Grup K langsung menarik perhatian karena menghadirkan empat tim dari empat konfederasi berbeda, tetapi hanya dua nama yang terlihat paling siap bersaing ke fase gugur. Portugal dan Kolombia dipandang sebagai pasangan terkuat, sementara Republik Demokratik Kongo dan Uzbekistan datang dengan tantangan yang jauh lebih besar.
Di atas kertas, jarak kekuatan di grup ini cukup jelas. Portugal berada di peringkat FIFA 5, disusul Kolombia di 13, RD Kongo di 46, dan Uzbekistan di 50.
Portugal datang dengan pengalaman dan fleksibilitas
Portugal membawa modal paling lengkap di Grup K, baik dari sisi pengalaman maupun kedalaman skuad. Tim asuhan Roberto Martinez itu sudah sembilan kali tampil di Piala Dunia dan disebut punya peluang realistis untuk melangkah jauh, bahkan sampai perempat final.
Martinez menilai Piala Dunia 2026 berbeda dari turnamen lain karena digelar di tiga negara dan melibatkan 48 tim. Ia menyebut ajang ini sebagai turnamen yang paling “buas”, karena hasil pertandingan bisa dipengaruhi banyak faktor di luar kualitas permainan.
Pelatih asal Spanyol itu juga menekankan bahwa keberuntungan, adu penalti, dan keputusan di sepertiga akhir sering menjadi pembeda. Ia sejalan dengan pandangan Carlo Ancelotti bahwa tim paling tangguh lebih sering menang ketimbang tim terbaik.
Dari sisi taktik, Portugal dikenal fleksibel. Martinez bisa memakai 4-4-3, 4-2-3-1, atau 3-4-2-1, dengan pemain seperti Nuno Mendes, Bruno Fernandes, dan Bernardo Silva menjadi bagian penting dari rencana permainan.
Kolombia membawa status underdog yang berbahaya
Kolombia datang sebagai tim yang tidak sekuat Portugal di atas kertas, tetapi justru punya potensi membuat kejutan. Mereka punya sejarah manis di Piala Dunia 2014 ketika melaju sampai perempat final sebelum dihentikan Brasil.
Status underdog dari Amerika Selatan itu bisa menjadi keuntungan tersendiri. Dengan Brasil dan Argentina lebih difavoritkan di level benua, Kolombia berpeluang tampil lebih lepas tanpa tekanan besar.
Laga melawan Portugal diperkirakan menjadi penentu penting di Grup K. Kolombia masih bisa mengincar posisi puncak jika Portugal terpeleset dalam satu pertandingan.
Skuad Kolombia akan dipimpin James Rodriguez, yang disebut menjalani Piala Dunia terakhirnya sebelum pensiun. Ia pernah menjadi bintang utama saat meraih Sepatu Emas Piala Dunia 2014 dengan enam gol, dan total sudah mencetak 31 gol untuk timnas Kolombia.
Nestor Lorenzo, pelatih asal Argentina yang pernah tampil di Piala Dunia 1990 sebagai bek, membawa Kolombia ke final Copa America 2024 dan lolos ke Piala Dunia meski melewati kualifikasi yang tidak mulus. Formasi favoritnya adalah 4-2-3-1, dengan bek agresif membantu serangan dan gelandang kreatif sebagai poros utama.
RD Kongo menghadapi euforia dan hambatan
RD Kongo melangkah ke Piala Dunia 2026 secara dramatis setelah mengalahkan Jamaika 1-0 di playoff. Kemenangan itu memberi kebahagiaan besar bagi rakyat yang sudah lama hidup dalam tekanan perang saudara.
Keberhasilan tersebut bahkan ikut meredakan ketegangan antara pemerintah dan pemberontak M23, yang sama-sama menyampaikan ucapan selamat atas kelolosan tim nasional. Namun, perjalanan menuju turnamen terbesar sepak bola dunia ini tetap tidak mudah.
Wabah ebola membuat rencana pemusatan latihan di Kinshasa dibatalkan dan dipindahkan ke Belgia. Pemerintah Amerika Serikat juga mewajibkan tim Kongo diisolasi selama 21 hari sebelum masuk ke negara itu, sehingga persiapan mereka menjadi semakin rumit.
Pelatih Sebastien Desabre menekankan permainan kolektif dan semangat pantang menyerah ketimbang perdebatan skema. RD Kongo biasanya memakai 4-2-3-1 atau 4-4-2, dengan kekuatan utama dari para pemain diaspora yang berkarier di Eropa.
Nama-nama seperti Yoane Wissa, Aaron Wan-Bissaka, Axel Tuanzebe, dan Noah Sadiki menjadi bagian penting dari skuad. Di lini belakang dan depan, ada Chancel Mbemba yang sudah lebih dari 100 kali membela timnas serta Cedric Bakambu sebagai andalan serangan.
Uzbekistan mencoba menghapus label debutan
Uzbekistan datang ke Piala Dunia untuk pertama kalinya, tetapi status debutan tidak otomatis membuat mereka mudah disingkirkan. Sebagian besar pemain memang tampil di liga lokal, namun beberapa sudah merasakan sepak bola Eropa.
Abbosbek Fayzullayev dan Eldor Shomurodov bermain di Liga Turki, sedangkan Abdukodir Khusanov menanjak bersama Manchester City. Modal itu membuat Uzbekistan tetap punya ancaman meski pengalaman mereka sangat minim.
Tim berjuluk Serigala Putih itu kini ditangani Fabio Cannavaro, legenda Italia dan kapten saat negaranya menjuarai Piala Dunia 2006. Ia menggantikan Timur Kapadze, sosok yang berperan besar membawa Uzbekistan lolos ke putaran final untuk pertama kalinya.
Pergantian pelatih ini sempat memunculkan kontroversi karena soal preferensi taktik. Kapadze dikenal mengusung sepak bola menyerang, sedangkan Cannavaro dinilai lebih cocok dengan pendekatan bertahan yang dianggap menguntungkan Uzbekistan di Piala Dunia.
Dengan organisasi permainan yang lebih rapi dan disiplin, Uzbekistan berharap bisa menutup jarak dengan lawan-lawannya di Grup K. Mereka mungkin belum sekuat Portugal dan Kolombia, tetapi justru itulah yang membuat grup ini menarik untuk diikuti sampai akhir.
Source: www.kompas.id






