Donald Trump menampilkan dokumen internal FBI dalam pidato primetime di Gedung Putih dan mengaitkannya dengan dugaan adanya “shadow government” di lembaga tersebut. Tuduhan itu kembali menempatkan cara FBI menangani informasi intelijen sensitif sebagai pusat kritik politik Trump.
Materi yang disorot terutama berupa komunikasi internal serta penarikan kembali sebuah laporan intelijen. Laporan itu berkaitan dengan dugaan aktivitas China untuk memengaruhi pemilu di Amerika Serikat.
Dokumen yang Ditampilkan Trump
Trump mengatakan dokumen tersebut memuat percakapan para pejabat FBI mengenai penanganan informasi yang dinilai sensitif. Salah satu nama yang disebut ialah Nikki Floris, pejabat FBI yang oleh Trump dikaitkan dengan pernyataan mengenai pemerintahan bayangan di dalam lembaga itu.
Menurut kutipan yang dimuat NY Post, Trump berkata, “Dia menulis bahwa dirinya pada dasarnya menjalankan pemerintahan bayangan di FBI.” Pernyataan tersebut menjadi dasar utama Trump dalam menuding adanya kekuatan internal yang bekerja di luar jalur yang ia anggap semestinya.
Gedung Putih disebut merilis dokumen tersebut setelah pidato Trump berlangsung. Isi dokumen memperlihatkan adanya laporan intelijen yang kemudian ditarik kembali, meski rincian penilaian akhir terhadap laporan itu tidak dijabarkan secara lengkap.
Isu China dalam Laporan Intelijen
Topik China muncul dalam dokumen yang dibahas Trump melalui laporan mengenai dugaan upaya memengaruhi Pemilu AS 2020. Namun, informasi yang disampaikan berfokus pada perdebatan internal seputar pengolahan laporan tersebut, bukan pada pengumuman temuan intelijen baru.
Sejumlah email internal juga disebut memperlihatkan perbedaan pandangan mengenai isi Presidential Daily Brief atau PDB. PDB merupakan materi intelijen harian yang menjadi bagian dari pembahasan pada tingkat presiden.
Salah satu pejabat dalam komunikasi itu disebut menulis bahwa laporan tersebut sengaja “diolah” agar tidak secara langsung mengaitkannya dengan pemilu. Detail ini dipakai Trump untuk memperkuat kritik terhadap penanganan informasi mengenai dugaan campur tangan asing.
Dokumen yang dibahas tidak menjelaskan lebih jauh hasil akhir penilaian intelijen mengenai dugaan aktivitas China tersebut. Karena itu, tudingan Trump berpusat pada proses internal dan keputusan penarikan laporan, bukan pada kesimpulan baru soal keterlibatan pihak asing.
Pemilu 2020 Kembali Disorot
Trump juga kembali mengangkat pemilu 2020 yang dimenangi Joe Biden dalam pidatonya. Ia menilai informasi mengenai dugaan campur tangan asing semestinya disampaikan secara lebih terbuka pada periode tersebut.
Salah satu komunikasi yang dikutip dalam dokumen menyatakan bahwa informasi itu seharusnya dapat memperjelas keterlibatan China dalam upaya memengaruhi pemilu. Pernyataan itu muncul sebagai bagian dari percakapan internal yang ditampilkan Trump, bukan sebagai uraian temuan baru yang dijelaskan terpisah.
Pidato di Gedung Putih tersebut dihadiri sekitar 55 orang di East Room. Wakil Presiden JD Vance dan sejumlah anggota kabinet termasuk di antara pejabat yang hadir dalam penyampaian pernyataan itu.
Dengan kembali mengungkit FBI, penanganan intelijen, dan pemilu 2020, Trump menegaskan bahwa isu tersebut tetap menjadi bagian penting dari kritik politiknya. Fokus kali ini tertuju pada dugaan bahwa informasi tentang China tidak ditampilkan secara terbuka dalam proses internal FBI.
