Gencatan Senjata AS-Iran Diuji di Selat Hormuz, Kapal Niaga Tetap Dikawal Ketat

Pengawalan kapal niaga oleh Amerika Serikat di Selat Hormuz kini menjadi ujian paling nyata bagi gencatan senjata yang rapuh dengan Iran. Di saat Washington berusaha menjaga jalur pelayaran tetap terbuka, Teheran justru melancarkan serangan baru yang menambah tekanan di kawasan paling sensitif di Timur Tengah.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan gencatan senjata masih berlaku untuk saat ini. Namun ia menegaskan operasi pengawalan kapal yang disebut Project Freedom bersifat terpisah, sementara, dan bisa berubah jika situasi kembali memburuk.

Jalur strategis yang makin rawan

Project Freedom digelar untuk membantu kapal dagang melintasi Selat Hormuz di tengah ancaman Iran. Pada operasi pertama, kapal perang dan pesawat AS mengawal dua kapal dagang, sementara Iran membalas dengan rentetan rudal, drone serang, dan kapal kecil.

Presiden Donald Trump mengatakan tujuh atau delapan kapal kecil milik Iran dihancurkan dalam bentrokan itu. Komando Pusat AS kemudian menyebut 51 kapal telah diarahkan untuk berbalik atau kembali ke pelabuhan di bawah blokade AS terhadap pelabuhan Iran dan kapal yang terkait Iran.

Dalam operasi ini, kapal-kapal diarahkan lewat jalur selatan yang menempel ke pesisir Oman, bukan rute tengah selat. Pendekatan itu dipilih karena ada dugaan ranjau laut di jalur utama, sementara Iran sebelumnya meminta kapal memakai jalur utara dan hanya setelah mendapat izin militer Iran.

Maersk mengonfirmasi bahwa salah satu kapal yang dikawal AS keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz pada Senin. Perusahaan itu menyebut kapal berbendera AS, ALLIANCE FAIRFAX, keluar bersama aset militer AS dan transit berlangsung tanpa insiden.

Benturan tidak berhenti di laut

Di saat yang sama, Uni Emirat Arab melaporkan serangan rudal dan drone dari Iran untuk hari kedua berturut-turut. Otoritas UEA mengatakan serangan pada Senin melibatkan 15 rudal Iran dan sejumlah drone, serta melukai sedikitnya tiga pekerja.

Kementerian Pertahanan UEA pada Selasa mengatakan pertahanan udaranya kembali menghadapi ancaman rudal dan UAV yang berasal dari Iran. Serangan itu juga memicu kebakaran di kompleks industri Fujairah dan memperkuat kekhawatiran bahwa konflik tidak lagi terbatas pada AS dan Iran saja.

Iranian news agency Fars justru mengklaim dua kapal dagang berbendera AS kandas di perairan dangkal dan berbatu di lepas pantai Oman. Namun penjelasan dari Strauss Center for International Security and Law menyebut selat itu dalam dan relatif bebas bahaya pelayaran, bahkan zona pelayaran di selatan Pulau Didimar cukup dalam untuk kapal besar.

Washington masih menahan eskalasi besar

Hegseth mengatakan pihaknya mengawasi langkah Teheran dengan sangat ketat. Ia menyebut militer AS masih siap memulai kembali operasi tempur besar bila diperlukan, tetapi menilai bentrokan yang terjadi sejauh ini belum melewati ambang itu.

Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal Dan Caine mengatakan pasukan AS tetap siap kembali ke operasi tempur besar jika diperintahkan. Ia menambahkan bahwa lebih dari 100 pesawat berada di udara untuk perlindungan dan lebih dari 15.000 personel AS terlibat dalam pengamanan itu.

Caine juga mengatakan Iran telah menyerang pasukan AS lebih dari 10 kali sejak gencatan senjata diumumkan. Menurut dia, serangan Iran terhadap kapal dagang juga terjadi sembilan kali dan dua kapal kontainer telah disita, tetapi semuanya masih berada di bawah ambang eskalasi besar.

Negara kawasan ikut waspada

Saudi Arabia menyerukan de-eskalasi, penahanan diri, dan solusi diplomatik di tengah eskalasi militer di kawasan. Riyadh juga menekankan pentingnya mengembalikan navigasi internasional di Selat Hormuz ke kondisi normal agar semua kapal mendapat lintasan aman tanpa pembatasan.

Jerman juga ikut bergerak dengan mengirim kapal penyapu ranjau ke Mediterania sebagai persiapan bila dibutuhkan untuk misi internasional membersihkan Selat Hormuz. Namun Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius mengatakan pengerahan penuh masih bergantung pada berakhirnya permusuhan antara Iran, AS, dan Israel.

Prancis dan Inggris turut memimpin upaya membangun koalisi negara yang bersedia membantu menjaga selat tetap aman dan dapat dilalui. Upaya ini muncul di tengah kritik Trump terhadap sekutu NATO yang dinilai tidak mau ikut langkah ofensif terhadap Iran.

Retorika Teheran makin keras

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baqaei, menegaskan Iran tidak punya permusuhan terhadap negara-negara Arab di Teluk. Ia sekaligus memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak bergantung pada apa yang disebutnya keamanan impor.

Baqaei juga menyebut kehadiran militer AS sebagai satu-satunya sumber ketidakamanan di kawasan. Dalam pernyataan terpisah, ia menegaskan semua tindakan Iran bersifat defensif dan ditujukan pada aset serta pangkalan militer AS yang dipakai untuk operasi ضد Iran.

Nada serupa datang dari pejabat senior IRGC yang mengatakan Iran belum memulai sepenuhnya dalam perseteruan ini. Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga ketua parlemen Iran, mengatakan status quo tidak tertahankan bagi Amerika Serikat dan pengaruh pihak-pihak yang ia sebut bermusuhan terhadap keamanan pelayaran akan menyusut.

Dampaknya menjalar ke wilayah lain

Amerika Serikat juga memperbarui seruan agar warganya segera keluar dari Irak. Kedutaan Besar AS di Baghdad menyebut masih ada risiko dari rudal, drone, dan roket di wilayah udara Irak, sementara milisi yang selaras dengan Iran disebut terus merencanakan serangan tambahan.

Di sisi lain, Irak telah membuka kembali wilayah udaranya dengan penerbangan komersial terbatas. Kedutaan AS tetap mengingatkan agar warga tidak bepergian ke Irak dan berangkat sekarang bila masih berada di sana.

Konflik ini juga menyentuh Korea Selatan setelah kapal kargo HMM Namu terkena serangan di Selat Hormuz. Seoul mengatakan akan meninjau posisinya terkait partisipasi dalam operasi pengamanan jalur pelayaran AS setelah Trump mendesak Korea Selatan ikut serta.

Kementerian Luar Negeri Korea Selatan menyebut seluruh 24 awak kapal selamat dan api di kapal sudah padam. Sementara itu, kapal tersebut dilaporkan tak bisa bergerak sendiri setelah kebakaran memutus sumber daya utama, dan sedang menunggu ditarik ke pelabuhan Dubai.

Meski ketegangan meningkat, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pembicaraan dengan AS masih bergerak maju. Ia juga mengkritik Project Freedom dan menilai tidak ada solusi militer untuk krisis politik, saat pengawalan kapal niaga dan serangan baru membuat gencatan senjata itu terlihat semakin rentan.

Baca Juga

Back to top button