP murah berpotensi makin terbatas pada 2026 ketika biaya chip memori naik tajam. Tekanan ini paling berat dirasakan di kelas entry-level, karena kenaikan biaya sulit dibebankan kepada konsumen yang sangat sensitif terhadap harga.
Omdia memperkirakan pengiriman smartphone dengan banderol di bawah 400 dollar AS akan turun lebih dari 22 persen secara global pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat sejumlah vendor mulai mengurangi fokus pada segmen harga rendah yang marginnya semakin tipis.
Memori Menyerap Porsi Biaya Terbesar
Kenaikan harga chip DRAM dan NAND telah mengubah komposisi biaya pembuatan perangkat secara signifikan. Pada kuartal I-2026, biaya memori mengambil sekitar 59 persen dari total biaya produksi smartphone di bawah 400 dollar AS.
Tekanan bahkan lebih besar pada perangkat yang dijual di bawah 99 dollar AS, dengan kontribusi biaya memori mencapai 64 persen. Sebagai perbandingan, pada kuartal III-2025, porsi biaya tersebut di segmen di bawah 400 dollar AS masih berada di kisaran 31 hingga 32 persen.
| Segmen Harga | Kontribusi Biaya Memori | Periode |
|---|---|---|
| Di bawah 99 dollar AS | 64 persen | Kuartal I-2026 |
| Di bawah 400 dollar AS | 59 persen | Kuartal I-2026 |
| Di bawah 400 dollar AS | 31-32 persen | Kuartal III-2025 |
| Di atas 800 dollar AS | 26 persen | Kuartal I-2026 |
| Di atas 800 dollar AS | 11 persen | Kuartal III-2025 |
Lonjakan harga memori membuat produsen memiliki ruang yang semakin sempit untuk mempertahankan harga jual perangkat rendah. Di kelas ini, komponen lain sudah sulit dipangkas tanpa memengaruhi struktur perangkat dan pengalaman penggunaan.
Vendor Dihadapkan pada Pilihan Sulit
Vendor dapat menaikkan harga, mengurangi spesifikasi komponen, atau meninggalkan sebagian lini produk berharga rendah. Namun, setiap pilihan membawa risiko karena pembeli smartphone murah cenderung cepat menahan pembelian saat harga bergerak naik.
Omdia menilai produk kelas bawah kini makin sulit menghasilkan keuntungan, sehingga produsen mulai mundur secara bertahap dari segmen tersebut. Transsion, Oppo, Vivo, Honor, dan Xiaomi disebut mulai menaikkan harga sejumlah produknya untuk menjaga margin.
Penghematan bisa dilakukan dengan memilih panel layar, sensor kamera, atau modul frekuensi radio yang lebih murah. Akan tetapi, strategi itu tidak mudah diterapkan pada perangkat entry-level karena struktur biayanya telah sangat ketat sejak awal.
Situasi ini dapat mempersempit pilihan bagi konsumen yang mencari perangkat dengan harga paling terjangkau. Penurunan pengiriman di bawah 400 dollar AS juga diperkirakan menjadi faktor utama penyusutan pasar secara keseluruhan.
Segmen Premium Masih Lebih Tahan
Berbeda dengan kelas bawah, smartphone berharga di atas 400 dollar AS diproyeksikan masih tumbuh sekitar 5,7 persen pada 2026. Konsumen premium dinilai lebih mampu menerima kenaikan harga, sehingga produsen memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengelola lonjakan biaya komponen.
Pada perangkat di atas 800 dollar AS, biaya memori memang ikut meningkat menjadi 26 persen dari total biaya produksi pada kuartal I-2026. Meski begitu, porsinya masih lebih rendah dibandingkan segmen termurah dan produsen masih memiliki opsi penghematan pada komponen lain.
Beberapa langkah yang dapat ditempuh di kelas premium mencakup penggunaan panel OLED LTPS sebagai pengganti LTPO pada model tertentu, sensor kamera yang lebih kecil, serta chipset generasi sebelumnya. Fleksibilitas tersebut membuat tekanan terhadap perangkat mahal tidak sebesar yang dialami produk entry-level.
Secara keseluruhan, Omdia memproyeksikan pasar smartphone global menyusut sekitar 12 persen pada 2026. Arah pasar ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya memori bukan hanya persoalan produksi, tetapi juga dapat mengubah ketersediaan perangkat murah di pasaran.
Source: tekno.kompas.com






