Hamas akan menentukan ketua biro politik baru melalui putaran kedua pemilihan yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Keputusan itu diambil ketika kelompok tersebut masih menghadapi dampak besar perang di Jalur Gaza serta kehilangan sejumlah tokoh puncaknya.
Dua nama senior mengerucut sebagai kandidat terakhir, yakni Khaled Meshaal dan Khalil Al Hayya. Pemenang akan memegang mandat kepemimpinan hingga 2027 dan menggantikan dewan transisi yang selama ini menjalankan tugas sementara.
Pemilihan ini menjadi ujian penting bagi kemampuan Hamas menjaga kesinambungan struktur organisasinya di tengah tekanan militer dan perubahan berulang di jajaran pimpinan. Ketua baru nantinya tidak hanya mengisi posisi kosong, tetapi juga memimpin agenda politik, pemerintahan, serta negosiasi yang berjalan selama perang.
Menurut sumber Hamas yang dikutip Al Jazeera, Meshaal dan Al Hayya menjadi dua kandidat yang tersisa dalam proses tersebut. Keduanya membawa basis pengalaman yang berbeda di dalam struktur Hamas yang mencakup Gaza, Tepi Barat, dan diaspora di luar negeri.
Dua Kandidat dari Latar Berbeda
| Kandidat | Latar Posisi | Ketentuan Putaran Kedua |
|---|---|---|
| Khaled Meshaal | Mantan pemimpin politik Hamas dan pernah memimpin sayap diaspora | Menjadi kandidat ketua biro politik |
| Khalil Al Hayya | Mantan wakil ketua dan perwakilan dari Gaza | Jika tidak menang, akan ditempatkan sebagai wakil kepala politik |
Khaled Meshaal dikenal sebagai mantan pemimpin politik Hamas yang sebelumnya juga memimpin sayap diaspora organisasi tersebut. Sementara itu, Khalil Al Hayya datang dari Gaza dan pernah menjabat sebagai wakil ketua.
Perbedaan latar keduanya mencerminkan pembagian representasi wilayah yang telah lama menjadi bagian dari mekanisme internal Hamas. Struktur itu dirancang untuk mengakomodasi anggota di Gaza, Tepi Barat, serta komunitas Hamas yang berada di luar negeri.
Untuk memenangi jabatan tertinggi itu, seorang kandidat harus meraih mayoritas 50 persen ditambah satu suara di Dewan Syura. Lembaga konsultatif tersebut memegang peran utama dalam pengambilan keputusan politik dan strategis Hamas.
Dewan Syura dibentuk melalui wakil anggota Hamas dari Gaza, Tepi Barat, dan wilayah luar negeri. Perwakilan dari masing-masing wilayah kemudian membentuk Dewan Syura Pusat yang bertugas memilih pemimpin organisasi.
Aturan Representasi Wilayah
Aturan internal yang digunakan sejak 2021 mengatur komposisi wilayah dalam jajaran kepemimpinan tertinggi Hamas. Dua posisi puncak harus mencakup perwakilan dari Gaza, sementara dua posisi lain diperuntukkan bagi Tepi Barat dan diaspora.
Kerangka itu kembali relevan dalam pemilihan kali ini karena salah satu kandidat berasal dari diaspora dan kandidat lainnya mewakili Gaza. Hasil putaran kedua akan menentukan siapa yang memimpin biro politik, sekaligus bagaimana pembagian jabatan puncak berikutnya dijalankan.
Pemilihan internal Hamas pada awal 2021 menghasilkan susunan yang berbeda dari kondisi saat ini. Ismail Haniyeh kala itu terpilih sebagai kepala biro politik, Yahya Sinwar kembali memimpin Gaza, sedangkan Meshaal memimpin sayap diaspora.
Namun susunan tersebut berubah drastis setelah Israel meningkatkan serangan terhadap jajaran politik dan militer Hamas. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menargetkan berbagai tingkat komando kelompok itu dengan ambisi memusnahkan Hamas.
Rangkaian Kehilangan di Jajaran Puncak
Ismail Haniyeh tewas dibunuh di Teheran pada Juli 2024. Dewan Syura kemudian menunjuk Yahya Sinwar sebagai penggantinya pada Agustus 2024.
Sinwar hanya memegang jabatan itu selama sekitar dua bulan sebelum tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel di Rafah. Sebelum kematiannya, ia juga dikenal sebagai pemimpin Hamas di Gaza dan pelaksana tugas kepala biro politik.
Setelah Sinwar tewas, Hamas membentuk dewan kepemimpinan sementara yang terdiri dari lima orang. Komite transisi itu secara nominal dipimpin pejabat berbasis di Qatar, Mohammad Darwish, untuk menangani pemerintahan dan negosiasi selama perang.
Analis politik Palestina Wissam Afifa menggambarkan pola kerja Hamas seperti proses biologis “pembelahan mitosis”, ketika satu sel membelah menjadi dua sel identik. Menurutnya, prosedur darurat dan rencana cadangan membuat lapisan administrasi serta kepemimpinan sekunder dapat mengambil alih saat krisis terjadi.
Pemenang pemilihan kali ini akan menghadapi tantangan yang jauh melampaui pengisian kursi ketua biro politik. Ia akan memikul tanggung jawab terkait rekonstruksi pascaperang dan hubungan Hamas dengan faksi Palestina lain, termasuk Fatah.
Putaran kedua ini menjadi penanda upaya Hamas mempertahankan rantai komando di tengah perang dan perubahan cepat di tingkat elite. Siapa pun yang terpilih akan menjalankan mandat hingga pemilihan berikutnya pada 2027.
