Bukan Kayu, Gigi Palsu George Washington Menyimpan Jejak Kelam Perbudakan

Author: Cung Media

Mitos bahwa gigi palsu George Washington dibuat dari kayu telah bertahan lama, tetapi fakta di baliknya jauh lebih mengganggu. Salah satu bahan yang diduga terkait dengan alat tersebut adalah gigi manusia, termasuk gigi yang dibeli dari orang-orang yang diperbudak di propertinya.

Kisah ini memperlihatkan sisi lain teknologi medis abad ke-18 yang kerap dipandang sebagai kemajuan bagi kalangan elite. Bagi Washington, gigi palsu bukan hanya alat untuk mengunyah atau berbicara, melainkan juga penopang citra di hadapan publik.

Gigi yang hilang sejak usia muda

Washington mulai kehilangan gigi sejak berusia 24 tahun, meski ia dikenal cukup rutin merawat kebersihan mulut. Ia membeli sikat gigi, pasta serta bubuk gigi, dan tingtur mur yang digunakan menyerupai obat kumur awal.

Penyebab pasti kerusakan giginya tidak pernah dipastikan. Washington pernah mengaitkannya dengan kebiasaan memecahkan kenari menggunakan gigi, sementara cacar yang dideritanya di Barbados pada 1751 juga diduga ikut memperburuk kondisinya.

Kayla Johnson dari The Collector menulis bahwa perawatan cacar pada abad ke-18 sering melibatkan penggunaan merkuri secara intensif. Catatan keuangan menunjukkan Mary Washington, ibu George Washington, membeli merkuri setidaknya pada 1752 untuk mengobati bekas luka cacar putranya.

Perawatan itu disebut dapat menyebabkan gigi rontok, meski tidak ada kepastian bahwa merkuri menjadi penyebab utama masalah gigi Washington. Seiring waktu, ia terus kehilangan gigi hingga memakai gigi palsu lengkap setelah gigi terakhirnya tanggal pada 1796.

Bukan kayu, melainkan campuran bahan yang tak lazim

Gigi palsu pada masa itu merupakan teknologi yang relatif maju dan mahal. Perangkat tersebut dirancang untuk menciptakan kesan bahwa pemakainya masih memiliki susunan gigi asli, sebuah kemewahan yang tidak mudah diakses banyak orang.

Bagian Material yang digunakan
Gigi tiruan Gigi manusia, gigi kuda, gigi sapi, dan gading
Bahan gading Gading kuda nil dan gading walrus
Dasar perangkat Timah dengan kawat kuningan
Mekanisme penyangga Pegas emas pada sejumlah set

Kayu justru disebut sebagai satu-satunya bahan yang tidak pernah digunakan untuk gigi palsu Washington. Dokter gigi pada era tersebut lebih menyukai gigi kuda nil karena dianggap lebih tahan terhadap noda dan pembusukan.

Set lengkap yang masih tersisa memperlihatkan gigi manusia, gigi kuda, dan gading yang dipasang pada dasar timah dengan kawat kuningan. Warna perangkat yang menggelap kemudian ikut memelihara anggapan keliru bahwa bahan dasarnya adalah kayu.

Washington diketahui tetap minum anggur port ketika mengenakan gigi palsunya. Kebiasaan itu membuat bagian gigi tiruan tampak lebih gelap dan kusam dari waktu ke waktu.

Catatan pembayaran yang memunculkan pertanyaan

Washington menyimpan gigi asli yang copot agar dapat dipakai kembali dalam perangkat pesanannya. Namun, asal sebagian gigi manusia lain yang digunakan dalam gigi palsu tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.

Pada Mei 1784, catatan yang disorot Kompas.com menyebut Washington membayar 122 shilling kepada beberapa orang yang diperbudak di propertinya untuk sembilan gigi. Nama orang-orang tersebut tidak tercantum, sehingga tidak ada kepastian mengenai perjalanan gigi itu setelah transaksi dilakukan.

Sejumlah sejarawan menduga gigi tersebut dipakai dalam pesanan gigi palsu yang dikerjakan Jean-Pierre Le Mayeur, dokter gigi asal Prancis yang dekat dengan Washington. Kemungkinan lainnya, gigi itu digunakan dalam upaya pencangkokan gigi yang tidak berhasil.

Praktik jual beli gigi manusia memang dikenal pada abad ke-18 di Amerika Serikat. Sebuah iklan pada 1787 di Virginia Independent Chronicle bahkan mencari orang kulit putih maupun kulit hitam yang bersedia menjual gigi depan mereka, dengan pengecualian bagi budak.

Catatan pembayaran Washington menunjukkan realitas yang lebih kelam karena transaksi itu justru melibatkan orang-orang yang diperbudak di lahannya. Meski hubungan langsung antara sembilan gigi tersebut dan perangkat Washington belum dapat dipastikan, catatan itu tetap menjadi bagian penting dalam sejarah Gigi Palsu George Washington.

Alat medis sekaligus penopang penampilan

Gigi palsu abad ke-18 tidak senyaman perangkat modern, bahkan pengguna umumnya tidak disarankan makan atau minum saat memakainya. Washington mengikuti anjuran untuk tidak makan dengan alat itu, dan peralatannya saat makan malam pernah digambarkan bergerak “seperti stik drum”.

Meski tidak ideal untuk aktivitas sehari-hari, perangkat tersebut membantu Washington berbicara lebih jelas di depan umum. Peran sebagai panglima dan kemudian presiden menuntut penampilan fisik serta kemampuan berbicara yang meyakinkan.

Beberapa orang sezaman mencatat bahwa ucapannya kadang sulit dipahami, tetapi ada pula yang menilai ia tetap fasih saat berbicara. Potret Gilbert Stuart juga mengabadikan rahang Washington yang sedikit menonjol, efek fisik dari gigi palsu yang akhirnya ikut dikenal luas melalui gambar pada uang kertas dolar AS.

Terbaru